LPKAPNEWS.COM - Hari ini, gagasan KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) masih banyak ditolak dan belum dipahami dengan baik oleh sebagian kaum muslimin. Namun jika kita melihat dalil, logika syariat, serta perkembangan ilmu pengetahuan, dan dinamika kehidupan manusia, insyaallah suatu saat KHGT akan diterima sebagai sebuah keniscayaan.
Mengapa demikian? Pertama, Islam Menghendaki persatuan kaum muslimin.
Allah ﷻ berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan umat adalah tujuan syariat. Namun dalam kenyataannya, setiap tahun kaum muslimin sering berbeda dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Ada yang berpuasa hari ini, ada yang besok. Ada yang berhari raya, ada yang masih puasa.
Padahal umat Islam sekarang hidup dalam satu dunia yang saling terhubung. Informasi sampai dalam hitungan detik. Maka secara rasional dan syar'i, sangat wajar jika umat Islam memiliki satu kalender hijriyah global yang sama.
Inilah yang menjadi tujuan KHGT.
Kedua, persatuan umat Islam harus bersifat global, bukan persatuan lokal saja.
﴿إِنَّ هَـٰذِهِۦۤ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةࣰ وَ ٰحِدَةࣰ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُونِ ٩٢﴾ [الأنبياء ٩٢]
Ketiga, bulan Itu Satu untuk Seluruh Bumi
Allah berfirman:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: itu adalah penentu waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji.”
(QS. Al-Baqarah: 189)
Allah tidak mengatakan bulan itu penentu waktu bagi penduduk satu negeri saja, tetapi bagi manusia seluruhnya.
Artinya, bulan hijriyah secara hakikat bersifat universal. Ia bukan milik satu negara atau satu kawasan.
Karena itu, secara prinsip sangat logis jika kalender hijriyah berlaku secara global.
Keempat, Rukyah dalam Hadits Adalah Cara, Bukan Tujuan
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا
“Kami adalah umat yang ummiy, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu begini dan begini.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan kondisi umat pada masa itu: belum mengenal perhitungan astronomi secara luas.
Karena itu rukyah menjadi cara paling mudah saat itu.
Namun ketika ilmu pengetahuan berkembang dan manusia mampu melakukan hisab astronomi yang sangat akurat, maka penggunaan hisab bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan syariat.
Hisab hanyalah alat untuk mengetahui waktu, sebagaimana rukyah dahulu.
Kelima, Banyak Hal yang Dulu Ditolak, Kini Diterima
Sejarah sering menunjukkan bahwa sesuatu yang baru sering ditolak pada awalnya, tetapi kemudian diterima setelah dipahami.
Contohnya:
Arah Kiblat
Dulu KH. Ahmad Dahlan menjelaskan bahwa arah kiblat di Jawa tidak tepat lurus ke barat, tetapi harus sedikit serong menuju Ka'bah.
Pada masa itu, beliau bahkan dituduh membawa ajaran sesat.
Namun hari ini semua masjid memakai kompas, hisab, dan alat ukur untuk menentukan kiblat.
Pengeras Suara di Masjid
Dahulu penggunaan sound system di masjid juga pernah dituduh bid'ah.
Namun sekarang hampir semua masjid memakainya karena memudahkan jamaah mendengar imam dan khutbah.
Kran untuk Wudhu
Dulu orang berwudhu memakai ember atau bak air.
Ketika muncul kran air, ada yang menganggapnya bid'ah. Tetapi kini semua orang memakainya karena lebih mudah dan bersih.
Semua ini menunjukkan satu hal:
cara bisa berubah, tetapi tujuan syariat tetap sama.
Keenam, KHGT Adalah Upaya Mengatur Waktu Ibadah sekaligus aktivitas kehidupan Secara Lebih Baik
KHGT pada hakikatnya hanyalah sistem kalender untuk menata waktu ibadah umat Islam secara global.
Tujuannya antara lain:
Menyatukan penentuan awal Ramadhan
Menyatukan hari Idul Fitri
Menyatukan hari Idul Adha
Memudahkan perencanaan ibadah dan aktivitas umat Islam di seluruh dunia
Dengan ilmu astronomi modern, posisi bulan sudah dapat dihitung sangat presisi bahkan puluhan tahun ke depan.
Karena itu, secara ilmiah kalender hijriyah global sangat mungkin diwujudkan, dan bahkan menjadi kebutuhan untuk mengatur aktifitas kehidupan yang tak mungkin terelakkan.
Ketujuh, Ilmu Adalah Jalan Kemajuan
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Dengan ilmu, manusia mampu memahami alam semesta lebih baik.
Termasuk memahami pergerakan matahari dan bulan yang Allah ciptakan sebagai penentu waktu.
Jadi, Hari ini KHGT mungkin masih banyak yang menolak dan belum dimengerti oleh sebagian umat.
Namun jika dilihat dari dalil, logika syariat, perkembangan ilmu, dan kebutuhan persatuan umat, serta pengaturan kehidupan baik urusan ibadah maupun aktivitas lain secara umum, InsyaAllah suatu saat KHGT akan diterima sebagai kebutuhan dan keniscayaan.
Sebagaimana banyak hal lain dalam sejarah Islam:
yang dahulu ditolak, akhirnya diterima setelah manusia memahami akan manfaatnya.
Karena itu, tugas kita adalah terus belajar, berdialog, dan menjelaskan dengan hikmah. Agar umat tidak lambat faham. Lambat faham, itulah yang menyebabkan keterbelakangan.
Semoga Allah membimbing umat ini menuju ilmu, persatuan, dan kemaslahatan bersama secara menyeluruh sehingga kembali memimpin Dunia dengan penuh Rahmah.
Wallahu a’lam.
Narasumber, KH. Muhammad Syamlan
