Bagian 02 : Amplop Pengajian
LPKAPNEWS.COM - Di tengah zaman ketika undangan pengajian bisa lebih ribet dari persiapan kondangan, kisah Pak AR Fachrudin rasanya seperti cerita dari dunia yang lebih bening. Sejak muda sampai setelah purna tugas dari jabatan Ketua Umum PP Muhammadiyah, beliau punya satu kebiasaan yang tidak pernah lekang. Mengisi pengajian di kampung kampung. Bukan sekali dua kali, tapi terus menerus seperti mata air yang tidak pernah kering.
Yang bikin salut, Pak AR tidak pernah membeda bedakan forum. Mau yang undangan Bupati dengan kursi empuk berpelapis kain wangi, atau pengajian kecil di langgar bambu dengan kipas angin yang bunyinya seperti pesawat mau lepas landas, semuanya beliau sambangi saja. Syaratnya sederhana. Kalau waktu cocok, ya berangkat. Tidak pakai ribut soal sound system harus sekian watt, atau mic harus yang tidak berdesis. Kata beliau, ini pengajian, bukan konser musik. Dan benar saja, meski sound kadang sember atau malah mati, jamaah tetap khusyuk mendengar. Suara beliau seperti membawa ketenangan tersendiri.
Tapi ada satu hal yang membuat siapa saja mengelus dada, antara bangga dan haru. Pak AR terkenal menolak amplop pembicara. Amplop yang oleh beberapa panitia disebut bisyarah, tanda terima kasih, atau apa pun istilahnya. Banyak yang heran, kok bisa seseorang yang sibuk, capek, jauh jauh datang, malah tidak mau menerima apa pun.
Suatu hari ada yang memberanikan diri bertanya langsung. “Pak AR, kenapa tidak mau menerima amplop itu?” Beliau tersenyum, senyum khas yang membuat orang merasa sedang ditegur dengan lembut. Lalu berkata pelan, “Saya ini diundang karena membawa nama Muhammadiyah. Kalau bukan karena Muhammadiyah, mereka tidak kenal dan tidak akan mengundang saya. Maka apa pun yang diberikan panitia itu hak Muhammadiyah, bukan hak saya.”
Jawaban itu sederhana. Tidak ada teori panjang. Tidak ada ceramah tentang keikhlasan. Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat itu menancap seperti paku yang dipalu perlahan. Diam diam menusuk hati yang mendengarnya.
Di zaman sekarang, ketika kadang ada orang yang lebih dulu menanyakan fasilitas sebelum materi, sikap Pak AR rasanya seperti meteor cahaya yang lewat sekejap tapi menyisakan jejak terang. Kita bangga pernah punya tokoh seperti itu. Tapi di saat yang sama, mata terasa panas.
Allahummaghfirlahu warhamhu.
(Redaksi)
