Bencana Selanjuynya Kelaparan!!!

Dosa Siapa?
LPKAPNEWS.COM - Indonesia itu negeri yang kalau bicara bencana, seperti sudah punya langganan tahunan. Kita hafal urutannya: hujan turun, tanah jenuh, longsor, banjir bandang, korban berjatuhan lalu kalimat klasik dilontarkan: “Pemerintah masih berupaya melakukan penanganan.” Upaya, katanya. Tapi entah kenapa, yang paling cepat selalu konferensi pers, bukan logistik.
Di Aceh, skenarionya nyaris sama. Bedanya, klimaks tragedinya lebih pedih. Banyak warga yang tadinya selamat dari banjir bandang : sudah berenang, memanjat, berdoa, dan berusaha bertahan, malah harus berhadapan dengan bencana episode berikutnya: kelaparan. Iya, kelaparan. Bencana yang harusnya tidak perlu terjadi di negara yang tiap tahun bangga menggelar panen raya di televisi nasional. Bahkan konon telah memiliki stok pangan terbesar, sepanjang negeri ini merdeka.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, bahkan bilang sebagian korban meninggal bukan karena terseret arus, tapi karena perut yang tak terisi. “Mereka mati bukan karena banjir, tapi mati karena kelaparan. Itu saja,” katanya. Pernyataan yang, kalau diputar ulang, terdengar seperti pukulan telak ke siapa pun yang bertanggung jawab atas distribusi logistik.
Wilayah paling parah, Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara, seperti ditelan sunyi. Jalur darat putus. Jembatan hanyut. Truk beras dan mie instan cuma bisa gigit jari dari kejauhan. Bantuan terpaksa diangkut lewat jalur udara atau perahu karet, menembus arus yang masih berulah. Dan sementara itu, di tenda-tenda pengungsian, perut-perut kecil menunggu, entah sampai kapan.
Di titik inilah kita mesti bertanya, dengan nada yang tidak perlu ditahan-tahan: dosa siapa? Banjir dan longsor mungkin soal alam, meski manusia jelas punya andil lewat pembabatan hutan. Tapi kelaparan pascabencana? Itu bukan urusan alam. Itu urusan koordinasi, kecepatan tanggap, dan keseriusan negara melindungi warganya.
Bencana memang tidak bisa dihindari. Tapi membiarkan orang yang sudah selamat dari arus justru meninggal karena tidak kebagian roti kering? Itu bukan “takdir”, itu kelalaian. Dan kelalaian dalam urusan nyawa bukan hal kecil yang bisa ditutup dengan kalimat “akan dievaluasi.”
Pemerintah, dari pusat sampai daerah, adalah pihak yang paling punya kuasa untuk memastikan bantuan sampai tepat waktu. Punya anggaran, punya helikopter, punya BPBD, punya semua perangkat yang mestinya bisa bekerja lebih cepat daripada air bah. Maka kalau masih ada warga yang mati kelaparan, ya jangan pernah salahkan cuaca.
Kita cuma berharap satu hal: jangan biarkan nyawa terus melayang hanya karena perut kosong. Bencana alam mungkin tak bisa dicegah, tapi bencana birokrasi jelas bisa, asal mau. Sebelum banjir surut, sebelum jembatan selesai diperbaiki, sebelum kamera media nasional berpindah ke isu lain tolong, pastikan dulu rakyat bisa makan. Bukankah ini tujuan negeri ini berdiri : melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

(Redaksi)