Ditolak Kuliah di Negeri Sendiri karena Urusan Birokrasi! Pria Asala Surabaya ini Nekat Merantau ke Jepang dan Justru Jadi Manusia Pertama yang Meraih Empat Gelar Doktor Sekaligus Hinga Dianggap Sebagai "Harta Karun" Negara!LPKAPNEWS.COM, JAKARTA - Kisah ironis yang menampar sistem birokrasi pendidikan kita ini datang dari seorang pria super jenius asal Surabaya bernama Ken Kawan Soetanto. Pada era awal tahun tujuh puluhan, ia memiliki mimpi yang sangat sederhana sebagai seorang warga negara, yaitu ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di Indonesia.
Namun, jalan menuju ilmu pengetahuan itu justru ditutup rapat-rapat oleh birokrasi di negerinya sendiri. Karena rumitnya aturan administrasi perguruan tinggi negeri dan adanya sentimen diskriminasi terhadap etnis minoritas pada masa itu, Soetanto ditolak masuk ke berbagai kampus. Ia dianggap tidak memenuhi syarat administratif, seolah sistem negerinya sendiri mengubur potensi otaknya hidup-hidup.
Merasa tidak dihargai dan ditolak oleh negaranya, Soetanto yang bermental baja tidak mau menyerah pada nasib. Ia nekat mengemasi barangnya dan terbang merantau ke Jepang pada tahun 1974. Di sana ia harus memulai segalanya dari minus, berjuang mati-matian mempelajari bahasa Jepang yang sangat sulit tanpa kursus formal, dan bekerja keras serabutan untuk bertahan hidup di negeri orang.
Namun, di negara asing inilah otak jenius yang disia-siakan oleh Indonesia itu justru mekar dan bersinar terang hingga membutakan dunia akademis internasional.
Tidak tanggung-tanggung, Soetanto secara gila-gilaan berhasil menaklukkan sistem pendidikan Jepang yang terkenal paling kejam dan disiplin di dunia. Ia mencetak sejarah abadi sebagai manusia pertama di Jepang yang berhasil meraih empat gelar Doktor tingkat atas sekaligus dari empat universitas elit berbeda! Ia meraih gelar Doktor di bidang Teknik, Kedokteran, Farmasi, dan Pendidikan.
Karya-karya ilmiah dan penemuan medisnya, termasuk puluhan hak paten untuk teknologi jarum suntik tanpa rasa sakit dan metode pengobatan yang canggih, langsung diaplikasikan oleh berbagai rumah sakit internasional.
Pria yang dulu ditolak kuliah di negerinya sendiri ini akhirnya diangkat menjadi profesor terhormat di Universitas Waseda, serta diakui dan dijaga bak harta karun intelektual oleh pemerintah Jepang. Sebuah tamparan keras nan abadi bagi sejarah birokrasi kita yang secara tragis telah membuang salah satu otak paling cemerlang yang pernah lahir di tanah Nusantara.
Narasumber, Abdul Mu'ti