LPKAPNEWS - Muhammadiyah tahun 2025 genap memasuki usia yang ke 113 tahun – dalam hitungan kalender masehi. Tema yang diangkat pada Milad ke-113 Muhammadiyah kali ini adalah “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, tema yang relevan – atau mungkin sambungan dari Milad ke-112 “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua”.
Jika ditarik mundur sedikit, tema yang diangkat pada
kedua milad Muhammadiyah tersebut memiliki kesesuaian dengan yang disebutkan
dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 Makassar tahun 2015. Di
halaman 123 disebutkan, Muhammadiyah menghendaki penghapusan praktik hidup
mistik dan irasional yang menghambat kemajuan dan mendorong pengembangan
ekonomi berbasis ilmu.
Penguatan pilar pendidikan diharapkan menjadi obor yang menjaga nyala pencerahan bagi umat dan generasi mendatang dalam menatap kehidupan dengan rasional dan berdampak pada kemakmuran dus menyejahterakan. Meski demikian tentu masih ada beberapa catatan untuk pilar pendidikan – catatan ini untuk menjaga nyala semangat memajukan.
Kritik internal untuk institusi pendidikan seakan tidak
kunjung putus, khususnya urusan gaji guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Meski tidak semua, namun masih ada beberapa sekolah Muhammadiyah di
daerah-daerah yang kesulitan menggaji gurunya. Namun pelan-pelan Muhammadiyah
merespon itu dengan berbagai gerakan inovatif.
Di beberapa daerah, semangat memberikan upah layak kepada
guru telah dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya dengan pendayagunaan lahan
wakaf untuk tanaman produktif, yang kemudian hasilnya digunakan untuk menggaji
guru dan biaya operasional sekolah.
Selain itu yang paling mencolok tentu adalah peran
Lazismu dengan pilar pendidikannya – membantu sekolah maupun guru untuk lebih
sejahtera. Ada juga terobosan dan inovasi mutakhir yang dilakukan oleh
Muhammadiyah, yakni dengan menghimpun Dana Pendidikan Abadi yang launching pada
Milad ke-111 Muhammadiyah.
Catatan untuk menjaga nyala semangat memajukan pendidikan
ini lebih tertuju pada penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah. Sementara
untuk Pendidikan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA), Muhammadiyah dianggap
jauh melampaui ekspektasi sebagai organisasi keagamaan yang menyelenggarakan
pendidikan tinggi.
Selanjutnya pilar kesehatan tidak perlu ditanya,
Muhammadiyah leading dari berbagai sisi dibandingkan dengan gerakan keagamaan
lain dalam urusan pelayanan kesehatan di Indonesia. Organisasi ini bahkan
tercatat sebagai organisasi Islam terkaya di dunia, atau organisasi keagamaan
terkaya keempat di dunia.
Mengokohkan Pilar Ekonomi Umat Pilar pendidikan dan kesehatan pada nyatanya tidak dapat dipisahkan dari pilar ekonomi – kegiatan ekonomi. Hadirnya sebuah institusi pendidikan dan kesehatan di suatu tempat atau wilayah akan berdampak pada berputarnya roda perekonomian. Institusi pendidikan maupun kesehatan ini menjadi daya tarik orang untuk berkerumun.
Kerumunan atau crowd mengindikasikan orang
banyak berkumpul untuk berbagai aktivitas, seperti belajar maupun berobat. Tak
hanya itu mereka juga akan melakukan aktivitas lain seperti berbelanja, makan,
berlibur, atau menghadiri acara. Semua aktivitas ini melibatkan transaksi antara
pembeli dan penjual.
Efek domino
dari kerumunan ini adalah terjadinya transaksi di
area keramaian menyebabkan perputaran uang atau velocity of
money dalam skala kecil maupun besar –
dari konsumen ke produsen dan penyedia jasa.
Tentu situasi ini akan berdampak pada
munculnya pedagang maupun penyedia jasa kecil maupun besar.
Ketika banyak orang berkumpul, UMKM, pedagang, dan
pengusaha kecil memiliki kesempatan lebih besar untuk menjual produk dan jasa
mereka. Artinya kerumunan ini mendukung keberlangsungan dan pertumbuhan bisnis
mereka. Aktivitas ekonomi yang meningkat di area keramaian secara tidak
langsung juga mendorong permintaan akan tenaga kerja, baik untuk melayani
konsumen maupun mengelola bisnis itu sendiri.
Muhammadiyah Memajukan Kesejahteraan Bangsa dengan Ilmu
Tema Milad ke-113 Muhammadiyah “Memajukan Kesejahteraan
Bangsa” bukan utopis bagi organisasi yang berdiri sejak 1912 ini. Artinya tema
ini bukan akan, tapi sudah, sedang, dan terus diusahakan oleh Muhammadiyah
sejak awal pendirian sampai sekarang usaha ini awet dan konsisten.
Sejahtera dalam KBBI disebutkan sebagai aman sentosa dan
makmur, sementara kesejahteraan merupakan hal atau keadaan sejahtera. Maka
berbagai usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah sejak zaman Kiai Ahmad Dahlan
sampai dengan Haedar Nashir saat ini konsisten berada di jalur itu.
Orang-orang disehatkan melalui PKU Muhammadiyah supaya
dapat bekerja, karena fisiknya tidak sakit-sakitan. Anak-anak diberikan akses
pendidikan merata melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah yang sampai saat ini
konsisten memberikan pendidikan terjangkau dan berkualitas untuk semua, dengan
pendidikan diharapkan anak-anak memiliki masa depan yang cerah dan berdaya
saing.
Masa
depan umat manusia akan didominasi oleh
kecerdasan-kecerdasan, artinya masa
depan umat manusia ditentukan oleh kekuatan ilmu.
Ilmu atau kecerdasan juga menjadi pondasi dalam meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa.
Ini berbeda dengan zaman dulu,
kekayaan atau ekonomi bangsa ditentukan oleh based
economy – kekayaan sumber daya alam.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti pada 23 September 2025 dalam Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah Bandung menyebut dunia sudah mengalami pergeseran, dari natural based economy ke arah knowledge based economy – ekonomi yang landasannya adalah ilmu. Atau kekuatan ekonomi ditentukan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Dunia mengalami transformasi dari kekuatan otot ke arah kekuatan otak,” kata Abdul Mu’ti yang juga sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI).
Oleh karena itu, Abdul Mu’ti mengamati dan berkesimpulan
bahwa, kemajuan suatu bangsa kini dan mendatang ditopang oleh kecerdasan atau
ilmu. Tidak cukup lagi kesejahteraan bertumpu pada based economy, tapi
kesejahteraan bertumpu pada kecerdasan manusia.
(Redaksi)
