Kota Baru, Lampung Selatan selama tiga hari, berubah menjadi medan kosmik tempat aqidah, akhlak, dan ekonomi bertabrakan seperti bintang-bintang yang sedang thawaf mencari orbitnya. Lebih dari 575 ribu jamaah, termasuk 8.500 peserta internasional dari 99 negara, tumpah ruah dengan tekad yang menggelegar seperti kalimat lā ilāha illā Allāh yang diucapkan serentak oleh ratusan ribu lidah. Dari kejauhan, kerumunan itu tampak bukan seperti manusia, tetapi seperti satu tubuh akbar yang bergerak dalam harmoni, persis definisi akidah: mengikat hati dalam satu keyakinan tanpa retak dan ragu.
Sejak pagi, udara Lampung menjadi ruang belajar raksasa Ilmu Aqidah Akhlak. Ada rukun iman yang hidup dalam bentuk manusia, beriman kepada Allah dengan langkah mantap, beriman kepada takdir sambil menerima dengan lapang rezeki yang kadang berupa hujan, kadang berupa sandal hilang. Ada pula akhlak yang berwujud antrean panjang, kesabaran berjamaah, dan senyum yang tetap terbit meski sinyal telepon padam seketika seperti iman yang diuji di padang pasir batin.
Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama hadir bagaikan guru tauhid yang menyambut murid-murid dari segala penjuru dunia. Di kiri kanannya, Wakil Bupati M. Syaiful Anwar dan Sekda Supriyanto berdiri dengan penuh takzim, seakan mereka bertiga sedang menjadi saksi betapa Lampung Selatan hari itu naik derajat dari kabupaten biasa menjadi halaqah akbar peradaban. Kehadiran pejabat bukan sekadar formalitas, tapi sebuah syahadat administrasi bahwa negeri ini serius mengurus tamunya, dunia dan akhirat sekaligus.
Salat Jumat yang dipimpin Menteri Agama RI Nasaruddin Umar berubah menjadi kuliah umum aqidah akhlak paling besar abad ini. Ketika beliau berkata, “Kita hadir di sini bukan hanya untuk ritual, tapi untuk memperbaiki diri, memohon keselamatan negeri, dan mempererat ukhuwah,” seluruh jamaah mengangguk seperti sedang lulus ujian akhlak dengan predikat mumtaz. Bahkan angin sore yang berhembus terasa ikut mengamini. Ada Menko Pangan Zulkifli Hasan, ada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, ada pula Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, semuanya larut dalam suasana yang membuat pejabat sekaliber mereka tampak seperti santri yang baru pertama kali ikut tabligh.
Di sisi ekonomi, hukum kausalitas aqidah-akhlak bekerja sangat jelas: amal baik menghasilkan keberkahan. Ternyata keberkahan itu tidak turun dalam bentuk cahaya dari langit, melainkan dalam bentuk perputaran uang puluhan miliar rupiah. Pedagang kaki lima berubah menjadi penguasa pasar mendadak, yang biasanya cuma menjual empat gelas es teh kini menjual empat ribu. Wanda (36), warga lokal, bahkan naik kelas dari “bukan pedagang” menjadi “pedagang karena keadaan memaksa akhlak untuk lebih kreatif”. Ia tersenyum seperti malaikat pencatat amal baru saja memberi notifikasi bahwa omzetnya sah dan halal.
Transportasi lokal ikut berubah menjadi eksperimen kesabaran akhlak. Para pengemudi ojek online mengantarkan jamaah dengan kecepatan yang membuat MotoGP terlihat seperti latihan pemanasan saja. Penginapan penuh, tenda habis, logistik meluber seperti rizki yang diturunkan tanpa hisab. Kota Baru sepanjang hari hidup, bagaikan jiwa yang sedang mendapatkan hidayah ekonomi.
Namun tidak ada akhlak tanpa penjagaan. Itulah mengapa 1.088 personel Polda Lampung dikerahkan. Mereka menjadi seperti malaikat penjaga yang memastikan kerumunan raksasa ini tetap damai. Mereka berjalan, mengatur, dan mengawasi seperti para raqib dan atid yang bekerja lembur, mencatat tingkah manusia sambil sesekali tersenyum melihat jamaah mancanegara bingung membedakan bedug dan toa mushala.
Di balik semua hiruk pikuk itu, Ijtima Ulama Dunia 2025 adalah laboratorium akidah paling nyata. Ketika 575 ribu manusia berkumpul, ego mereka menyusut, akhlak mereka tumbuh, dan kesadaran kolektif menyala seperti nur di tengah kegelapan. Jamaah Tabligh dari berbagai negara datang bukan sekadar menghadiri acara, tapi menghidupkan iman, memperhalus akhlak, dan membuktikan bahwa ukhuwah itu bukan teori, melainkan energi yang bisa menggerakkan ekonomi, menggetarkan tanah, dan menyatukan bahasa.
Pada akhirnya, Lampung Selatan bukan hanya menjadi tuan rumah. Ia menjadi saksi, aqidah yang benar bisa menenangkan hati, akhlak yang baik bisa menenangkan negeri, dan jamaah yang banyak bisa menenangkan dompet warga. Selama tiga hari itu, Kota Baru menjadi tempat di mana zikir naik ke langit, ekonomi turun ke bumi, dan manusia dari 99 negara berdiri bersama dalam satu simpul: ikatan aqidah yang mempersatukan, dan akhlak yang menghidupkan.
Narasumber, Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

