Siapa Sangka? Di Balik Tenangnya, Prof. Jimly Adalah Sosok Penting yang Merancang Wajah Politik Indonesia Pasca-ReformasiLPKAPNEWS.COM - Publik mengenal Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., sebagai sosok akademisi yang tenang, santun, dan sangat berwibawa. Namun, siapa sangka di balik pembawaannya yang sejuk tersebut, ia adalah "arsitek" utama yang bekerja di balik layar untuk merancang ulang wajah politik dan hukum Indonesia saat badai Reformasi 1998 menerjang.
Kepercayaan di Masa Transisi Kritis
Saat Indonesia berada di titik nadir pasca-mundurnya Presiden Soeharto, Jimly Asshiddiqie adalah orang kepercayaan Presiden B.J. Habibie. Sebagai Asisten Wakil Presiden kala itu, ia memegang peran krusial dalam Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani.
Jika saat itu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin kelompok kerja reformasi politik, maka Jimly adalah nakhoda di kelompok Reformasi Hukum. Ia bertugas mengkaji perubahan UUD 1945—sebuah langkah berani yang kemudian mengubah total sistem pemilihan Presiden Indonesia dari mandat MPR menjadi pilihan langsung oleh rakyat.
Membidani Lahirnya Mahkamah Konstitusi
Jimly bukan sekadar pengamat hukum; ia adalah pelaksana sejarah. Ia terlibat langsung dalam perancangan UU Mahkamah Konstitusi (MK). Dedikasinya tersebut membawanya terpilih sebagai Ketua MK pertama pada tahun 2003.
Di tangan Jimly, MK yang saat itu merupakan lembaga "bayi" berhasil tumbuh menjadi lembaga peradilan yang sangat disegani dan tepercaya. Ia meletakkan dasar-dasar modernisasi peradilan yang membuat Indonesia memiliki standar hukum yang setara dengan negara-negara demokrasi maju lainnya.
Begawan Hukum yang Tak Pernah Berhenti Menulis
Meski sibuk di jantung kekuasaan, sisi akademisi Jimly tak pernah luntur. Guru Besar Universitas Indonesia ini adalah salah satu penulis paling produktif di tanah air dengan koleksi lebih dari 65 judul buku.
Banyak ide segarnya yang menjadi rujukan nasional, seperti konsep Green Constitution (Konstitusi Hijau) dan Peradilan Etika. Ia membuktikan bahwa ilmu hukum tidak boleh kaku, melainkan harus mampu menjawab tantangan zaman dan menjaga moralitas para penyelenggara negara.
Penjaga Gawang Etika dan Demokrasi
Kepiawaiannya mendamaikan konflik politik melalui jalur hukum dan etika terlihat jelas saat ia memimpin Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Ia memperkenalkan peradilan etika pertama di dunia, sebuah inovasi yang memastikan bahwa demokrasi tidak hanya soal menang-kalah, tetapi soal integritas dan kehormatan.
Kini, di usianya yang terus matang, Prof. Jimly tetap aktif memberikan kontribusi bagi bangsa, termasuk tugas barunya sebagai Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri pada 2025.
Sosok Prof. Jimly Asshiddiqie adalah bukti nyata bahwa ketenangan bukanlah tanda kelemahan. Justru dari ketenangan itulah, lahir pemikiran-pemikiran besar yang kini menjadi fondasi kokoh bagi politik dan hukum di Republik Indonesia.
Sumber: Wikipedia (Profil Jimly Assiddiqie)