TBC Modern Mengepung Muhammadiyah? Ketika Narasi Anti-TBC Dibungkus dengan Bahasa Intelektual
LPKAPNEWS.COM - Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan tajdid yang berupaya membersihkan kehidupan umat Islam dari praktik-praktik TBC (Tahayul, Bid'ah, dan Khurafat). Perjuangan ini bukanlah perjuangan yang lahir dari kebencian kepada tradisi, melainkan lahir dari semangat mengembalikan umat kepada kemurnian Al-Qur'an dan Sunnah.
Namun, tantangan yang dihadapi Muhammadiyah hari ini tidak selalu datang secara terbuka. Sebagian muncul dengan wajah baru, bahasa baru, dan strategi baru. Jika dahulu TBC hadir secara terang-terangan dalam bentuk ritual dan keyakinan yang menyimpang, kini sebagian tampil dengan kemasan akademik, intelektual, budaya, toleransi, moderasi, hingga narasi kebangsaan.
Akibatnya, banyak warga Muhammadiyah yang tidak menyadari bahwa sebagian gagasan yang ditawarkan sesungguhnya sedang menghidupkan kembali unsur-unsur yang sejak dahulu diperangi oleh para pendiri Muhammadiyah.
TBC Tidak Pernah Mati, Hanya Berganti Kemasan
TBC adalah penyakit pemikiran dan keyakinan yang selalu berusaha mencari ruang hidup.
Kadang ia muncul dalam bentuk kultus individu.
Kadang ia muncul dalam bentuk pengagungan kuburan.
Kadang ia muncul dalam bentuk pencarian berkah kepada benda-benda tertentu.
Kadang ia muncul dalam bentuk ritual yang tidak memiliki landasan yang kuat dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Kini sebagian TBC tampil dengan wajah yang lebih modern.
Ia tidak lagi berbicara dengan bahasa awam semata, tetapi dengan istilah-istilah akademik yang terdengar canggih.
Ia berbicara tentang kearifan lokal, spiritualitas, pluralitas tafsir, rekonsiliasi budaya, dekonstruksi pemikiran, dan berbagai istilah lain yang sering membuat masyarakat awam terkagum-kagum.
Padahal substansinya tetap sama: menjauhkan umat dari kemurnian tauhid dan ittiba' kepada Rasulullah ï·º.
Mengapa Muhammadiyah Menjadi Sasaran?
Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai salah satu benteng terbesar gerakan pemurnian Islam di Indonesia.
Karena itu, pihak-pihak yang tidak nyaman dengan semangat pemurnian sering kali berusaha mengubah arah gerakan ini dari dalam.
Caranya bukan dengan menyerang secara frontal.
Mereka masuk melalui narasi.
Mereka masuk melalui opini.
Mereka masuk melalui forum diskusi.
Mereka masuk melalui media sosial.
Mereka masuk melalui pengaruh intelektual.
Mereka berusaha menanamkan persepsi bahwa perjuangan anti-TBC sudah tidak relevan.
Mereka mengatakan bahwa masalah tahayul, bid'ah, dan khurafat sudah selesai.
Mereka menganggap kritik terhadap praktik-praktik tersebut sebagai sesuatu yang tidak toleran.
Padahal fakta di lapangan menunjukkan bahwa berbagai bentuk penyimpangan aqidah dan ibadah masih terus berkembang.
Narasi Anti-Wahabi Sebagai Senjata Lama
Salah satu strategi yang sering digunakan adalah menghidupkan kembali isu "Wahabi".
Muhammadiyah sejak zaman KH Ahmad Dahlan hingga hari ini sering dituduh sebagai Wahabi.
Tuduhan itu sudah berlangsung lebih dari satu abad.
Ironisnya, sebagian orang yang hidup, berkarier, dan memperoleh manfaat dari lingkungan Muhammadiyah justru ikut menggemakan sentimen anti-Wahabi tersebut.
Padahal yang menjadi pertanyaan mendasar adalah:
Apakah menyeru kepada Al-Qur'an dan Sunnah menjadi kesalahan?
Apakah mengajak umat meninggalkan syirik, tahayul, bid'ah, dan khurafat merupakan tindakan yang harus dicurigai?
Apakah dakwah pemurnian yang menjadi ruh perjuangan Muhammadiyah harus ditinggalkan hanya karena tekanan opini publik?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab secara jujur oleh seluruh warga Muhammadiyah.
TBC Tidak Hanya Dalam Aqidah dan Ibadah
TBC sesungguhnya memiliki cakupan yang luas.
Ada TBC dalam keyakinan.
Ada TBC dalam ibadah.
Ada TBC dalam politik.
Ada TBC dalam ekonomi.
Ada TBC dalam budaya.
Ada TBC dalam cara berpikir.
Segala bentuk penyimpangan yang menjauhkan manusia dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya pada hakikatnya merupakan bagian dari penyakit yang harus diluruskan.
Karena itu, perjuangan melawan TBC bukan sekadar membahas ritual keagamaan.
Ia adalah perjuangan membangun peradaban yang berpijak di atas tauhid, ilmu, akhlak, dan kebenaran.
Warga Muhammadiyah Harus Waspada
Warga Muhammadiyah perlu memiliki ketajaman dalam membedakan antara kemajuan dan penyimpangan.
Tidak semua yang dibungkus dengan istilah modern adalah kemajuan.
Tidak semua yang diberi label toleransi adalah kebenaran.
Tidak semua yang berbicara atas nama intelektualitas sedang membela Islam.
Al-Qur'an mengingatkan bahwa kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut, tidak pula dari indahnya retorika, tetapi dari kesesuaiannya dengan wahyu Allah.
Muhammadiyah akan tetap kuat selama tetap berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.
Sebaliknya, Muhammadiyah akan kehilangan jati dirinya apabila mulai merasa malu dengan identitas tajdid dan pemurniannya.
Penutup
Muhammadiyah tidak membutuhkan perubahan arah yang mengaburkan identitasnya.
Yang dibutuhkan adalah penguatan kembali manhaj tarjih, penguatan aqidah, penguatan dakwah amar ma'ruf nahi munkar, dan penguatan komitmen kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
TBC tidak boleh diberi ruang hidup, baik dalam bentuk lama maupun dalam kemasan modern.
Karena sejarah telah membuktikan bahwa kemunduran umat selalu diawali ketika kebenaran mulai dikaburkan dan penyimpangan mulai dianggap sebagai bagian dari agama.
Sudah saatnya seluruh warga Muhammadiyah kembali meneguhkan komitmen:
"Memurnikan aqidah, meluruskan ibadah, mencerdaskan umat, dan menjaga Muhammadiyah tetap berada di atas jalan tajdid yang diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan."
Narasumber, Zulkarnain Elmadury
