LPKAPNEWS - Sejarah perkembangan Muhammadiyah di Jawa
Barat sering kali dianggap terlambat dibandingkan daerah lain. Namun, fakta
sejarah menunjukkan bahwa Garut justru menjadi salah satu pusat awal
berkembangnya organisasi ini.
Pendirian Muhammadiyah Cabang Garut pada 1923, bahkan
telah dirintis sejak 1919 melalui gerakan sosial-keagamaan Al-Hidayah. Salah
satu faktor penting di balik dinamika tersebut adalah peran para saudagar batik
di Pasar Baru Garut, terutama H.M. Djamhari, yang menjadi katalisator dalam
pertumbuhan Muhammadiyah di wilayah Priangan.
Para saudagar batik memainkan peranan strategis karena
mereka merupakan kelompok elite dengan kedudukan sosial-ekonomi yang kuat.
Modal finansial dan jejaring sosial yang luas memungkinkan mereka mendukung
Muhammadiyah, baik dari sisi pendanaan maupun legitimasi sosial. Mereka tidak
hanya berperan sebagai donatur, tetapi juga penggerak utama yang
mengintegrasikan dakwah Islam modern dengan aktivitas ekonomi dan budaya lokal.
Salah satu kontribusi terbesar saudagar batik adalah
dalam bidang pendidikan. Madrasah Al-Hidayah yang berdiri pada 1919 merupakan
sekolah Islam modern pertama di Jawa Barat. Lembaga ini kemudian menjadi amal
usaha Muhammadiyah Cabang Garut.
Kehadiran sekolah tersebut menunjukkan bagaimana
filantropi saudagar batik menjadi fondasi dakwah Muhammadiyah. Mereka menyadari
bahwa pendidikan adalah senjata utama dalam menghadapi tantangan zaman,
termasuk penetrasi misi zending Kristen yang berkembang pada awal abad ke-20.
Selain pendidikan, saudagar batik juga membiayai berbagai
aktivitas dakwah. Mereka mendukung pengiriman mubaligh Muhammadiyah ke berbagai
daerah seperti Tasikmalaya, Kuningan, Bandung, hingga Sukabumi.
Dengan demikian, Garut berfungsi sebagai pusat ekspansi
Muhammadiyah di Jawa Barat. Bahkan pada 1940, Muhammadiyah Cabang Garut
dipercaya menjadi tuan rumah Conferentie Moehammadijah se-Hindia Timur.
Ini jadi peristiwa nasional yang seluruh biayanya ditanggung oleh saudagar
batik setempat.
Peran mereka tidak hanya terbatas pada dakwah keagamaan,
melainkan juga menyentuh ranah sosial-budaya. Pasar Baru Garut, tempat para
saudagar beraktivitas, bukan sekadar arena transaksi ekonomi, tetapi juga ruang
interaksi sosial dan dakwah.
Dari sanalah lahir sinergi antara rumah, pasar, dan
masjid, yang membentuk pola kehidupan kosmopolitan sekaligus religius. Dukungan
mereka terhadap Aisyiyah, pendirian masjid, dan kegiatan sosial lainnya semakin
memperkuat basis dakwah Muhammadiyah di Garut.
Secara teoritis, peran saudagar batik mencerminkan fungsi
kelas menengah dalam perubahan sosial. Mereka menjadi motor kapitalisme pribumi
sekaligus agen dakwah Islam modern. Keberanian untuk menggabungkan semangat
kewirausahaan dengan misi dakwah membuktikan bahwa Muhammadiyah di Garut tidak
lahir dari ruang kosong, melainkan dari kombinasi etos kerja, kedermawanan, dan
visi kemajuan umat.
Kesimpulannya, keberhasilan Muhammadiyah berkembang di
Jawa Barat pada awal abad ke-20 tidak bisa dilepaskan dari kontribusi para
saudagar batik Garut. Melalui kekuatan ekonomi, jaringan sosial, dan semangat
filantropi, mereka mampu membidani lahirnya lembaga pendidikan, menggerakkan
dakwah, serta membangun basis sosial Muhammadiyah yang kokoh.
Jejak peran saudagar batik ini penting bagi sejarah lokal
Garut juga bagi pemahaman kita tentang bagaimana gerakan Islam modern dapat
berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
(Redaksi)
