MUHAMMADIYAHNOMIC — Gerakan Ekonomi Akar Rumput untuk Kemakmuran Masa Depan Warga Persyarikatan.
Suryawan Ekananto
Dunia hari ini sedang berada di tengah krisis besar: kapitalisme membiarkan orang kecil terinjak, sosialisme membuat negara terlalu berkuasa. Keduanya gagal menciptakan kehidupan yang manusiawi dan berkeadilan. Kita semua pernah menyaksikan bagaimana buruh hanya dianggap angka produktivitas. Bahkan Marsinah—mantan pelajar SMA Muhammadiyah Nganjuk di Jawa Timur—harus kehilangan nyawa hanya karena menuntut upah yang layak. Kapitalisme telah mengubah manusia menjadi “alat produksi”, bukan lagi makhluk bermartabat.
Tetapi sosialisme juga tidak lebih baik. Di banyak negara, ia melahirkan tirani baru dan elit-elit ideologis yang tak kalah kejam. Pada akhirnya, dua sistem besar itu sama-sama tidak mampu menyelamatkan manusia. Kedua idiologi diatas terlalu materislistis tidak memberikan ruang spiritual manusia.
Indonesia pernah mencoba membangun jalan sendiri melalui Ekonomi Pancasila ala Prof. Mubyarto, namun gagasan itu tenggelam sebelum sempat berkembang. Yang tersisa hanyalah realitas hari ini: ketimpangan, kemiskinan, pengangguran dan ketidakpastian.
Di tengah kebuntuan global seperti ini, ada satu kekuatan senyap yang tidak banyak disadari dunia: yaitu
Muhammadiyah.
Muhammadiyah: Raksasa Diam Berusia 113 Tahun
Selama 113 tahun, Muhammadiyah diam-diam membangun ekonomi berbasis nilai tanpa gaduh teori dan tanpa meminta-mita proyek dari pemerintah, tanpa meminta jatah mengelola sumber daya alam seperti para oligarki hidup menjadi konglomerat dapat bantuan negara. Hasilnya? Aset lebih dari Rp 500 triliun, dari urunan warga persyarikatan di Ranting dan cabang berdiri:
ratusan rumah sakit, ribuan sekolah, ribuan TK ABA, 172 Perguruan Tinggi Muhammadiyah–Aisyiyah,koperasi, BMT, BPR, panti asuhan, hingga hotel dan bisnis komersial.
Inilah jaringan ekonomi–sosial terbesar yang dimiliki umat Islam Indonesia bahkan dunia. Bukan dibangun oleh konglomerat atas kemudahan ysngbdi berikan negara. Bukan oleh oligarki. Tetapi oleh guru ngaji, pedagang kecil, petani, pegawai negeri, dan pedagang pasar—orang-orang biasa yang mewakafkan waktu, tenaga, dan rupiahnya.
Namun ada pertanyaan besar yang harus kita jawab dengan jujur:
"Apakah kekuatan ekonomi sebesar itu sudah menyejahterakan warga Muhammadiyah sendiri" ?
Jawabannya: belum sepenuhnya.
Amal usaha tumbuh besar, tetapi warga Muhammadiyah masih banyak yang hidup pas-pasan. Muhammadiyah besar di institusi, tetapi belum besar di dompet warganya. Dan inilah jurang yang harus kita tutup bersama.
Inilah Saatnya: Melahirkan Muhammadiyahnomic
Muhammadiyahnomic adalah gagasan sederhana tetapi revolusioner:
" Seluruh kebutuhan Amal Usaha Muhammadiyah harus diisi oleh produk dan jasa warga Muhammadiyah sendiri' — UMKM, koperasi, serta tenaga profesional kita.
Rumah sakit butuh catering?
Gunakan UMKM warga.
Sekolah butuh seragam, tas, buku, spanduk, ATK?
Serahkan kepada penjahit dan pengusaha percetakan warga kita.
PTMA butuh konsumsi ribuan mahasiswa, layanan internet, cleaning service, laundry, logistik, jas almamater ?
Warga Muhammadiyah siap.
Setiap hari, Amal Usaha Muhammadiyah membeli ribuan jenis barang dan jasa. Jika belanja itu diarahkan ke warga sendiri, (bukan ke vendor yang tidak punya hubungan apa pun dengan Muhammadiyah), maka:
UMKM Muhammadiyah akan tumbuh pesat, ribuan tenaga kerja baru lahir,
warga menjadi produsen, bukan hanya penonton, perputaran uang akan bertahan di lingkungan Muhammadiyah, kemiskinan akan turun drastis, dan Muhammadiyah menjadi kekuatan ekonomi umat nomor satu di Indonesia. Ini bukan gerakan eksklusifisme tetapi gerakan pemberdayaan warga Muhammadiyah.
Ini bukan teori.
Ini tradisi awal Muhammadiyah, ketika gerakan ini dibangun oleh para inisiator akar rumput di kampung-kampung, bukan oleh instruksi pusat.
Dua Mandat Besar Muhammadiyahnomic
1. Mandat Internal: Mensejahterakan Warga Muhammadiyah
Amal usaha yang kuat harus melahirkan warga yang kuat. Milikilah kebijakan moral:
belanja internal, memperkuat UMKM warga, membuka lowongan bagi tenaga ahli dan lulusan PTMA, menciptakan koperasi modern berbasis cabang dan ranting, memprioritaskan produk warga dalam seluruh kegiatan organisasi.
Jika hanya 50% saja belanja amal usaha diarahkan kepada UMKM warga, dalam 5 tahun Muhammadiyah bisa menjadi komunitas paling sejahtera di Indonesia.
2. Mandat Eksternal: Berkontribusi pada Keadilan Nasional
Ketika warga Muhammadiyah kuat, Muhammadiyah akan lebih mudah:
mengurangi kemiskinan nasional, memperluas pendidikan berkualitas,
menciptakan lapangan kerja baru,
membela yang lemah tanpa takut kekurangan sumber daya.
Gerakan ini bukan hanya untuk warga Muhammadiyah, tetapi untuk Indonesia secara keseluruhan.
Gerakan Tanpa Instruksi: Dimulai dari Cabang dan Ranting
Kita tidak perlu menunggu instruksi PP Muhammadiyah. Tidak perlu menunggu muktamar. Gerakan besar Muhammadiyah lahir dari inisiatif kecil di akar rumput:
KH Ahmad Dahlan memulai dari Kauman, bukan dari pucuk pimpinan.
Madrasah pertama Muhammadiyah didirikan tanpa birokrasi yang rumit.
Rumah sakit pertama berdiri karena semangat gotong-royong, bukan karena proposal ke pemerintah.
Maka Muhammadiyahnomic pun harus lahir dari semangat yang sama:
dimulai dari cabang, ranting, PCM, PRM, AUM, dan warga biasa.
Bila cabang-cabang memulai belanja internal, maka gelombang besar akan bergerak ke atas. Dari ranting ke PCM. Dari PCM ke wilayah. Dari wilayah ke pusat. Dan gagasan ini akan masuk dengan sendirinya ke meja Muktamar.
Tidak ada kekuatan yang lebih hebat daripada gagasan yang sudah hidup di tengah warga sebelum ia masuk ke ruang sidang.
Akhirnya, Kita Harus Bertanya pada Diri Sendiri
Jika umat lain bisa membangun ekonomi kolektif, jika bangsa lain bisa menghidupkan koperasi, jika perusahaan besar bisa menguasai pasar dengan strategi loyalitas,
mengapa kita—yang memiliki amal usaha terbesar di Indonesia—justru membeli produk dari luar?
Jika hari ini kita belum sejahtera, bukan karena kita tidak punya kekuatan.
Kita hanya belum mengatur kekuatan itu menjadi ekosistem ekonomi.
Muhammadiyahnomic adalah jalan untuk menyatukan kekuatan itu.
Jalan untuk mengembalikan ekonomi kepada nilai.
Jalan untuk menjadikan tauhid sebagai energi peradaban.
Dan jalan untuk mengangkat martabat warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
"Gerakan ini kecil, sederhana, tetapi bila dimulai dari cabang-cabang kecil, ia bisa mengubah masa depan umat"
Mari mulai dari tempat kita berpijak.
Dari ranting kita, dari sekolah,rumah sakit, dari UMKM, wargaMu, cabang dan Pergurusnbtinggi.
Kita mulai hari ini, tanpa menunggu siapa pun.
(Redaksi)