Metode Hisab Melintasi Ruang dan Waktu

LPKAPNEWS.COM - Catatan ini merupakan jawaban atas sebuah permasalahan yang muncul dari salah satu orang tua murid di GWA internal orang tua murid yang karena keterbatasan waktu dan sambil menunggu respon dari yang lain, penulis baru menjawabnya.
Adapun chat orang tua murid (OTM) yang panjang sehingga terkesan bukan sebuah pertanyaan. Chat berawal dengan pernyataan kemungkinan adanya persamaan hari berlebaran antara Muhammadiyah dengan Nu meski berbeda memulai berpuasa.
Kemudian OTM menutupnya dengan menyatakan, “Bismillaah...pa/bu ada yg nanya di grup sebelah… jawaban yg pas gimana ya?🙏
Kemudian penulis meresponnya dengan mengawali permintaan maaf baru liat GWA untuk telat merespon.
“”Ini pertanyaan yang perlu dijawab yang mana, Bu? Semoga saya bisa menjawab!🙏🏼” Lanjut penulis.
Sang Ibu pun menanggapi dengan mengatakan, “Maaf juga pa saya baru buka wag😁🙏, mungkin maksudnya kenapa muhamadiyah jumat sedangkan NU kyknya masih ragu (antara jumat atau sabtu) barangkali muhamadiyah bisa menjelaskan dalil tentang hilal...🙏
Kemudian setelah beberapa hari tidak membuka GWA dimaksud, penuli pun merespon.
Izin menjawab ya, Bu. Karena beda menggunakan metode (cara) menentukan awal bulan yang akan menentukan kapan mulai berpuasa Ramadan, kapan 1 Syawal (Idulfitri), dan kapan 1 Dzulhijjah (untuk menentukan Iduladha 10 Dzulhijjah), maka sering kita jumpai perbedaan awal Ramadan dan blebaran.
Untuk menentukan awal bulan seperti digambarkan di atas, Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yaitu metode perhitungan astronomis (menggunakan teknologi) untuk menentukan posisi hilal (bulan sabit muda) secara matematis, sedangkan rukyat adalah pengamatan langsung visibilitas hilal saat matahari terbenam.
Sementara NU menggunakan metode Rukyat, yaitu melihat awal bulan secara langsung dengan mata dibantu alat (teleskop, dsb.).
Nah, karena langsung maka tidak bisa memprediksi jauh-jauh hari. Jangankan seminggu, sebulan, atau setahun sebelumnya, 2 hari sebelumnya pun metode Rukyat tidak bisa digunakan. Misalnya tanggal 28 Ramadan itu tidak bisa menggunakan metode Rukyat.
Sementara kalau metode Hisab yang digunakan Muhammadiyah karena memakai teknologi bisa menentukan awal Ramadhan, Idulfitri dan Iduladha jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan Idulfitri untuk 5 tahun yang akan datang itu sudah bisa ditentukan dari sekarang.
Misalnya, Idulfitri tahun 2031 itu sudah bisa ditentukan dari sekarang, yaitu hari Sabtu 25 Januari.
Jadi menggunakan metode Hisab lebih efektif dan ekonomis, sekali berbuat bisa untuk 5 kali bahkan lebih.
Kemudian penggunaan metode Hisab untuk menghindari fenomena alam, misalnya langit sedang mendung sehingga keberadaan bulan tidak bisa diamati karena tertutup awan.
Nah, jika menghadapi seperti ini (bulan terhalang awan) pengguna metode Rukyat membulatkan menjadi 30 hari.
Jadi sepertinya kurang yakin, padahal inti dari agama itu adalah keyakinan (baca, iman).
Kemudian kalau mau membuktikan, mengapa tidak mengambil jumlah puasa Ramadan yang sering dilakukan Rasulullah Saw. sepanjang hidupnya, yaitu 29 hari?
Selama hidupnya setelah menerima wahyu diwajibkannya berpuasa Ramadhan, Rasulullah Saw. hanya melakukan 9 kali.
Dari sembilan kali tersebut, beliau berpuasa selama 29 hari sebanyak delapan kali, dan berpuasa selama 30 hari (satu bulan penuh) sebanyak satu kali.
Jadi, jika melihat perbandingan berapa kali Rasulullah Saw. melaksanakan puasa Ramadan selama 30 hari dan berapa kali selama 29 hari adalah 1:8.
Lalu mengapa membulatkannya menjadi 30 hari, adilkah ini? Wallahu a'lam.
Menutup catatan adalah ungkapan terima kasih atas respon yang penulis sampaikan,
“Jazakillaah khyr ya pa penjelasannya....runut, jelas dan sangat masuk akal sebenernya terutama kita paham dalil...haturnuhun pisan pa penjelasannya.

Sumber, Endang Yusro (Kepala SMA MUHAMMADIYAH Kota Serang)


Semua tanggapan:
14