Pengamat Astronomi Prof Tono Saksono Sebut Sidang Isbat Hanya “Proyek”, Penentuan Idul Fitri Dinilai Bisa Diketahui Jauh HariLPKAPNEWS.COM - Pengamat astronomi dari Asosiasi Astronomi Indonesia, Tono Saksono, melontarkan kritik tajam terhadap pelaksanaan sidang isbat penentuan awal bulan Hijriah, khususnya Idul Fitri.
Menurutnya, sidang isbat yang rutin digelar pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia tersebut tidak lagi relevan dan cenderung hanya menjadi “proyek” seremonial.
Tono menyebut, dengan perkembangan ilmu astronomi modern, posisi hilal sebenarnya sudah dapat dihitung secara akurat jauh hari sebelum tanggal pelaksanaan sidang isbat.
“Secara sains, kita sudah bisa mengetahui kapan hilal itu mungkin terlihat atau tidak terlihat bahkan bertahun-tahun sebelumnya. Jadi tidak perlu menunggu sidang isbat untuk menentukan Idul Fitri,” ujarnya dalam keterangannya.
Ia menambahkan, metode hisab (perhitungan astronomi) saat ini telah mencapai tingkat akurasi yang sangat tinggi, sehingga ketergantungan pada rukyat (pengamatan langsung) dinilai tidak lagi menjadi satu-satunya acuan.
Lebih lanjut, Tono menilai sidang isbat yang digelar setiap tahun berpotensi menghabiskan anggaran negara, mulai dari biaya koordinasi lintas lembaga hingga pelaksanaan pemantauan hilal di berbagai daerah.
“Kalau hasilnya sebenarnya sudah bisa diprediksi sebelumnya, maka sidang ini terkesan hanya formalitas saja,” katanya.
Meski demikian, pemerintah selama ini tetap mempertahankan sidang isbat dengan alasan menjaga legitimasi keputusan serta mengakomodasi berbagai metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan oleh organisasi masyarakat Islam di Indonesia.
Sidang isbat juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari pakar astronomi, perwakilan ormas Islam, hingga instansi terkait untuk mencapai keputusan bersama terkait penetapan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Perdebatan antara penggunaan metode hisab dan rukyat sendiri bukan hal baru di Indonesia. Sejumlah kalangan menilai kombinasi keduanya tetap penting untuk menjaga keharmonisan umat, meskipun secara ilmiah perhitungan astronomi dinilai semakin presisi dari waktu ke waktu.
Pernyataan Tono ini kembali memicu diskusi publik terkait perlunya evaluasi mekanisme penentuan hari besar keagamaan di Indonesia, terutama di tengah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Kalau dipikir prof tono memang benar, gerhana matahari dan gerhana bulan saja sudah bisa ditentukan jauh hari sebelum terjadi kenapa menentukan awal bulan saja seribet ini?
(Rdaksi)