1. Belajar kembali tentang Muhammadiyah;
manhaj, khittah, tata cara ibadahnya, dll.
2. Mensosialisasikan produk-produk hasil
ijtihad para ulama Muhammadiyah, khususnya putusan dan fatwanya.
Nah, salah satu respons yang kami dapatkan
setelah kami mensosialisasikan produk ijtihad para ulama Muhammadiyah adalah
pertanyaan sebagai berikut, "Muhammadiyah kan tidak bermadzhab. Lebih
pintar Muhammadiyah atau Imam Syafi'i?"
Hmph, menarik untuk kita bahas.
Yang pertama, Muhammadiyah memang tidak bermadzhab.
Namun Muhammadiyah juga tidak anti madzhab.
Dalam pernyataan resminya, Muhammadiyah lebih
mengenalkan dirinya sebagai gerakan Islam yang berpegang teguh kepada Al-Qur'an
dan As-Sunnah Al-Maqbulah dengan menggunakan metode tarjih dalam memahami dan
menetapkan hukum-hukum agama.
Oleh karena itu, Muhammadiyah tidak mengikatkan
diri kepada satu madzhab fikih tertentu, namun juga tidak menutup diri dari
khazanah keilmuan yang diwariskan para imam madzhab.
Bahkan dalam praktiknya, banyak keputusan
Majelis Tarjih Muhammadiyah yang sejalan dengan pendapat para imam madzhab.
Dalam satu masalah mungkin sejalan dengan Imam Syafi'i, pada masalah lain
sejalan dengan Imam Ahmad, dan pada masalah yang berbeda lagi sejalan dengan
Imam Malik atau Imam Abu Hanifah.
Semua itu menunjukkan bahwa Muhammadiyah
tidak memiliki sikap alergi terhadap madzhab, melainkan menjadikan pendapat
para ulama sebagai bahan kajian dan pertimbangan dalam proses istinbath hukum.
Menariknya, sikap seperti ini sebenarnya
sejalan dengan pesan para imam madzhab sendiri. Imam Syafi'i pernah berkata,
"Apabila hadits itu sahih, maka itulah madzhabku". Imam Malik juga
berkata, "Setiap orang dapat diterima dan ditolak pendapatnya, kecuali
penghuni kubur ini", sambil menunjuk makam Rasulullah
Artinya, para imam madzhab sendiri tidak
menghendaki fanatisme buta terhadap pendapat mereka. Mereka mengajarkan agar
umat senantiasa menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai rujukan utama,
sementara pendapat para ulama dijadikan sarana untuk memahami keduanya.
Oleh sebab itu, ketika Muhammadiyah tidak
mengikatkan diri kepada satu madzhab tertentu, hal itu bukan berarti meremehkan
para imam madzhab. Justru Muhammadiyah berusaha menghormati mereka dengan
mengikuti semangat yang mereka ajarkan, yaitu mendahulukan dalil di atas
fanatisme kepada tokoh tertentu.
Yang kedua, logika yang mengatakan bahwa
ketika Muhammadiyah mengeluarkan ijtihadnya sendiri, berarti Muhammadiyah
merasa lebih pintar dari Imam Syafi'i, adalah logika yang keliru.
Sebab, bahkan ketika seseorang memilih untuk
bermadzhab kepada Imam Syafi'i, pada hakikatnya ia sedang meninggalkan pendapat
imam madzhab yang lain dalam masalah yang sama. Namun, tidak ada yang kemudian
mengatakan bahwa ia merasa lebih pintar daripada Imam Abu Hanifah, Imam Malik,
atau Imam Ahmad.
Contoh dalam masalah qunut Subuh. Ketika
Anda mengatakan qunut Subuh itu sunnah karena mengikuti Imam Syafi'i, berarti
Anda tidak mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad yang tidak
mensunnahkannya secara rutin. Namun tentu tidak ada yang mengatakan bahwa Anda
merasa lebih pintar daripada kedua imam tersebut.
Maka demikian pula ketika Muhammadiyah melakukan
tarjih dan memilih pendapat yang dianggap lebih kuat berdasarkan dalil, hal itu
tidak berarti merasa lebih alim atau lebih pintar daripada Imam Syafi'i. Yang
dinilai adalah kekuatan argumentasinya, bukan siapa tokohnya. Muhammadiyah
hanya memilih pendapat yang dianggap lebih kuat berdasarkan kajian terhadap
Al-Qur'an, As-Sunnah, dan pendapat para ulama.
Dan kalau seandainya logika
"berbeda pendapat berarti merasa lebih pintar" diterima, maka para
imam madzhab sendiri harus dianggap saling merasa lebih pintar satu sama lain.
Padahal faktanya mereka banyak berbeda pendapat, tetapi tetap saling
menghormati, saling memuji, dan mengakui keilmuan masing-masing.
(Redaksi)
