Muhammadiyah Tidak Bermadzhab. Apakah Muhammadiyah Lebih Pintar Dari Imam Syafi'i?

 LPKAPNEWS.COM - Sejak menjadi bagian dari Unsur Pimpinan di Muhammadiyah Temanggung periode 48 ini, ada 2 hal baru yang menjadi prioritas dalam hidup saya sebagai bentuk tanggung jawab kami menjadi aktivis Muhammadiyah.

1. Belajar kembali tentang Muhammadiyah; manhaj, khittah, tata cara ibadahnya, dll.

2. Mensosialisasikan produk-produk hasil ijtihad para ulama Muhammadiyah, khususnya putusan dan fatwanya.

Nah, salah satu respons yang kami dapatkan setelah kami mensosialisasikan produk ijtihad para ulama Muhammadiyah adalah pertanyaan sebagai berikut, "Muhammadiyah kan tidak bermadzhab. Lebih pintar Muhammadiyah atau Imam Syafi'i?"

Hmph, menarik untuk kita bahas.

Yang pertama, Muhammadiyah memang tidak bermadzhab. Namun Muhammadiyah juga tidak anti madzhab.

Dalam pernyataan resminya, Muhammadiyah lebih mengenalkan dirinya sebagai gerakan Islam yang berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah Al-Maqbulah dengan menggunakan metode tarjih dalam memahami dan menetapkan hukum-hukum agama.

Oleh karena itu, Muhammadiyah tidak mengikatkan diri kepada satu madzhab fikih tertentu, namun juga tidak menutup diri dari khazanah keilmuan yang diwariskan para imam madzhab.

Bahkan dalam praktiknya, banyak keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah yang sejalan dengan pendapat para imam madzhab. Dalam satu masalah mungkin sejalan dengan Imam Syafi'i, pada masalah lain sejalan dengan Imam Ahmad, dan pada masalah yang berbeda lagi sejalan dengan Imam Malik atau Imam Abu Hanifah.

Semua itu menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak memiliki sikap alergi terhadap madzhab, melainkan menjadikan pendapat para ulama sebagai bahan kajian dan pertimbangan dalam proses istinbath hukum.

Menariknya, sikap seperti ini sebenarnya sejalan dengan pesan para imam madzhab sendiri. Imam Syafi'i pernah berkata, "Apabila hadits itu sahih, maka itulah madzhabku". Imam Malik juga berkata, "Setiap orang dapat diterima dan ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini", sambil menunjuk makam Rasulullah

Artinya, para imam madzhab sendiri tidak menghendaki fanatisme buta terhadap pendapat mereka. Mereka mengajarkan agar umat senantiasa menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai rujukan utama, sementara pendapat para ulama dijadikan sarana untuk memahami keduanya.

Oleh sebab itu, ketika Muhammadiyah tidak mengikatkan diri kepada satu madzhab tertentu, hal itu bukan berarti meremehkan para imam madzhab. Justru Muhammadiyah berusaha menghormati mereka dengan mengikuti semangat yang mereka ajarkan, yaitu mendahulukan dalil di atas fanatisme kepada tokoh tertentu.

Yang kedua, logika yang mengatakan bahwa ketika Muhammadiyah mengeluarkan ijtihadnya sendiri, berarti Muhammadiyah merasa lebih pintar dari Imam Syafi'i, adalah logika yang keliru.

Sebab, bahkan ketika seseorang memilih untuk bermadzhab kepada Imam Syafi'i, pada hakikatnya ia sedang meninggalkan pendapat imam madzhab yang lain dalam masalah yang sama. Namun, tidak ada yang kemudian mengatakan bahwa ia merasa lebih pintar daripada Imam Abu Hanifah, Imam Malik, atau Imam Ahmad.

Contoh dalam masalah qunut Subuh. Ketika Anda mengatakan qunut Subuh itu sunnah karena mengikuti Imam Syafi'i, berarti Anda tidak mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad yang tidak mensunnahkannya secara rutin. Namun tentu tidak ada yang mengatakan bahwa Anda merasa lebih pintar daripada kedua imam tersebut.

Maka demikian pula ketika Muhammadiyah melakukan tarjih dan memilih pendapat yang dianggap lebih kuat berdasarkan dalil, hal itu tidak berarti merasa lebih alim atau lebih pintar daripada Imam Syafi'i. Yang dinilai adalah kekuatan argumentasinya, bukan siapa tokohnya. Muhammadiyah hanya memilih pendapat yang dianggap lebih kuat berdasarkan kajian terhadap Al-Qur'an, As-Sunnah, dan pendapat para ulama.

Dan kalau seandainya logika "berbeda pendapat berarti merasa lebih pintar" diterima, maka para imam madzhab sendiri harus dianggap saling merasa lebih pintar satu sama lain. Padahal faktanya mereka banyak berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati, saling memuji, dan mengakui keilmuan masing-masing.

(Redaksi)