"Jangan Duakan Muhammadiyah"

(KH.Ahmad Dahlan)
LPKAPNEWS.COM - Fenomena banyaknya warga Muhammadiyah yang merasa mampu mendirikan yayasan atau lembaga sendiri memang menarik untuk dicermati. Di satu sisi, ini menunjukkan kemajuan; namun di sisi lain, bisa menimbulkan kegelisahan jika tidak dipahami dengan bijak—terlebih ketika dikaitkan dengan pesan KH Ahmad Dahlan: “Jangan Duakan Muhammadiyah.”
Secara positif, munculnya inisiatif mendirikan lembaga baru lahir dari keberhasilan Muhammadiyah dalam membina kader. Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang mendorong kemandirian, kreativitas, dan semangat beramal. Warga yang terdidik dalam tradisi ini akhirnya merasa percaya diri, memiliki kapasitas manajerial, bahkan jaringan yang cukup untuk membangun lembaga sendiri. Ini sebenarnya buah dari sistem kaderisasi yang berhasil.
Namun, di balik itu ada beberapa faktor lain yang juga perlu dicermati. Pertama, adanya keinginan untuk bergerak lebih cepat atau lebih bebas tanpa harus melalui mekanisme organisasi yang kadang dianggap panjang. Kedua, munculnya orientasi personal atau kelompok kecil—baik karena perbedaan pandangan, kepentingan, maupun ego kelembagaan. Ketiga, kurangnya pemahaman mendalam terhadap makna berorganisasi dalam Muhammadiyah itu sendiri.
Di sinilah pesan “Jangan Duakan Muhammadiyah” menjadi sangat relevan. Pesan tersebut bukan berarti melarang beramal atau berkarya di luar, tetapi mengingatkan agar semangat, loyalitas, dan arah perjuangan tetap satu. Jangan sampai energi umat terpecah, potensi tercerai-berai, atau bahkan saling melemahkan karena berjalan sendiri-sendiri.
Mendirikan lembaga baru tentu tidak salah, selama tetap dalam ruh, nilai, dan garis perjuangan Muhammadiyah. Yang menjadi persoalan adalah ketika lembaga itu justru berjalan tanpa sinergi, bahkan menjauh dari Persyarikatan. Di sinilah pentingnya menjaga niat: apakah mendirikan lembaga untuk memperkuat dakwah bersama, atau justru untuk kepentingan sendiri atau Individu?
Akhirnya, fenomena ini seharusnya menjadi bahan muhasabah. Muhammadiyah telah besar karena kebersamaan, bukan karena jalan sendiri-sendiri. Maka yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar banyaknya lembaga, tetapi kuatnya sinergi. Bukan sekadar merasa mampu, tetapi tetap mau tunduk pada jamaah dan kepemimpinan.
Karena sejatinya, kekuatan Muhammadiyah bukan pada banyaknya amal usaha yang berdiri sendiri, tetapi pada kesatuan langkah dalam satu barisan dakwah.

(Redaksi)