YOKYAKARTA,
LPKAPNEWS.COM – Optimisme itu disampaikan oleh Ketua Lembaga
Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (LPPA), Prof. Siti
Syamsiyatun dalam Konferensi Pers pada Senin (13/5) di Unisa Yogyakarta
menyambut acara Konferensi Global Forum tentang Hak-hak Perempuan dalam Islam.
Universitas
‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta dipilih menjadi tempat Konferensi Global tentang
Hak-Hak Perempuan dalam Islam, kesempatan ini dimanfaatkan untuk menaikkan
kepercayaan diri dalam menjadikan Indonesia sebagai pusat studi keislaman
dunia.
“Dari
konferensi ini kita ingin meneguhkan bahwa, Indonesia jangan ragu-ragu menjadi
pusat studi Islam. Jangan merasa minder, studi Islam bisa dibangun dari
Indonesia tidak hanya dari Timur Tengah,” katanya.
Perempuan
yang akrab disapa Bu Syam ini mendorong perempuan-perempuan Islam berkemajuan
untuk percaya diri, bahwa pandangan keislaman yang mereka pedomani bisa
digunakan untuk mengadvokasi perempuan-perempuan di seluruh belahan dunia.
Di
negara-negara yang mayoritas penduduknya memeluk Agama Islam, katanya,
mayoritas hak-hak perempuan di sana masih sangat terbatas dan susah untuk
diakses. Berbeda jauh dengan di Indonesia, perempuan di negara-negara tersebut
masih terbatas bahkan untuk menjadi pemimpin dan melanjutkan pendidikan tinggi.
“Hal
ini di Indonesia sudah tidak menjadi masalah, apalagi di
Muhammadiyah-’Aisyiyah,” ungkapnya.
Salah
persoalan yang menjadi polemik bagi perempuan di negara-negara Islam adalah
tentang sunat perempuan. Praktek sunat perempuan ini sering menimbulkan masalah
terlebih di sisi kesehatan bagi perempuan, baik di masa muda maupun nanti
ketika sudah menua.
“Dalam
hal ini Muhammadiyah sudah sangat jelas, bahwa sunat perempuan tidak
dianjurkan. Jadi hal-hal semacam ini, suara-suara dari Muhammadiyah dan
‘Aisyiyah perlu disebarluaskan ke seluruh dunia, dan tapi juga di seluruh
Indonesia,” ungkapnya.
Melalui
Konferensi Global tentang Hak-Hak Perempuan dalam Islam atau Gender Conference
Women’s Right on Islam (GCWRI) harus dimanfaatkan oleh
Muhammadiyah-’Aisyiyah untuk menyebarkan pandangannya, terlebih saat ini sudah
ada Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di luar negeri.
Sekaligus
GCWRI ini diharapkan menjadi daya tarik terhadap pendidik dan peneliti untuk
melakukan penelitian tentang ‘Aisyiyah. Bahkan Bu Syam meminta ke Unisa
Yogyakarta untuk mengundang pelajar dari luar negeri untuk diberi beasiswa dan
belajar pendidikan lanjut di Unisa. (S, Mu.or.id)
