LPKAPNEWS.COM, MEDAN - Ada yang menarik dari sebuah turnamen sepakbola di lingkungan UMSU. Pertandingan yang memperebutkan Piala Bergilir Rektor UMSU itu bukan hanya menghadirkan kegembiraan, persaingan dan sportivitas, tetapi juga memunculkan sebuah gagasan yang menurut saya layak dikembangkan menjadi rencana strategis.

Dalam sebuah wawancara di sela-sela pertandingan, Rektor UMSU Prof. Akrim menyampaikan rencana membentuk klub sepakbola dengan nama UMSU 1957 FC, merujuk kepada tahun berdirinya UMSU.

Meski saya bukan penggemar berat sepakbola, sebagai orang Indonesia tentu ada kerinduan menyaksikan sepakbola kita semakin berjaya. Apalagi gagasan itu muncul di tengah suasana bulan peringatan kemerdekaan Indonesia.

Sepakbola hari ini bukan lagi sekadar permainan 22 orang mengejar bola. Ia telah menjadi olahraga, industri, hiburan, pendidikan, bahkan bagian dari identitas dan diplomasi sebuah bangsa.

Negara-negara dengan tradisi sepakbola kuat tidak hanya mencari pemain yang sudah jadi. Mereka membangun akademi, scouting dan sistem pembinaan sejak usia dini. Kita mengenal La Masia Barcelona yang melahirkan Lionel Messi, Xavi Hernández, Andrés Iniesta, Sergio Busquets dan Carles Puyol. Akademi Ajax melahirkan Johan Cruyff, Marco van Basten dan Dennis Bergkamp. Manchester United melahirkan David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes dan Marcus Rashford. Real Madrid juga memiliki tradisi pembinaan yang melahirkan Iker Casillas, Raúl González dan Guti.

Dari sana kita belajar bahwa pemain hebat sering kali tidak ditemukan setelah menjadi bintang. Mereka dibentuk sejak masih menjadi anak-anak.

Karena itu, jika suatu saat UMSU 1957 FC dilengkapi dengan akademi sepakbola, Muhammadiyah melalui UMSU sesungguhnya sedang membuka satu lagi ruang pengabdian bagi bangsa.

Selama ini Muhammadiyah membangun manusia melalui sekolah, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit dan berbagai amal usaha. Mengapa tidak membangun manusia melalui sepakbola?

Akademi sepakbola yang baik tentu bukan hanya tempat belajar menendang, menggiring atau mengoper bola. Di sana harus dipadukan skill sepakbola, kebugaran fisik dan intelektualitas. Anak-anak tidak hanya dilatih menggunakan tenaga, tetapi juga belajar membaca permainan, memahami strategi, mengambil keputusan dan bermain sebagai sebuah tim.

Bahkan, sebagian akademi sepakbola modern menambahkan pendidikan karakter dan keahlian tertentu dalam sistem pembinaannya. Pemain tidak hanya dipersiapkan menjadi atlet, tetapi juga menjadi manusia yang memiliki disiplin, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi dan bekal pengetahuan untuk kehidupannya di luar lapangan.

Sebab sepakbola modern pada akhirnya bukan sekadar siapa yang paling kuat berlari, tetapi siapa yang paling cerdas membaca ruang, mengatur tempo dan menjalankan strategi.

Di sinilah lapangan hijau sesungguhnya juga menjadi ruang pendidikan.

Anak-anak belajar disiplin, kerja sama, kepemimpinan, sportivitas, ketangguhan dan bagaimana menerima kemenangan maupun kekalahan.

Karena itu, UMSU 1957 FC idealnya tidak berhenti sebagai tim yang mengikuti pertandingan. Ia bisa dikembangkan menjadi sebuah ekosistem: ada klub, akademi, kompetisi berjenjang, scouting, pelatih berkualitas, sport science dan manajemen profesional.

Saya bahkan membayangkan, bisa jadi tahun berikutnya Piala Bergilir Rektor UMSU diperebutkan oleh tim sepakbola perguruan tinggi se-Kota Medan, bahkan berkembang menjadi turnamen antarkampus se-Sumatera Utara.

Kampus-kampus bertemu di lapangan hijau, mahasiswa bertanding, suporter memberikan dukungan dan pimpinan perguruan tinggi hadir bersama. Kompetisi sekaligus menjadi ruang silaturahmi dan kolaborasi antarkampus.

Gagasan ini juga bisa menjadi bagian dari gebyar Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara. Tidak harus menjadi sesuatu yang besar sejak awal. Cukup dimulai sebagai sebuah turnamen yang menghadirkan semangat kebersamaan anak muda.

Menariknya, pesan Muktamar “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” justru bisa menemukan tempatnya secara nyata di lapangan bola.

Cerdas tidak hanya dibicarakan di ruang kelas atau forum seminar. Ia juga bisa diwujudkan melalui permainan yang membutuhkan kecerdasan, strategi, disiplin dan kemampuan mengambil keputusan. Semesta bercahaya pun terasa lebih indah ketika generasi mudanya memiliki ruang untuk tumbuh, berprestasi dan berkompetisi secara sehat.

Saya membayangkan anak-anak berbakat dari Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Asahan, Labuhanbatu hingga berbagai daerah di Sumatera Utara memiliki tempat untuk ditemukan, dibina dan dikembangkan.

Barangkali dari sana suatu hari lahir pemain yang memperkuat klub-klub besar Indonesia. Bahkan bukan mustahil ada yang mengenakan jersey Tim Nasional Indonesia.

Semua itu tentu tidak bisa dibangun dalam satu malam. Tetapi setiap perjalanan panjang selalu dimulai dari sebuah langkah kecil.

Menariknya, gagasan UMSU 1957 FC justru muncul ketika UMSU sedang menggelar pertandingan memperebutkan Piala Bergilir Rektor. Seolah-olah lapangan sedang memberikan pesan bahwa sepakbola tidak hanya perlu dimainkan, tetapi juga perlu dipikirkan masa depannya.

UMSU memiliki sejarah sejak 1957. Barangkali sudah waktunya angka itu tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga energi untuk melahirkan sesuatu yang baru.

Jika dikelola dengan serius, UMSU 1957 FC bukan sekadar nama sebuah klub. Ia bisa menjadi tempat anak muda menemukan mimpi, tempat bakat tumbuh, tempat pendidikan dan olahraga bertemu, sekaligus menjadi wajah lain dari gerakan berkemajuan.

Masya Allah.

UMSU Unggul, seunggul-unggulnya.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti kita akan berkata:

Ternyata perjalanan menuju kebangkitan sepakbola Sumatera Utara pernah dimulai dari sebuah gagasan sederhana di kampus UMSU.

Dari sana, bola ditendang.

Bukan sekadar menuju gawang, tetapi menuju kemajuan.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Narasumber, Jufri