LPKAPNEWS.COM - Berangkat dari anekdot tentang Kemenangan Dialektik Muhammadiyah, sebagaimana pernah menjadi bahan candaan dari Abdurrahman Wahid bersama Malik Fadjar, sejatinya bukan sekadar anekdot intelektual semata, melainkan tesis besar tentang bagaimana pembaharuan bekerja dalam sejarah Islam Indonesia. Gagasan yang awalnya ditolak, dicurigai, bahkan dituduh menyimpang, pada akhirnya diterima, dinormalisasi, dan bahkan ditiru secara massif.
Inilah yg dimksud lingkaran dialektika, tesis, antitesis, lalu sintesis yang akhirnya melahirkan peradaban baru.
Dalam konteks itu, peran Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah, menjadi sangat sentral. Beliau bukan sekadar ulama normatif, tetapi seorang arsitek peradaban. Ketika Kyai Dahlan menerjemahkan Al-Qur’an dalam praksis sosial melalui Al-Ma’un Ethics, sejatinya beliau sedang memindahkan agama dari ruang retorika ke ruang aksi. Rumah sakit, sekolah modern, panti asuhan, semua itu bukan sekadar amal, tetapi bentuk konkret dari ijtihad sosial yang pada zamannya dianggap “liar” dan “kebarat-baratan”.
Namun sejarah membuktikan, bahwa yang dituduh sesat itu justru akan menjadi arus utama peradaban.
KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) harus dibaca dalam kerangka yang sama, yakni bukan sekadar soal teknis penanggalan, melainkan ijtihad epistemologis dalam membaca waktu, ruang, dan kesatuan umat. Ini adalah upaya intelektual melampaui fragmentasi umat Islam dalam menentukan awal dan akhir ibadah.
KHGT adalah simbol keberanian Muhammadiyah untuk, Melawan stagnasi (jumud),
Menyederhanakan kompleksitas umat global, Mengintegrasikan sains, astronomi, dan fiqh dalam satu sistem terpadu
Sebagaimana dahulu Langgar Kidoel dirobohkan demi pembaharuan arah kiblat, maka KHGT hari ini adalah “Langgar Kidoel baru” dalam dimensi waktu.
Sebagai kader Muhammadiyah yang tumbuh dari Ortom hingga kader muballigh Muhammadiyah di tanah Papua.
Perspektif kami, bahwa Papua bukan sekadar wilayah geografis, tetapi ruang dialektika peradaban. Karena Di Papua, modernisasi seringkali berhadapan dengan, Tradisi lokal yang kuat, Ketimpangan pembangunan, Sensitivitas identitas dan kultural, Keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan. Di sinilah spirit Muhammadiyah menemukan relevansinya.
Jika di Jawa, Ahmad Dahlan melawan tradisi jumud berbasis feodalisme dan sinkretisme, maka di Papua, kader Muhammadiyah menghadapi tantangan yang lebih kompleks, yakni bagaimana menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin tanpa merusak struktur sosial lokal, tetapi justru memperkuatnya.
Di Papua, KHGT bisa dimaknai lebih luas sebagai, Simbol Integrasi Papua yang plural, yang masih membutuhkan simbol-simbol pemersatu.
KHGT dapat menjadi representasi bahwa Islam hadir dengan wajah universal, tidak eksklusif, dan tidak terfragmentasi.
Rasionalitas dalam Beragama Masyarakat Papua yang sedang bertumbuh, membutuhkan pendekatan rasional dan kontekstual. KHGT menunjukkan bahwa Islam tidak anti-sains, justru berbasis ilmu pengetahuan.
Spirit Anti Jumud Sebagaimana masyarakat dahulu menolak rumah sakit karena dianggap “cara kafir”, hari ini mungkin ada resistensi terhadap pembaharuan. Namun KHGT mengajarkan bahwa keberanian intelektual adalah bagian dari refleksi iman.
Muhammadiyah di Papua tidak cukup hanya hadir sebagai lembaga pendidikan atau kesehatan. Namun Muhammadiyah harus menjadi, Gerakan pembebasan sosial. harus menjdi Gerakan pencerahan intelektual. harus tampil sbg Gerakan pemberdayaan masyarakat adat.
Sebagai kader Hizbul Wathan dan muballigh muhammadiyah, posisi kami bukan hanya sebagai penyampai dakwah, tetapi sebagai agen transformasi sosial. Karena sebagai kader pergerakan Muhammadiyah, kami membawa misi yang sama dengan K.H. Ahmad Dahlan, yakni bagaimana mengubah cara berpikir umat.
Sebagai kader hingga menjadi aktivis Muhammadiyah. Satu kebanggaan abadi kami. Bahwa Sejarah Muhammadiyah adalah sejarah keberanian melawan arus. Dari Al-Ma’un hingga KHGT, dari Langgar Kidoel hingga universitas modern, semua lahir dari keberanian untuk berbeda.
Dan sebagaimana diyakini dalam Islam. bahwa logika ijtihad itu, jika benar produk pemikirannya, jika langkahnya benar, maka akan mendapat dua pahala, jika salah mendapat satu pahala.
Maka diskursus tentng KHGT bukan sekadar benar atau salah. Namun adalah keberanian untuk berpikir. Di Papua, keberanian itu menjadi lebih bermakna, lebih penting dan strategis,
karena di tanah yang sering dipinggirkan ini, setiap ijtihad bukan hanya soal agama, tetapi juga soal keadilan, kemanusiaan, dan masa depan umat manusia.
Dan mungkin, beberapa tahun ke depan, seperti yang selalu berulang dalam sejarah, yang hari ini diperdebatkan, disepelekan, disalah salahkan… akan menjadi sesuatu yang “ditiru rame-rame.” akan menjadi warisan peradaban umat.
Wallahu a'lamu bissawab...
Narasumber, Bang AK (kader dan aktivis dakwah Muhammadiyah)
