Sebelum Mendirikan Muhammadiyah, pada 1 Desember 1911
Kiai Dahlan Terlebih Dahulu Mendirikan SekolahLPKAPNEWS.COM, YOGYAKARTA – Awal Desember tahun 1911
menjadi mileston pendidikan Muhammadiyah, yang saat ini telah berkembang bak
jamur di musim hujan di seluruh penjuru negeri bahkan di luar negeri.
Pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan untuk pertama
kali mendirikan lembaga pendidikan modern yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah
Diniyah Islam (MIDI) pada 1 Desember 1911, atau setahun sebelum mendirikan
Muhammadiyah (1912).
Kecerdikan Kiai Dahlan meneropong masa depan zaman dengan
mendirikan pendidikan modern yang mengintegrasikan materi-materi keagamaan dan
umum membawa wajah baru islam yang ideal tidak hanya untuk di Indonesia.
Setidaknya itu yang disampaikan oleh Antropolog asal
Boston University, Robert W Hefner dalam Pengajian Ramadan 1442 PP Muhammadiyah
(16/4/2021) secara daring di saat pandemi covid-19 melanda dunia.
Di Indonesia, wajah pendidikan Islam dalam arti madrasah
menurut Hefner baru bermula pada akhir abad ke-18 dengan sistem pengajaran
klasik melalui pendirian berbagai pondok pesantren tradisional.
Pendidikan pun seputar Al-Quran, Hadis, kitab hukum
(ushul fiqh) dan ilmu pokok (ushuluddin) di dalam Islam. Sedangkan
sumber-sumber pengajaran (kurikulum) hampir dipastikan berasal dari Timur
Tengah.
Pendidikan Muhammadiyah menyertakan kurikulum pelajaran
yang tidak sebatas permasalahan agama dan hanya bersumber dari Timur Tengah.
Tetapi turut menyertakan pendidikan sains dan sumber-sumber Barat yang saat itu
lazimnya dianggap kafir atau menyimpang oleh kalangan tradisional.
Madrasah atau lembaga pendidikan yang didirikan
Muhammadiyah juga tidak mengcopy paste model-model pendidikan Timur Tengah,
seperti Al Azhar yang berada di Mesir yang saat itu – mungkin sampai sekarang
dianggap sebagai pusat pendidikan agama islam (Choirun Niswa, 2022).
Kurikulum pendidikan integratif yang dipilih oleh
Muhammadiyah menjadi alternatif, sekaligus dianggap sebagai solusi bagi dunia
Islam yang mengalami ketertinggalan – terlebih di masa itu dunia islam berada
dalam cengkraman Kolonialisme Barat.
Melalui pendidikan yang integratif di MIDI, Kiai Dahlan
berusaha memberikan sudut pandang baru bagi umat Islam dan bangsa Indonesia
pada umumnya dalam melihat pola-pola kehidupan secara rasional.
Maka jika meminjam istilah anak-anak sekarang yang
kembali membaca Madilog, sesungguhnya upaya menghilangkan logika mistika dengan
demistifikasi itu telah dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan sejak 1 Desember 1911
dengan mendirikan MIDI.
Namun yang perlu diingat adalah Muhammadiyah sebagai
gerakan wasathiyah atau tengahan. Sehingga meskipun rasionalitas menjadi cara
pandang baru, akan tetapi sakralitas yang terkait iman, akidah, dan akhlak
masih dijaga dan ajarkan.
Oleh karena itu, lembaga pendidikan yang didirikan Kiai
Dahlan pada 1 Desember 1911 itu merupakan sintesa atas sistem pendidikan yang
terlalu dikotomis – lembaga pendidikan Islam yang hanya mengajarkan ilmu agama,
di sisi lain pendidikan yang diselenggarakan pemerintah Kolonial yang sekuler.
Sumber, Muhammadiyah Or Id