LPKAPNEWS.COM, YOGYAKARTA – Dalam deretan ulama senior Muhammadiyah, nama Muhammad Fahmi Muqoddas, menempati posisi yang unik. Di usianya yang genap 81 tahun pada Januari 2026 lalu, ia telah berkhidmat di Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama lebih dari 55 tahun.
Dalam bincang santai di podcast “Jejak Ulama Tarjih” di Tarjih Channel
pada Rabu (04/03), kakak kandung mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas ini
mengisahkan perjalanan panjangnya yang bermula dari sebuah mandat emosional.
Fahmi bukanlah orang baru di lingkungan elite Muhammadiyah; ayahnya,
K.H. Muqoddas Syuhada, adalah Sekretaris Majelis Tarjih yang wafat pada 1969.
“Satu tahun setelah ayah wafat, saya dipanggil oleh Kiai Wardan
Diponingrat. Beliau meminta saya melanjutkan amal ayah di Majelis Tarjih,”
kenang Fahmi.
Saat itu, di usia 25 tahun, Fahmi sempat merasa ragu karena merasa belum
memiliki kompetensi sebagai ulama. Namun, Kiai Wardan meyakinkannya bahwa
segalanya adalah proses.
Sejak 1970, ia pun mulai berkhidmat dari level sekretariat hingga kini
menjadi salah satu pilar penting di Majelis Tarjih.
Meski rendah hati menyebut dirinya masih pemula saat awal bergabung,
Fahmi kemudian dikenal dengan julukan “Ulul Albab”. Namun, di lingkungan
internal Tarjih, julukan itu dipelesetkan secara jenaka sebagai akronim dari
“Ulama yang pandai melobi “. Kemampuannya dalam berdiplomasi dan membangun
jaringan menjadikannya sosok kunci dalam rekrutmen kader-kader ulama.
Banyak intelektual besar Muhammadiyah, termasuk para filsuf dari
Universitas Gadjah Mada (UGM) seperti Rizal Mustansir dan Ahmad Khairis Zubair,
bergabung dengan Majelis Tarjih berkat “sentuhan” lobi Fahmi.
“Saya sering mengajak teman-teman berdiskusi, hingga akhirnya mereka
tertarik masuk ke Majelis Tarjih. Bahkan, dulu Pak Hamim Ilyas saya undang ke
UGM untuk mengajar bahasa Arab bagi para filsuf tersebut,” ungkapnya.
Peran Fahmi yang sangat vital ini membuat Majelis Tarjih tidak lagi
bersifat “fikih-sentris”, melainkan lebih terbuka pada perspektif filsafat dan
intelektual yang luas.
Selain di Majelis Tarjih, dedikasi Fahmi terlihat nyata di Pendidikan
Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM). Ia menjabat sebagai Ketua Badan Pembina
Harian (BPH) PUTM sejak tahun 2005. Baginya, santri PUTM adalah “Kopassus
Muhammadiyah”—pasukan elite agama yang dididik secara khusus dan harus siap
diterjunkan ke medan dakwah mana pun.
Sejarah mencatat peran heroik Fahmi saat PUTM mengalami krisis finansial
hebat di masa lalu. Menggunakan kemampuan lobinya, ia berhasil meyakinkan tokoh
nasional Marzuki Usman untuk memberikan beasiswa penuh bagi satu angkatan
santri serta mendonasikan mobil operasional yang kemudian juga dimanfaatkan
oleh Majelis Tarjih.
“Filosofi saya sederhana, hidup adalah untuk ibadah. Beramal melalui
Muhammadiyah adalah bagian dari ibadah saya,” tegas pria yang masih aktif
mengajar mata kuliah Akhlak dan Manajemen Kepemimpinan Islam ini.
Selama 55 tahun, Fahmi telah mendampingi enam periode kepemimpinan
Majelis Tarjih, mulai dari Kiai Wardan Diponingrat, Azhar Basyir, Asjmuni, Amin
Abdullah, Syamsul Anwar, hingga Hamim Ilyas. Ia banyak belajar tentang adabul
munazarah (etika berdiskusi) dari Kiai Wardan yang dikenal sedikit
bicara namun banyak bekerja.
Ia juga mengenang kecerdasan Azhar Basyir dalam mendudukkan perkara
hukum waris yang sempat didebat oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur). Fahmi
menceritakan bagaimana konsep “Tashaluh” (perdamaian/musyawarah keluarga) yang
diajarkan Azhar Basyir dipraktikkan langsung dalam keluarganya sendiri saat
membagi warisan, sehingga tercipta harmoni tanpa perselisihan.
Kini, di usia senja dengan semangat yang ia sebut “serasa 18 tahun”,
Fahmi Muqoddas tetap tegak berdiri sebagai jembatan naratif antara generasi
lama dan baru di Muhammadiyah.
Beliau membuktikan bahwa loyalitas pada organisasi dan dedikasi pada
ilmu adalah resep utama untuk tetap bugar dan bermanfaat bagi umat.
Sumber, Muhammadiyah or id
