Mengenal Jamaah Tabligh Beserta Kontroversialnya
LPKAPNEWS - Mereka hanya ngajak salat ke masjid, dengarkan tausiah, dakwah keluar kampung. Sungguh pun demikian tetap ada kontroversialnya. Itulah Jamaah Tabligh. Mari kita ungkap, siapa sebenarnya jamaah ini sambil seruput Koptagul, wak!
Jamaah Tabligh. Mereka seperti komet-komet taat salat yang melintas dari satu masjid ke masjid lain. Mereka membawa gravitasi dakwah begitu kuat sampai-sampai warga kampung merasa seperti sedang ditarik oleh black hole spiritual. Jejak mereka panjang sejak 1926 di India, ketika Muhammad Ilyas meluncurkan “misi penyelamatan iman” semacam program reset galaksi yang bertujuan membawa umat kembali ke orbit ibadah.
Gerakan ini sekarang sudah menyebar ke sekitar 150 negara, dengan estimasi pengikut global antara 12 juta hingga 80 juta jiwa. Rentangnya jauh sekali, macam astronom memperkirakan jumlah bintang di galaksi sambil menutup satu mata, mungkin segini, mungkin segitu, terserah teleskopnya. Yang jelas, mereka ada di mana-mana. Di Inggris, misalnya, ada sekitar 50.000 jamaah aktif, dan kalau dihitung yang pernah ikut kegiatan Tabligh, jumlahnya bisa 250.000–300.000 orang. Di Pakistan, sekali ijtima bisa dihadiri 250.000 orang. Di India, ribuan jamaah asing pernah ikut pertemuan akbar. Di Indonesia sendiri, menurut beberapa pengamatan aktivis NU, ada sekitar 7.500 anggota aktif, 10.000 setengah aktif, dan 15.000 tidak aktif, total sekitar 32 ribuan yang benar-benar terdeteksi orbitnya, belum termasuk yang hanya lewat dan ikut khuruj musiman.
Namun, seperti semua objek langit, semakin terang mereka tampak, semakin panjang bayangannya. Kontroversi jadi satelit setia Jamaah Tabligh. Yang paling viral tentu saja era pandemi. Ijtima Tabligh kala itu dianggap “supernova penularan”, terutama setelah acara besar di India, Malaysia, hingga Indonesia. Ratusan ribu orang berkumpul dalam satu titik? Dari perspektif astronomi itu indah. Dari perspektif epidemiologi, itu asteroid yang sedang memantul-mantul menuju bumi. Media internasional pun menjadikan mereka headline, kadang terasa seperti dijadikan meteor kambing hitam. Jamaah merasa, “Kami ini berdakwah, bukan ingin jadi bintang tamu klaster nasional.”
Kontroversi lain datang dari identitas visual mereka. Sebenarnya sederhana saja, jubah, kopiah, jenggot. Tapi di mata sebagian orang, ini tampak seperti kedatangan makhluk antariksa yang sangat saleh. Masyarakat yang belum terbiasa bisa melihat ini sebagai “identitas eksklusif”, seolah mereka berasal dari planet lain. Padahal, mereka cuma ingin hidup sederhana, atau minimal, sederhana seperti kalkulator Casio.
Lalu muncul pula isu politik. Secara resmi, Jamaah Tabligh apolitis. Mereka ini seperti Pluto dalam tata surya politik Indonesia. Ada, tapi tidak ikut memilih presiden, tidak bikin baliho, dan tidak pernah ribut soal pilkada. Namun beberapa pengamat politik tetap menuding ada “gravitasi politik kecil-kecilan” di beberapa daerah. Artinya, meski planet ini dingin, kadang diam-diam ada juga magma kecil di tengahnya.
KhurÅ«j, ritual “tur dakwah” adalah ciri khas mereka. Ini misi luar angkasa versi syariah. Pergi 3 hari, 40 hari, bahkan 4 bulan untuk membenahi diri. Bagi jamaah, ini seperti menjadi astronot spiritual yang keluar dari atmosfer duniawi. Bagi keluarga yang ditinggal, ini seperti menunggu kapsul SpaceX mendarat, penuh harapan, tapi ya jangan kelamaan, Abang. Kritik pun muncul. Dakwah bagus, tapi orbit rumah tangga jangan sampai melebar terlalu jauh, nanti dikhawatirkan tabrakan dengan ekonomi keluarga.
Tidak ketinggalan, ada pula friksi internal. Dunia Tabligh ternyata punya dua faksi besar, yakni kubu Syura dan kubu Maulana Saad. Ini seperti perang dingin dua galaksi yang sama-sama mengklaim punya peta orbit asli. Perpecahan ini membuat jamaah kadang bingung, harus ikut markaz mana? Yang koordinatnya ke barat atau ke timur? Maka ketegangan internal ikut berkelana ke berbagai negara, meskipun tidak sampai meledak seperti supernova, yah, minimal masih level kembang api.
Akhirnya, ketika Ijtima besar seperti di Lampung Selatan berlangsung, magnitudo sosialnya langsung terasa. Ratusan ribu jamaah berpotensi datang, seperti gugus bintang bermigrasi. Pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat setempat langsung menata ulang orbit mereka, menyiapkan akses jalan, sanitasi, kesehatan, dan segala bentuk mitigasi kemungkinan. Karena pengalaman pandemi kemarin masih meninggalkan debu kosmik di ingatan, publik pun waspada sekaligus penasaran.
Begitulah Jamaah Tabligh. Gerakan yang niat dasarnya sederhana, ajak orang kembali ke masjid, tetapi energi sosial, kultural, dan kontroversinya sering membesar seperti bintang merah raksasa. Mereka bukan nebula paling terang di tata surya keagamaan kita, tetapi selalu punya daya tarik gravitasi yang kuat. Kadang dikagumi, kadang dikritik, kadang disalahpahami. Namun satu hal pasti, mereka tetap melintas dalam orbitnya, membawa pesan dakwah sambil menembus atmosfer prasangka, berharap tidak terbakar di tengah perjalanan. Mereka seperti komet yang keras kepala tapi istiqamah, melaju terus dalam garis edar yang sudah ditentukan sejak mula.

Narasumber, Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar