LPKAPNEWS.COM, PERCUT - Di antara banyak pengorbanan dalam ber-Muhammadiyah,
mungkin pengorbanan waktu adalah yang paling mendasar namun sering kali
disepelekan. Banyak kader dan pimpinan bersedia menjabat, mengucap siap, bahkan
menandatangani berita acara. Tapi setelah itu, kehadiran dan kontribusinya
hanya sekedarnya. Muhammadiyah tidak kekurangan orang hebat. Kita punya banyak
profesor, cendekiawan, ulama, aktivis, bahkan tokoh bangsa. Tapi yang sering
kali langka adalah mereka yang bersedia mengorbankan waktu terbaiknya untuk menghidupkan
gerakan ini.
Bukan Tak Mampu, Tapi Belum Menjadikan Prioritas
Fenomena ini bukan karena kader-kader kita tidak mampu. Tapi karena
Muhammadiyah belum menjadi prioritas dalam hidupnya. Waktunya sudah penuh untuk
pekerjaan, usaha, keluarga, dan berbagai aktivitas pribadi lainnya.
Muhammadiyah hanya dapat sisa-sisa waktu, jika tidak lupa, atau tidak terlalu
sibuk. Akhirnya, apa yang terjadi?
· Rapat sering tidak quorum
· Program tidak jalan
· AUM terbengkalai
· Musyawarah hanya formalitas
· Kaderisasi mandek
· Dakwah tidak berkembang
Semua ini bukan karena Muhammadiyah tidak punya sistem
atau potensi. Tapi karena orang-orang yang seharusnya menggerakkannya, hadir
hanya separuh hati. Allah Tidak Membeli Sisa-Sisa Waktumu.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta
mereka dengan memberikan surga kepada mereka…” (QS. At-Taubah: 111).
Perhatikan: Allah membeli diri dan harta, bukan sisa-sisa
waktu. Artinya, Allah menuntut pengorbanan yang utuh, totalitas dalam amal,
bukan sisa energi setelah urusan dunia selesai.
Rasulullah pun bersabda:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya:
kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Jika pimpinan dan kader Muhammadiyah terjebak dalam tipuan waktu ini, maka bisa
jadi kita
sedang melalaikan amanah besar yang dulu pernah kita nyatakan siap menjaganya.
Kisah KH. Ahmad Dahlan: Waktu yang Bernilai Abadi
KH. Ahmad Dahlan tidak pernah punya “waktu luang” dalam hidupnya. Setiap detik
beliau isi untuk dakwah: mengajar, berdiskusi, menulis, berjuang, membina
warga, mendirikan sekolah, rumah sakit, bahkan menyebarkan ide pembaruan Islam
yang tak lazim pada zamannya.
Waktu beliau bukan untuk disimpan, tapi dikorbankan untuk
gerakan. Beliau tidak menunggu punya banyak waktu untuk berbuat. Tapi memilih
untuk meluangkan waktu untuk yang paling bermakna. Itulah teladan pimpinan
sejati Muhammadiyah. Bukan hanya hadir di struktur, tapi menjadi struktur hidup
yang menopang gerakan.
Refleksi Kritis: Kepemimpinan Itu Amanah, Bukan
Penghormatan. Mari kita tanyakan pada diri sendiri:
· Apakah saya sudah sungguh-sungguh memimpin Muhammadiyah?
· Apakah Muhammadiyah hanya saya urus di sela-sela waktu
luang?
· Apakah organisasi ini tumbuh karena saya, atau justru
stagnan karena saya?
Kalau jawabannya masih menyakitkan, maka hari ini adalah
waktu terbaik untuk memperbaiki.
Saran Konstruktif untuk Para Pimpinan dan Kader
1. Tata ulang niat – Jadikan Muhammadiyah sebagai jalan hidup, bukan sekadar
kegiatan tambahan.
2. Alokasikan waktu secara spesifik – Jangan tunggu waktu luang. Buat jadwal
khusus untuk rapat, kunjungan AUM, pembinaan kader, dan evaluasi program.
3. Bangun sistem tim yang kolaboratif – Jangan semua dibebankan ke satu dua
orang. Buat pembagian tugas yang sehat dan sinergis.
4. Berani berkata jujur – Jika tidak sanggup mengurus dengan maksimal, jangan
gengsi untuk mundur. Bantu dari luar dengan ikhlas, itu juga jihad.
5. Dekatkan kembali hati dengan ruh dakwah – Hadiri pengajian, kajian ideologi,
dan forum internal. Agar semangat itu terus hidup.
Dakwah Butuh Waktu, Bukan Janji
Mengurus Muhammadiyah dengan sisa waktu adalah tindakan yang tak adil terhadap
amanah.
Gerakan ini tidak akan kuat hanya dengan nama besar, tapi dengan jiwa-jiwa yang
benar-benar hadir.
“Jangan hanya menjadi pimpinan Muhammadiyah di struktur, jadilah pemimpin
sejati dalam pergerakan. Jadikan waktu terbaikmu sebagai persembahan terbaik
untuk Islam” (Refleksi Kaderisasi).
Muhammadiyah tidak menuntut kita sempurna. Tapi mengajak
kita untuk sungguh-sungguh. Bukan karena kita merasa mampu, tapi karena kita
percaya bahwa perjuangan ini mulia. “Berjuanglah bukan karena punya banyak
waktu, tapi karena tahu waktu kita di dunia ini sangat terbatas untuk
kebaikan.”
Wallahu a’lam bishawab.
(Syaifulh)
