Pesan Haedar di Milad KOKAM ke-60: Tangguh Bukan Hanya Fisik, Tapi juga Akhlak

YOGYAKARTA, LPKAPNEWS  – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan selamat Milad ke-60 Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM).

Pada Milad ke-60 KOKAM mengangkat tema “KOKAM Tangguh, Sinergi Menjaga dan Membangun Negeri”. Haedar berharap tema itu tidak hanya bersifat fisik dan kedisiplinan, tapi tangguh secara moral, mental dan intelektual.

“Sehingga KOKAM menjadi kader Pemuda Muhammadiyah, kader Muhammadiyah yang mampu menggabungkan kekuatan fisik, kedisiplinan, dan kekuatan akhlak, atau karakter,” kata Haedar pada Kamis (2/10).

Haedar memandang, karakter dan akhlak merupakan kekuatan utama dalam gerak KOKAM dan gerak AMM pada umumnya. Karakter dan akhlak mulia menjadi modal untuk menghadapi segala tantangan dan masalah.

Haedar juga mengingatkan supaya KOKAM dan AMM secara keseluruhan tidak terbawa arus yang menggerus perjuangan, seperti arus materialistik, hedonistik, dan segala arus keduniawian.

“KOKAM tangguh harus merupakan satu keutuhan, sinergi membangun dan membela bangsa harus dimulai dengan membangun persatuan,” imbuhnya.

Kebersamaan dalam membangun bangsa dan negara menurut Haedar harus dibersamai dengan ketulusan, keikhlasan, pengabdian, dan semangat untuk berbagi. Maka KOKAM harus berada di depan untuk membangun bangsa dan negara.

Usaha membangun bangsa dan negara yang dilakukan oleh KOKAM harus mengikuti jejak Muhammadiyah, yaitu berdiri di atas semangat ibadah, keikhlasan, serta mengintegrasikan keislaman dan keindonesiaan.

“Wujudkan peran Islam yang wasathiyah, Islam yang berkemajuan, Islam yang rahmatan lil alamin dengan peran kebangsaan. Sehingga peran kebangsaan dan negara dituntut untuk mengabdi dan berbakti,” imbuhnya.

Mengabdi untuk bangsa dan negara, kata Haedar, dasarnya adalah memberi bukan meminta. Oleh karena itu mengabdi harus menjadi kekuatan utama dalam membangun negeri, semangat berbagi menjadi jaringan untuk dikembangkan. 

Guru Besar Ilmu Sosiologi ini mengatakan, bahwa membangun Indonesia tidak bisa dilakukan sendirian. Indonesia juga bukan milik kekuatan atau kekuatan tertentu – lebih-lebih kelompok kecil semata.

“Sebagaimana Bung Karno atau Sukarno mengatakan, Indonesia adalah milik bersama. Bukan satu golongan, termasuk golongan bangsawa, atau golongan yang kaya semata. Tetapi Indonesia milik bersama,” sambung Haedar.

Haedar menutup harapan supaya KOKAM hadir membangun bangsa dan negara dengan jiwa mengabdi – beribadah kepada Allah SWT, tulus, berkhidmat, dan menjalankan misi dakwah dan tajdid untuk kemajuan Indonesia.

Sumber, Muhammadiyah Or Id