Waspada Korupsi Agraria, Busyro Muqoddas Minta PTMA Lahirkan Riset Berpihak ke Rakyat

SORONG, LPKAPNEWS – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Busyro Muqoddas menyebut Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang berwatak tajdid dan bernafas dinamisasi. Hal tersebut dilaksanakan berdasarkan ilmu yang dilandasi keimanan yang bersumber pada Al Qur’an dan Hadis.

Watak tajdid yang melekat di tubuh Muhammadiyah meniscayakan gerakan ini relevan dengan konteks zaman yang selalu berubah. Perubahan itu direspon oleh Muhammadiyah dengan semangat ilmu.

“Itu menjadikan Muhammadiyah dalam membuat kebijakan dari dahulu sampai yang akan datang, berdasarkan doktrin dari Al Qur’an dan Sunnah. Tapi dengan satu pendekatan berdasarkan ijtihad kolektif,” katanya dalam pembukaan Sekolah Agraria yang diselenggarakan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah dan Unimuda Sorong pada Jum’at (26/9).

Pendekatan yang digunakan oleh Muhammadiyah untuk merespons perubahan ini, tegas Busyro, berdasarkan pada kwarasan ilmu. Oleh karena itu, menurutnya watak tajdid ini pelaksananya adalah ilmu.

Dinamika atau perubahan manusia ini berkaitan dengan alam semesta, maka Muhammadiyah juga berkait erat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia, termasuk dalam hal ini adalah masalah di sektor agraria.

Agraria tak sebatas urusan lahan pertanian, tapi juga menyangkut hutan dan lautan. Kesemua ini harus dikelola untuk memberikan manfaat bagi seluruh manusia, tanpa terkecuali apalagi hanya dirasakan oleh segelintir kelompok saja.

Potensi besar yang ada di sektor agraria menjadikan bidang ini rawan terjadi korupsi. Dalam berbagai riset yang akuntabel, Busyro menyebut bahwa sektor agraria memang menjadi lahan empuk untuk korupsi.

“Kalau itu dibiarkan, maka itu wujud pengkhianatan terhadap ke-Maha Murahan Ar Rahman dan Rahimnya Allah. Karena alam seisinya itu bukan untuk dirusak, apalagi keuntungannya hanya dikuasai oleh tengkulak atau taipan yang terbiasa main kotor, gelap,” katanya.

Busyro Muqoddas berharap, Sekolah Agraria yang diselenggarakan secara kolaboratif ini dapat diadakan di berbagai wilayah dengan tujuan untuk melakukan penyadaran akan besarnya bahaya kerusakan di sektor agraria yang tindak kejahatan berupa korupsi di dalamnya.

Kepada Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA), Busyro juga berharap supaya dari institusi pendidikan ini dapat melahirkan riset dan pemikiran yang berpihak ke rakyat, dan dipersembahkan bagi pemerintah pusat dan daerah.

Sumber, Muhammadiyah Or Id