Amrizal., S.Si., M.Pd (Wakil Ketua MPK SDI PW. Muhammadiyah Sumut / Ketua PCM Percut Sei Tuan)

LPKAPNEWS.COM, PERCUT - Di antara banyak pengorbanan dalam ber-Muhammadiyah, mungkin pengorbanan waktu adalah yang paling mendasar namun sering kali disepelekan. Banyak kader dan pimpinan bersedia menjabat, mengucap siap, bahkan menandatangani berita acara. Tapi setelah itu, kehadiran dan kontribusinya hanya sekedarnya. Muhammadiyah tidak kekurangan orang hebat. Kita punya banyak profesor, cendekiawan, ulama, aktivis, bahkan tokoh bangsa. Tapi yang sering kali langka adalah mereka yang bersedia mengorbankan waktu terbaiknya untuk menghidupkan gerakan ini.

Bukan Tak Mampu, Tapi Belum Menjadikan Prioritas
Fenomena ini bukan karena kader-kader kita tidak mampu. Tapi karena Muhammadiyah belum menjadi prioritas dalam hidupnya. Waktunya sudah penuh untuk pekerjaan, usaha, keluarga, dan berbagai aktivitas pribadi lainnya. Muhammadiyah hanya dapat sisa-sisa waktu, jika tidak lupa, atau tidak terlalu sibuk. Akhirnya, apa yang terjadi?
· Rapat sering tidak quorum
· Program tidak jalan
· AUM terbengkalai
· Musyawarah hanya formalitas
· Kaderisasi mandek
· Dakwah tidak berkembang

Semua ini bukan karena Muhammadiyah tidak punya sistem atau potensi. Tapi karena orang-orang yang seharusnya menggerakkannya, hadir hanya separuh hati. Allah Tidak Membeli Sisa-Sisa Waktumu.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga kepada mereka…” (QS. At-Taubah: 111).

Perhatikan: Allah membeli diri dan harta, bukan sisa-sisa waktu. Artinya, Allah menuntut pengorbanan yang utuh, totalitas dalam amal, bukan sisa energi setelah urusan dunia selesai.
Rasulullah pun bersabda:

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Jika pimpinan dan kader Muhammadiyah terjebak dalam tipuan waktu ini, maka bisa jadi kita
sedang melalaikan amanah besar yang dulu pernah kita nyatakan siap menjaganya.

Kisah KH. Ahmad Dahlan: Waktu yang Bernilai Abadi
KH. Ahmad Dahlan tidak pernah punya “waktu luang” dalam hidupnya. Setiap detik beliau isi untuk dakwah: mengajar, berdiskusi, menulis, berjuang, membina warga, mendirikan sekolah, rumah sakit, bahkan menyebarkan ide pembaruan Islam yang tak lazim pada zamannya.

Waktu beliau bukan untuk disimpan, tapi dikorbankan untuk gerakan. Beliau tidak menunggu punya banyak waktu untuk berbuat. Tapi memilih untuk meluangkan waktu untuk yang paling bermakna. Itulah teladan pimpinan sejati Muhammadiyah. Bukan hanya hadir di struktur, tapi menjadi struktur hidup yang menopang gerakan.

Refleksi Kritis: Kepemimpinan Itu Amanah, Bukan Penghormatan. Mari kita tanyakan pada diri sendiri:
· Apakah saya sudah sungguh-sungguh memimpin Muhammadiyah?
· Apakah Muhammadiyah hanya saya urus di sela-sela waktu luang?
· Apakah organisasi ini tumbuh karena saya, atau justru stagnan karena saya?

Kalau jawabannya masih menyakitkan, maka hari ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki.
Saran Konstruktif untuk Para Pimpinan dan Kader
1. Tata ulang niat – Jadikan Muhammadiyah sebagai jalan hidup, bukan sekadar kegiatan tambahan.
2. Alokasikan waktu secara spesifik – Jangan tunggu waktu luang. Buat jadwal khusus untuk rapat, kunjungan AUM, pembinaan kader, dan evaluasi program.
3. Bangun sistem tim yang kolaboratif – Jangan semua dibebankan ke satu dua orang. Buat pembagian tugas yang sehat dan sinergis.
4. Berani berkata jujur – Jika tidak sanggup mengurus dengan maksimal, jangan gengsi untuk mundur. Bantu dari luar dengan ikhlas, itu juga jihad.
5. Dekatkan kembali hati dengan ruh dakwah – Hadiri pengajian, kajian ideologi, dan forum internal. Agar semangat itu terus hidup.

Dakwah Butuh Waktu, Bukan Janji
Mengurus Muhammadiyah dengan sisa waktu adalah tindakan yang tak adil terhadap amanah.
Gerakan ini tidak akan kuat hanya dengan nama besar, tapi dengan jiwa-jiwa yang benar-benar hadir.
“Jangan hanya menjadi pimpinan Muhammadiyah di struktur, jadilah pemimpin sejati dalam pergerakan. Jadikan waktu terbaikmu sebagai persembahan terbaik untuk Islam” (Refleksi Kaderisasi).

Muhammadiyah tidak menuntut kita sempurna. Tapi mengajak kita untuk sungguh-sungguh. Bukan karena kita merasa mampu, tapi karena kita percaya bahwa perjuangan ini mulia. “Berjuanglah bukan karena punya banyak waktu, tapi karena tahu waktu kita di dunia ini sangat terbatas untuk kebaikan.”

Wallahu a’lam bishawab.

(Syaifulh)