LPKAPNEWS.COM, JAKARTA — Muhammadiyah terus
melanjutkan aksi layanan kemanusiaan bagi penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara
Timur (NTT) yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Respons kemanusiaan tersebut
dilakukan melalui kolaborasi Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah
Disaster Management Center (MDMC) dan Lazismu, 4 September 2026.
Sejak awal bencana, Muhammadiyah memobilisasi sumber daya
dari berbagai daerah untuk memberikan layanan kepada masyarakat terdampak.
Respons awal dilakukan melalui Pos Koordinasi Wilayah yang berlokasi di Klinik
Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara,
Kabupaten Ende.
Pos Koordinasi Wilayah tersebut berfungsi sebagai pusat
perencanaan, koordinasi, dan evaluasi aksi layanan kemanusiaan. Hingga saat ini,
Muhammadiyah telah mendirikan tujuh Pos Koordinasi Daerah di tujuh kabupaten
terdampak serta 10 Pos Pelayanan untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan
bantuan.
Dalam mendukung respons bencana, Muhammadiyah menjalankan
sejumlah klaster layanan prioritas, meliputi layanan kesehatan, layanan
nonkesehatan, dan layanan logistik.
Pada sektor kesehatan, Muhammadiyah mengerahkan Emergency
Medical Team (EMT) Type-1 Fixed dan EMT Mobile. EMT Type-1 Fixed terdiri atas
50 personel dan mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai
Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Tim EMT Muhammadiyah bekerja sama dengan Kementerian
Kesehatan RI dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.
Sementara itu, EMT Mobile dikerahkan untuk menjangkau lokasi-lokasi pengungsian
yang tidak terjangkau layanan kesehatan tetap. Tim ini melibatkan tenaga medis
dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia.
Hingga 3 September 2026, layanan kesehatan Muhammadiyah
telah menangani 7.225 penyintas. Mereka terdiri atas 85 pasien bayi, 229
balita, 266 anak, 150 remaja, 2.173 dewasa, 22 ibu hamil, dan 799 lansia
berdasarkan kelompok usia yang tercatat dalam layanan EMT.
Dari pemeriksaan yang dilakukan di rumah sakit lapangan,
sejumlah diagnosis yang banyak ditemukan di antaranya infeksi saluran
pernapasan sebanyak 437 kasus, nyeri otot dan pegal-pegal 372 kasus, hipertensi
233 kasus, rasa tidak nyaman atau nyeri di sekitar perut 186 kasus, serta sakit
kepala dan nyeri leher hingga tengkuk sebanyak 153 kasus.
Selain layanan kesehatan, Muhammadiyah memberikan layanan
nonkesehatan berupa dapur umum yang telah melayani 1.750 jiwa. Muhammadiyah
juga membangun fasilitas sanitasi dan air bersih di dua titik serta memberikan
layanan psikososial kepada 1.773 jiwa.
Dukungan bagi penyintas juga dilakukan melalui distribusi
berbagai bantuan logistik, antara lain mobil dapur umum, mobil taktis, 500
paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng RendangMu, serta terpal
sepanjang 500 meter. Dukungan logistik dan obat-obatan juga diberikan oleh tim
EMT Mobile dari Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Lazismu Himpun Rp6,09 Miliar
Dalam mendukung aksi kemanusiaan tersebut, Lazismu
menghimpun dana melalui program Indonesia Siaga untuk respons gempa bumi NTT.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelumnya menerbitkan Surat
Edaran Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tertanggal 20 Agustus 2026 yang menginstruksikan
masjid-masjid Muhammadiyah untuk melakukan penggalangan infak Salat Jumat bagi
korban bencana gempa bumi di NTT. Penggalangan tersebut dilaksanakan pada
Jumat, 21 Agustus 2026.
Hingga 3 September 2026, dana yang berhasil dihimpun
tercatat sebesar Rp6.099.163.820. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp3.455.958.814
telah disalurkan untuk mendukung aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah di NTT.
Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, menyampaikan
apresiasi kepada seluruh relawan Muhammadiyah yang terlibat dalam respons
bencana serta para donatur dan jamaah Salat Jumat yang telah memberikan
kepercayaan melalui dukungan donasi.
“Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan
Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan. Tentu kami juga
berterima kasih kepada para donatur dan jamaah Salat Jumat atas kepercayaannya,
sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT
dapat terus dilanjutkan,” ujar Barry pada Jumat (4/9).
Ia menegaskan, Lazismu akan terus memantau dan
mengevaluasi pelaksanaan program Indonesia Siaga di NTT. Dana yang dihimpun
dari masyarakat akan dioptimalkan untuk mendukung proses pemulihan masyarakat
terdampak, termasuk hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Insyaallah, dukungan ini akan terus dilanjutkan untuk
membangun ketangguhan masyarakat dan membantu penyintas bangkit dari dampak
bencana,” imbuhnya.
Masyarakat dapat terus mendukung aksi layanan kemanusiaan
Muhammadiyah untuk penyintas gempa bumi NTT melalui donasi.lazismu.org/bantuanbencana dan
memantau perkembangan respons melalui lazismu.org/dashboardresponntt.
Sumber, Muhammadiyah or id
