Hari
Senin berikutnya, malaikat Jibril tiba-tiba muncul. “Bacalah,” perintahnya.
Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril memeluk Nabi dengan sangat kuat
hingga seluruh tenaga terasa hilang. Kemudian Jibril berkata lagi, “Bacalah.”
Nabi mengulangi jawabannya. Pelukan itu terjadi untuk kedua kalinya dengan
kekuatan yang sama. Untuk ketiga kalinya Jibril berkata, “Bacalah,” lalu
melanjutkan dengan firman pertama dari Al-Qur’an:
“Bacalah
dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajarkan manusia dengan
pena, yang mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:
1-5).
Para
ulama pada masa-masa setelahnya berusaha memahami makna peristiwa tersebut. Ada
yang berpendapat bahwa Jibril memeluk Nabi agar beliau yakin bahwa peristiwa
itu nyata, bukan mimpi. Ada pula yang memaknai tiga pelukan tersebut sebagai
simbol dari tiga ujian besar yang kelak akan dihadapi Nabi, yaitu masa
pemboikotan di Makkah, upaya pembunuhan yang berakhir dengan hijrah, dan
pertempuran di Uhud.
Wahyu
pertama ini menandai kelahiran sebuah paradigma baru tentang pengetahuan.
Menariknya, perintah pertama dalam Islam bukanlah shalat, bukan zakat, bukan
puasa, dan bukan haji, melainkan iqra’. Perintahnya sampai dua kali. Iqra’
pertama untuk pengetahuan wahyu (‘ulūm al-dīn); iqra’ kedua untuk pengetahuan
dunia (‘ulūm al-dunyā).
Secara
kolektif, perintah tunggal ini menuntut segala bentuk aktivitas kognitif, di
antaranya tafakur (merenung), tadabur (mengambil pelajaran), tanadhar (melihat
secara kontekstual), dan tasyakur (bersyukur). Semua aktivitas ini harus
dibingkai dalam premis awal, yaitu “bismi rabbik alladzi khalaq” (dengan nama Tuhanmu yang
menciptakan).
Dua abad
setelah perintah pertama itu disampaikan, dunia Islam menjelma menjadi pusat
peradaban ilmu pengetahuan. Ketika Eropa masih berkutat dalam abad kegelapan,
kota-kota Muslim berpendar dengan cahaya ilmu baik Baghdad, Kairo, Damaskus,
Bukhara, Samarkand, Nishapur, hingga Kordoba.
Jika
kamu lahir di Baghdad pada abad ke-9, kamu akan menyaksikan dunia yang sangat
berbeda dari dunia hari ini. Di tepi Sungai Tigris, di antara menara-menara
masjid dan taman-taman istana, kamu akan melihat perpustakaan raksasa
bernama Bayt al-Hikmah. Di sana, para cendekia dari
berbagai agama dan bangsa duduk bersama. Muslim, Yahudi, dan Kristen, semua
tenggelam dalam lembaran naskah kuno dari Yunani, Persia, dan India.
Jika
kamu menyusuri seluruh dunia Islam pada masa itu, kamu akan mendapati satu
benang merah. Semua aktivitas intelektual berangkat dari satu kesadaran bahwa
pengetahuan adalah ibadah. Alam dilihat bukan sebagai musuh yang harus
ditaklukkan. Mereka percaya bahwa memahami ciptaan berarti mendekati Sang
Pencipta.
Dalam
paradigma ini, ketika Tuhan hadir sebagai fondasi, tidak muncul masalah-masalah
besar yang mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Hidup berjalan dalam ritme
yang wajar, tidak ada ketergesaan untuk menaklukkan zaman, tidak ada ambisi
untuk menguasai alam. Setiap penemuan justru semakin mengokohkan rasa syukur
kepada Tuhan.
Namun
kemudian, gelombang pemikiran baru datang dari Eropa sekitaran abad ke-17.
Gerakan “Pencerahan” lahir sebagai reaksi terhadap otoritas Gereja yang
dianggap membelenggu. Mereka mengusung jargon-jargon seperti sapere aude (beranilah berpikir sendiri) dari Immanuel Kant, yang mendorong
manusia untuk keluar dari ketergantungannya pada otoritas mana pun. Descartes
dengan Cogito ergo sum-nya menjadikan akal manusia
satu-satunya ukuran kebenaran yang tak terbantahkan. Kemudian Nietzsche dengan
lantang menyatakan “Tuhan telah mati”, menandai sebuah era di mana sudut
pandang manusia sepenuhnya menggantikan sudut pandang Tuhan.
Pemikiran-pemikiran
sekularistik ini kemudian merambat dan mempengaruhi dunia Islam. Konsep
memisahkan agama dari sains dan kehidupan publik, yang awalnya ditujukan untuk
membebaskan Eropa dari cengkeraman Gereja, diimpor begitu saja ke dunia Muslim
yang tidak memiliki sejarah konflik yang sama antara sains dan agama.
Akibatnya,
cara kita memandang pengetahuan pun berubah. Iqra’ tak
lagi dimulai dengan bismi rabbik alladzi khalaq, melainkan dengan “atas nama
kemajuan”. Dengan kemajuan-kemajuan ini kita memang telah menghilangkan ancaman
purba. Wabah dapat dikendalikan, kelaparan bisa diatasi, perang tampak dapat
diatur oleh diplomasi dan teknologi.
Namun,
untuk pertama kalinya dalam sejarah, pada abad ke-21 manusia menciptakan
ancaman yang benar-benar bisa menghapus keberadaannya sendiri. Ketiga ancaman
itu adalah perang nuklir, keruntuhan ekologis, dan disrupsi teknologi.
Perang
nuklir membuat satu keputusan politik bisa menghapus sejarah umat manusia dalam
sekejap. Krisis ekologi memperlihatkan bagaimana kerakusan ekonomi modern
mengguncang keseimbangan bumi dan memicu perubahan iklim yang susah
dikendalikan. Sementara disrupsi teknologi terutama kecerdasan buatan mulai
belajar mengambil keputusan yang dulu hanya milik manusia.
Dalam paradigma sekular ini, kita berlari mengejar kemampuan keilahian (deus) untuk bisa mencipta, mengubah, bahkan menentukan hidup dan mati. Akibatnya ilmu pengetahuan tidak lagi diarahkan untuk memahami ciptaan Tuhan, melainkan untuk menciptakan “Tuhan-Tuhan” baru berupa teknologi yang maha kuasa. Kita berhasil memahami semesta alam, tetapi justru menghadapi kemungkinan kehancuran oleh tangan kita sendiri.
Mungkin
di tengah hiruk-pikuk dunia modern ini, kamu dan kita semua perlu kembali
sejenak ke “Gua Hira”. Bukan untuk bersembunyi dari kemajuan, tetapi untuk
mengingat kembali dari mana pengetahuan sejati bermula. Di sana, di tempat
wahyu pertama turun, kita diingatkan bahwa setiap iqra’ sejatinya
harus selalu dimulai dengan bismi rabbik alladzi khalaq.
(Redaksi)
