Mengapa Hilal "Naik" Ke 3 Derajat ? (Dari ufuk senja hingga meja sidang isbat: ketika tradisi rukyat dipertemukan dengan koreksi data astronomi modern)

LPKAPNEWS.COM - Menjelang magrib di berbagai pantai di Nusantara, teleskop-teleskop kecil diarahkan ke ufuk barat. Langit tampak jernih. Para perukyat menahan napas, menunggu garis tipis yang disebut hilal -- bulan sabit pertama penanda awal bulan Hijriah. Namun, sering kali yang mereka tunggu tak kunjung tampak. Di saat yang sama, di ruang-ruang laboratorium dan kantor kementerian, para ahli falak sudah “melihat” bulan itu lebih dahulu -- melalui angka, grafik, dan simulasi.
Di antara dua cara melihat itu -- mata dan angka -- berdiri satu pertanyaan penting: kapan hilal benar-benar mungkin terlihat?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang melahirkan kriteria MABIMS, forum kerja sama Menteri Agama empat negara Asia Tenggara: Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sejak awal 1990-an, mereka mencoba menyatukan bahasa antara tradisi rukyat dan pendekatan ilmiah.
Dari Angka Lama ke Langit Nyata
Pada 1992, MABIMS menyepakati kriteria yang dikenal sebagai 2-3-8: tinggi hilal minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan 8 jam setelah ijtimak. Angka-angka ini lama menjadi pegangan resmi.
Namun waktu, seperti biasa, menguji keyakinan manusia.
Dalam praktiknya, hilal dengan ketinggian 2 derajat hampir selalu “menghilang” di balik cahaya senja. Secara matematis ia ada, tetapi secara visual ia nyaris mustahil ditangkap. Data pengamatan dari berbagai negara menunjukkan kegagalan berulang. Rukyat tidak mengonfirmasi apa yang dihitung oleh hisab.
Di sinilah sains mulai berbicara lebih keras.
Lembaga seperti HM Nautical Almanac Office (HMNAO) menunjukkan bahwa visibilitas hilal sangat bergantung pada elongasi -- jarak sudut antara bulan dan matahari. Semakin kecil sudutnya, semakin tenggelam hilal dalam cahaya senja. Sementara itu, European Southern Observatory (ESO) menjelaskan bagaimana hamburan cahaya atmosfer membuat objek redup di dekat horizon menjadi hampir mustahil dilihat.
Dengan kata lain: tidak semua yang “ada” bisa “terlihat”.
Ketika Sains Mengoreksi Tradisi
Akumulasi data global akhirnya mendorong revisi. Setelah melalui diskusi panjang, MABIMS mengubah kriteria menjadi lebih realistis: tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Perubahan itu tampak sederhana -- hanya selisih satu derajat. Namun dalam astronomi, satu derajat di dekat horizon adalah perbedaan antara “mungkin terlihat” dan “hampir mustahil terlihat”.
Kriteria baru tersebut bukan sekadar kompromi, melainkan hasil pembacaan ulang terhadap pengalaman kolektif manusia mengamati langit. Ia adalah koreksi ilmiah atas optimisme lama.
Sejak 2022, Indonesia mulai menerapkannya secara resmi dalam sidang isbat. Hisab digunakan untuk memprediksi, rukyat untuk mengonfirmasi. Dua pendekatan itu tidak lagi dipertentangkan, melainkan saling menguatkan.
Mengapa Negara Lain Berbeda?
Pertanyaan berikutnya muncul: jika sainsnya sama, mengapa tidak semua negara menggunakan angka yang sama?
Jawabannya tidak sesederhana astronomi.
Di Arab Saudi, misalnya, pendekatan rukyat tradisional masih sangat dominan, dengan otoritas keagamaan menerima kesaksian visual meskipun secara astronomi peluang visibilitasnya diperdebatkan. Di sisi lain, Turki cenderung menggunakan hisab murni dengan standar kalender yang sudah dipatok jauh hari.
Negara-negara seperti Pakistan, India, dan Bangladesh juga memiliki dinamika sendiri -- memadukan otoritas ulama, tradisi lokal, dan pertimbangan astronomi dengan cara yang tidak selalu seragam.
Artinya, perbedaan bukan semata soal data, tetapi juga soal otoritas, tradisi, dan cara memaknai kata “melihat”.
Antara Kepastian dan Keyakinan
Kriteria 3 derajat bukan angka sakral. Ia bukan wahyu. Ia adalah hasil ijtihad ilmiah, upaya manusia membaca langit dengan alat yang semakin presisi.
Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Ia menjembatani dua dunia: dunia keyakinan yang menghormati kesaksian mata, dan dunia sains yang menuntut verifikasi. Ia mengurangi kemungkinan kesalahan, tanpa meniadakan tradisi.
Ketika akhirnya pemerintah mengumumkan awal Ramadan atau Idulfitri, publik hanya mendengar satu kalimat keputusan. Padahal di baliknya ada cerita yang cukup panjang: teleskop di tepi pantai, grafik di layar komputer, perdebatan di ruang sidang, dan langit senja yang tak selalu bersahabat.
Hilal, pada akhirnya, bukan sekadar bulan sabit tipis di ufuk barat. Ia adalah simbol dari satu hal yang lebih dalam: usaha manusia untuk menyelaraskan iman dengan pengetahuan.
Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari “melihat” hilal bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan akal.

Narasumber, Yusrizal Ibrahim Lamno adalah pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik.