Oleh: Amrizal., S.Si., M.Pd – (Wakil Ketua MPK SDI PWM Sumut)
LPKAPNEWS.COM, MEDAN - “Hidup-hidupilah
Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”– KH. Ahmad Dahlan. Kutipan
monumental dari Sang Pendiri Muhammadiyah ini tidak sekadar menjadi jargon
ideologis, tetapi merupakan fondasi etika berorganisasi yang harus terus
dihayati. Dalam kehidupan ber-Muhammadiyah, pengorbanan adalah nafas
perjuangan. Sebab, organisasi ini tidak dibangun oleh kata-kata semata,
melainkan oleh tetesan keringat, waktu, tenaga, pemikiran, materi, bahkan air
mata para pendahulu yang tidak pernah meminta balasan.
Pada titik inilah, para kader dan pimpinan Muhammadiyah dituntut untuk merenung
ulang: sudah sejauh mana pengorbanan yang kita berikan untuk Muhammadiyah?
Bukan untuk mengejar kedudukan, bukan pula
untuk kehormatan duniawi, melainkan sebagai bentuk bakti
kepada Islam dan umat melalui jalan organisasi. Dalam konteks penguatan
kaderisasi dan konsolidasi kepemimpinan, sekurangnya terdapat enam bentuk
pengorbanan utama yang menjadi pilar kontribusi kader dan pimpinan dalam
menunaikan tugas-tugas gerakan.
1. Korban Waktu
Waktu adalah aset paling berharga yang dimiliki manusia. Sayangnya, tidak
sedikit pimpinan dan kader yang menjadikan Muhammadiyah sekadar selingan dari
rutinitas harian. Organisasi hanya diberi sisa-sisa waktu, bukan waktu terbaik.
Padahal organisasi membutuhkan kesungguhan dan ketekunan, bukan sekadar
kehadiran simbolik.
Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-‘Ashr
bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh,
serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Pengelolaan waktu yang
baik dalam berorganisasi adalah cermin dari kedalaman iman dan tanggung jawab
terhadap amanah. Muhammadiyah membutuhkan pimpinan yang tidak hanya punya
kesediaan waktu, tetapi yang meluangkan waktu secara terencana, penuh kesadaran
dan komitmen.
2. Korban Tenaga
Gerakan ini dibangun dengan kerja keras. Di balik berdirinya amal usaha,
terlaksananya kegiatan dakwah, dan bergeraknya roda organisasi, terdapat
sumbangsih tenaga kader-kader yang ikhlas bekerja. Mereka tidak pernah
menghitung-hitung lelah, tidak pula menimbang apakah pekerjaannya tampak atau
tersembunyi.
Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam
hal ini. Beliau turut menggali parit, mengangkat beban, bahkan membersihkan
tempat ibadah dengan tangannya sendiri. Jiwa kemandirian dan keberdayaan inilah
yang perlu hidup dalam jiwa para pimpinan dan kader. Pengorbanan tenaga bukan
semata-mata tentang kerja fisik, melainkan kesediaan untuk hadir, ikut andil,
dan menyelesaikan amanah hingga tuntas.
3. Korban Pikiran
Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan pembaruan dan tajdid. Sejarahnya adalah
sejarah pemikiran. Maka, kader dan pimpinan Muhammadiyah tidak cukup hanya
menggerakkan program, tetapi juga harus hadir dengan gagasan. Membaca tantangan
zaman, menjawab kebutuhan umat, dan menawarkan solusi berbasis nilai-nilai
Islam Berkemajuan.
Berpikir untuk organisasi adalah bentuk
kontribusi intelektual yang strategis. Ide-ide segar, nalar kritis, dan
kemampuan memproyeksikan masa depan adalah bagian dari jihad pemikiran yang
sangat dibutuhkan dalam menyusun arah kebijakan dan strategi dakwah
Muhammadiyah hari ini. Kader yang berpikir adalah kader yang memberi kehidupan
pada visi gerakan.
4. Korban Materi
Dalam setiap langkah perjuangan, dukungan materi adalah kebutuhan nyata. Tidak
ada kegiatan dakwah yang berjalan tanpa pembiayaan. Amal usaha yang mandiri
sekalipun membutuhkan dukungan filantropi kader dan simpatisan. Rasulullah SAW
memberikan teladan dalam hal pengorbanan harta. Demikian pula para sahabat
seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Mereka tidak sekadar memberi,
tetapi memberi yang terbaik. Demikian pula kader-kader Muhammadiyah masa kini.
Meski tak selalu hadir secara fisik, banyak dari mereka yang tetap
menyumbangkan sebagian hartanya untuk menopang gerakan. Ini adalah kontribusi
nyata yang patut dihargai, karena ia menyambung hidup organisasi dan
menyuburkan amal saleh.
5. Korban Perasaan
Pengorbanan yang tak kasat mata, tetapi sering kali paling berat adalah
pengorbanan perasaan. Ketika kerja keras tidak diapresiasi, ketika ide ditolak,
ketika disalahpahami, bahkan ketika difitnah—namun tetap bertahan dan
istiqamah. Itu semua hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mencintai
Muhammadiyah dengan sepenuh hati. Pemimpin dan kader perlu memiliki keteguhan
jiwa. Bahwa tidak semua pengorbanan harus diakui manusia. Ada yang cukup Allah
saja yang mengetahui. Maka, diperlukan spiritualitas yang kokoh untuk
menguatkan hati dan memperpanjang langkah.
6. Korban Ego dan Kepentingan Pribadi
Pengorbanan ego adalah bentuk pengorbanan batiniah yang paling dalam. Ia
menyentuh inti dari spiritualitas dan keikhlasan seseorang. Dalam praktik
bermuhammadiyah, baik dalam struktur organisasi, kerja kolektif, maupun
kegiatan dakwah, sering kali hambatan bukan terletak pada kurangnya dana atau
tenaga, melainkan benturan ego dan kepentingan pribadi. Ego muncul dalam
bentuk: Merasa paling benar, Enggan menerima kritik, Mementingkan posisi atau
jabatan, Tidak rela jika ide pribadinya tidak diterima, Sulit mengalah demi
maslahat
bersama. Padahal Allah Swt. memerintahkan kita untuk meletakkan kepentingan
umum dan ukhuwah di atas ego pribadi: ” Dan orang-orang yang telah menyiapkan
rumah dan keimanan sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai
orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tidak merasa dalam hati mereka
keinginan terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka
mengutamakan orang lain atas diri mereka, sekalipun mereka sangat
membutuhkan” (QS. Al-Hasyr: 9)
Inilah yang dalam istilah tasawuf disebut
dengan “tazkiyatun nafs”—membersihkan jiwa dari penyakit egoisme (ujub,
takabbur, riya’, dan hasad). Dalam konteks bermuhammadiyah, tazkiyatun nafs
menjelma dalam sikap rendah hati, kolaboratif, dan mendahulukan maslahat jamaah
daripada keinginan pribadi. Jika mengorbankan materi bisa dilakukan dengan
menulis nominal, dan mengorbankan waktu bisa dijadwalkan, maka mengorbankan ego
tidak punya waktu dan bentuk—ia selalu hadir di setiap ruang keputusan. Seorang
kader bisa sibuk berjam-jam, mengeluarkan uang jutaan, tapi gagal menaklukkan
egonya. Ia menjadi aktif secara formal, tetapi kering secara spiritual.
Kader seperti ini sulit menyatu dalam
gerakan kolektif, karena ia selalu merasa sebagai pusat. Korban ego adalah
korban yang membebaskan. Bebas dari ambisi pribadi, dari hasrat dominasi, dari
kebiasaan ingin menang sendiri. Inilah bentuk tertinggi dari pengorbanan:
mengalah demi maslahat, berjiwa besar dalam kritik, dan mengabdi tanpa pamrih.
Nabi Muhammad ï·º memberikan teladan luar biasa tentang ini.
Dalam peristiwa Perjanjian
Hudaibiyah, meskipun perjanjian itu tampak merugikan Islam, Rasulullah menahan
ego, menerima syarat-syarat berat demi maslahat jangka panjang. Itulah
pengorbanan ego yang membuka jalan kemenangan.
Sebagaimana pesan dari Sayyid Quthb: “Islam
tidak akan tegak hanya dengan darah, harta, dan tenaga. Tapi dengan jiwa yang
tunduk dan hati yang bersih dari keinginan selain Allah” . Dengan demikian,
selain lima pengorbanan utama dalam bermuhammadiyah, pengorbanan ego dan
kepentingan pribadi adalah elemen penting keenam yang harus selalu dijaga.
Justru dari sinilah kualitas pengorbanan yang lain diuji: apakah waktumu,
tenagamu, hartamu, dan perasaanmu engkau berikan dengan ikhlas? Atau masih ada
kepentingan tersembunyi di baliknya?
Pengorbanan ego adalah ujian tertinggi bagi
seorang kader. Dan hanya mereka yang lulus dari ujian ini yang benar-benar
layak disebut mujahid dakwah.
Menyeimbangkan dan Mengelola Pengorbanan
Tidak semua kader dan pimpinan memiliki kekuatan di semua sisi. Ada yang
terbatas waktu, tapi lapang dalam harta. Ada yang miskin materi, tapi kaya ide
dan tenaga. Maka, kunci penting dalam organisasi adalah kolaborasi dan saling
melengkapi.
· Kader yang kuat
di satu aspek, harus terbuka bekerja sama dengan kader lain.
· Jangan saling
menuntut, tapi saling mendukung.
· Jangan
menghakimi keterbatasan, tetapi kuatkan dengan penghargaan.
Intinya: jangan ada kader yang tidak
berkontribusi. Sekecil apapun pengorbanan, jika dilakukan ikhlas dan konsisten,
itu bernilai besar di mata Allah dan memberi dampak bagi gerakan.
Menghargai Mereka yang Berkorban
Muhammadiyah perlu membudayakan apresiasi. Kader-kader yang telah berkontribusi
harus diberi ruang untuk disebut dan disyukuri. Baik lewat forum resmi,
tulisan, maupun sekadar ungkapan terima kasih yang tulus. Apresiasi bukan
pujian, tetapi bentuk penguatan moral organisasi. Dengan budaya menghargai,
kader akan tumbuh, semangat akan bertambah, dan semarak dakwah akan terus
menyala.
Karena Memimpin Itu Berkorban
Kepemimpinan dalam Muhammadiyah bukan soal jabatan atau nama. Tapi soal
keberanian untuk memberi, tanpa pamrih. Soal hadirnya kesadaran bahwa setiap
kita adalah bagian dari perjuangan Islam melalui gerakan ini. Maka,
kepemimpinan sejati adalah yang sanggup mengorbankan ego dan waktu, harta dan
pikiran, bahkan perasaan demi kebaikan bersama. “Barang siapa menanamkan
pengorbanan dalam gerak Muhammadiyah hari ini, ia sedang menyiram pohon dakwah
yang buahnya akan dinikmati generasi esok.”
Wallahu a’lam bish-shawab. (Syaifulh)
