JK Pimpin Lintas Generasi, Panglima TNI Siaga 1

LPKAPNEWS.COM - Lintas generasi yang dipimpin oleh Sudirman Said menemui Jusuf Kalla, mantan Wapres dua periode, kemarin. Ada Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM, yang terus terang mengatakan Prabowo bodoh sebagai Presiden, hingga Feri Amsari, yang mengatakan Prabowo melanggar Konstitusi. Juga Titi Anggraini, spesialis penggugat aturan Pemilu di MK, dan tokoh lintas generasi lainnya, yang tidak kalah hebatnya.

Tiyo Ardianto mengklaim bahwa pertemuan mereka itu adalah pertemuan moral, bukan politis. Padahal setiap pertemuan itu diklaim sebagai pertemuan moral, maka pada saat itulah ia menjadi pertemuan politis yang terang benderang. Ini soal siapa yang lebih dulu mengklaim saja. Apalagi melihat mereka yang hadir, termasuk JK, yang mengaku diundang, bukan mengundang. Gaya politik lama: cuci tangan.
Agaknya JK kurang puas dengan pertemuan yang dilakukan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu, hingga harus menghadiri pertemuan yang diklaim lintas generasi itu. JK menegaskan kembali bahwa Indonesia harus keluar dari Board of Peace karena sudah menyalahi tujuan awal pendiriannya. Board of Peace bagus, tapi kalau sudah menyalahi tujuan awalnya, maka Indonesia wajib keluar dari situ.
Feri Amsari mengatakan JK adalah orang yang tepat untuk ditemui, karena pernah dua periode menjadi Wapres, pernah menjadi Ketum partai juga, dan pernah berkali-kali menjadi juru damai, yang terkenal apa lagi kalau bukan masalah Aceh. Tapi, sebetulnya, sederet pengalaman itu bisa juga jadi kelemahan, karena kita masih seperti ini saat ini. JK tentu tak bisa dikatakan bersih seorang sendiri di tengah lapangan yang begitu becek dan licin.
Apalagi pertemuan lintas generasi ini dimoderatori Sudirman Said, mantan salah seorang ketua tim sukses Anies Baswedan. Sudirman Said memang tak ada matinya. Anies-Muhaimin belum betul-betul diumumkan kalah, ia sudah siap-siap maju Cagub DKI Jakarta lewat jalur independen. Sayang, jumlah KTP tak sampai. Sebelumnya, maju sebagai calon pimpinan KPK. Gagal. Kini, bikin Universitas pula.
Pertemuan lintas generasi seperti itu adalah tanda situasi penuh dengan ketidakpastian. Dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian, biasanya yang paling siap mengambil alih situasi adalah mereka yang paling solid dan luas jejaringnya. Mungkin karena itu Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengeluarkan telegram yang memerintahkan seluruh jajaran TNI untuk siaga 1 sebagai langkah mengantisipasi.
Rakyat biasa (badarai) hanya bisa berdoa agar tak terjadi sesuatu yang semakin menyusahkan. Kadang, mereka yang selalu mengatasnamakan rakyat, bukanlah berjuang untuk kepentingan rakyat itu sendiri. Mereka berjuang hanya untuk kepentingan dan posisinya saja.

(ERIZAL)