Nabi Saw Menerima Wahyu Pertama | Serial Sirah Nabawi 18

LPKAPNEWS - Pada hari Sabtu di bulan Ramadan, Nabi Muhammad sedang berdiam di Gua Hira. Dalam kesendirian itu, beliau melihat cahaya dan mendengar suara, tetapi tidak terjadi sesuatu yang jelas. Keesokan harinya peristiwa serupa terulang. Cahaya kembali terlihat, suara kembali terdengar, dan beliau tetap belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Hari Senin berikutnya, malaikat Jibril tiba-tiba muncul. “Bacalah,” perintahnya. Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril memeluk Nabi dengan sangat kuat hingga seluruh tenaga terasa hilang. Kemudian Jibril berkata lagi, “Bacalah.” Nabi mengulangi jawabannya. Pelukan itu terjadi untuk kedua kalinya dengan kekuatan yang sama. Untuk ketiga kalinya Jibril berkata, “Bacalah,” lalu melanjutkan dengan firman pertama dari Al-Qur’an:

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajarkan manusia dengan pena, yang mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Para ulama pada masa-masa setelahnya berusaha memahami makna peristiwa tersebut. Ada yang berpendapat bahwa Jibril memeluk Nabi agar beliau yakin bahwa peristiwa itu nyata, bukan mimpi. Ada pula yang memaknai tiga pelukan tersebut sebagai simbol dari tiga ujian besar yang kelak akan dihadapi Nabi, yaitu masa pemboikotan di Makkah, upaya pembunuhan yang berakhir dengan hijrah, dan pertempuran di Uhud.

Wahyu pertama ini menandai kelahiran sebuah paradigma baru tentang pengetahuan. Menariknya, perintah pertama dalam Islam bukanlah shalat, bukan zakat, bukan puasa, dan bukan haji, melainkan iqra’. Perintahnya sampai dua kali. Iqra’ pertama untuk pengetahuan wahyu (‘ulūm al-dīn); iqra’ kedua untuk pengetahuan dunia (‘ulūm al-dunyā).

Secara kolektif, perintah tunggal ini menuntut segala bentuk aktivitas kognitif, di antaranya tafakur (merenung), tadabur (mengambil pelajaran), tanadhar (melihat secara kontekstual), dan tasyakur (bersyukur). Semua aktivitas ini harus dibingkai dalam premis awal, yaitu “bismi rabbik alladzi khalaq” (dengan nama Tuhanmu yang menciptakan).

Dua abad setelah perintah pertama itu disampaikan, dunia Islam menjelma menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan. Ketika Eropa masih berkutat dalam abad kegelapan, kota-kota Muslim berpendar dengan cahaya ilmu baik Baghdad, Kairo, Damaskus, Bukhara, Samarkand, Nishapur, hingga Kordoba.

Jika kamu lahir di Baghdad pada abad ke-9, kamu akan menyaksikan dunia yang sangat berbeda dari dunia hari ini. Di tepi Sungai Tigris, di antara menara-menara masjid dan taman-taman istana, kamu akan melihat perpustakaan raksasa bernama Bayt al-Hikmah. Di sana, para cendekia dari berbagai agama dan bangsa duduk bersama. Muslim, Yahudi, dan Kristen, semua tenggelam dalam lembaran naskah kuno dari Yunani, Persia, dan India.

Jika kamu menyusuri seluruh dunia Islam pada masa itu, kamu akan mendapati satu benang merah. Semua aktivitas intelektual berangkat dari satu kesadaran bahwa pengetahuan adalah ibadah. Alam dilihat bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Mereka percaya bahwa memahami ciptaan berarti mendekati Sang Pencipta.

Dalam paradigma ini, ketika Tuhan hadir sebagai fondasi, tidak muncul masalah-masalah besar yang mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Hidup berjalan dalam ritme yang wajar, tidak ada ketergesaan untuk menaklukkan zaman, tidak ada ambisi untuk menguasai alam. Setiap penemuan justru semakin mengokohkan rasa syukur kepada Tuhan.

Namun kemudian, gelombang pemikiran baru datang dari Eropa sekitaran abad ke-17. Gerakan “Pencerahan” lahir sebagai reaksi terhadap otoritas Gereja yang dianggap membelenggu. Mereka mengusung jargon-jargon seperti sapere aude (beranilah berpikir sendiri) dari Immanuel Kant, yang mendorong manusia untuk keluar dari ketergantungannya pada otoritas mana pun. Descartes dengan Cogito ergo sum-nya menjadikan akal manusia satu-satunya ukuran kebenaran yang tak terbantahkan. Kemudian Nietzsche dengan lantang menyatakan “Tuhan telah mati”, menandai sebuah era di mana sudut pandang manusia sepenuhnya menggantikan sudut pandang Tuhan.

Pemikiran-pemikiran sekularistik ini kemudian merambat dan mempengaruhi dunia Islam. Konsep memisahkan agama dari sains dan kehidupan publik, yang awalnya ditujukan untuk membebaskan Eropa dari cengkeraman Gereja, diimpor begitu saja ke dunia Muslim yang tidak memiliki sejarah konflik yang sama antara sains dan agama.

Akibatnya, cara kita memandang pengetahuan pun berubah. Iqra’ tak lagi dimulai dengan bismi rabbik alladzi khalaq, melainkan dengan “atas nama kemajuan”. Dengan kemajuan-kemajuan ini kita memang telah menghilangkan ancaman purba. Wabah dapat dikendalikan, kelaparan bisa diatasi, perang tampak dapat diatur oleh diplomasi dan teknologi.

Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah, pada abad ke-21 manusia menciptakan ancaman yang benar-benar bisa menghapus keberadaannya sendiri. Ketiga ancaman itu adalah perang nuklir, keruntuhan ekologis, dan disrupsi teknologi.

Perang nuklir membuat satu keputusan politik bisa menghapus sejarah umat manusia dalam sekejap. Krisis ekologi memperlihatkan bagaimana kerakusan ekonomi modern mengguncang keseimbangan bumi dan memicu perubahan iklim yang susah dikendalikan. Sementara disrupsi teknologi terutama kecerdasan buatan mulai belajar mengambil keputusan yang dulu hanya milik manusia.

Dalam paradigma sekular ini, kita berlari mengejar kemampuan keilahian (deus) untuk bisa mencipta, mengubah, bahkan menentukan hidup dan mati. Akibatnya ilmu pengetahuan tidak lagi diarahkan untuk memahami ciptaan Tuhan, melainkan untuk menciptakan “Tuhan-Tuhan” baru berupa teknologi yang maha kuasa. Kita berhasil memahami semesta alam, tetapi justru menghadapi kemungkinan kehancuran oleh tangan kita sendiri.

Mungkin di tengah hiruk-pikuk dunia modern ini, kamu dan kita semua perlu kembali sejenak ke “Gua Hira”. Bukan untuk bersembunyi dari kemajuan, tetapi untuk mengingat kembali dari mana pengetahuan sejati bermula. Di sana, di tempat wahyu pertama turun, kita diingatkan bahwa setiap iqra’ sejatinya harus selalu dimulai dengan bismi rabbik alladzi khalaq.

(Redaksi)