LPKAPNEWS, MALANG – Senyum ramah, sapaan ‘mas’ atau
‘mbak’, hingga kebiasaan menundukkan kepala saat bertegur sapa—hal-hal kecil
itu justru membuat Razafindrambinina Marie Anna jatuh hati pada Indonesia. Bagi
mahasiswi asal Madagaskar yang kini menempuh studi di Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM), sopan santun masyarakat Indonesia adalah pengalaman budaya yang
tak ternilai, sekaligus alasan ia merasa benar-benar diterima di negeri orang.
Keputusan Anna untuk kuliah di UMM berawal dari cerita
pamannya yang pernah tinggal di Indonesia. Rekomendasi itu semakin kuat ketika
ia mendengar banyak testimoni positif dari teman-temannya.
“Mereka bilang UMM punya banyak mahasiswa internasional,
fasilitasnya bagus, dan rankingnya juga baik. Lalu saya ditawari beasiswa penuh
Summit. Itu membuat saya mantap memilih UMM dan mengambil di Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan (FKIP),” ujar Anna seperti dikutip dalam siaran pers yang
diterima redaksi pada Rabu (17/9).
Mahasiswa asal Madagaskar tersebut mengungkapkan jika UMM
bukan hanya kampus dengan reputasi akademik, melainkan juga lingkungan yang
indah. Ia mengatakan UMM punya fasilitas lebih baik dibanding universitas lain.
Kampusnya luas, hijau dengan banyak pepohonan, tapi juga modern. Ia juga suka
perpaduan eco-campus dengan arsitektur modern.
Pengalaman pertama Anna di Indonesia adalah mengikuti
Pesmaba (Pengenalan Studi Mahasiswa Baru), kegiatan tahunan untuk menyambut
mahasiswa baru UMM. Baginya, Pesmaba adalah pintu masuk penting untuk mengenal
kampus sekaligus budaya Indonesia.
“Kesan pertama saya saat Pesmaba adalah senang sekali
karena bisa bertemu banyak teman baru dalam kelompok. Saya juga ikut langsung
berbagai kegiatan. Di antara semua, flash mob, konser di UMM adalah yang paling
berkesan,” ujarnya.
Selama seminggu tinggal di asrama menjalani P2KK, Anna
belajar arti kebersamaan dalam keberagaman. Ia jadi tahu budaya yang berbeda,
seperti musik tradisional, acara seni, hingga lukisan. Ia juga mengatakan jika
memiliki teman yang baik dari Indonesia maupun internasional dan sangat ramah
sehingga membuat ia menjadi cepat untuk beradaptasi dengan sesama.
“Orang Indonesia sangat menghargai orang lain. Ada
panggilan khusus seperti mas, mbak, pak, atau bu. Saat menyapa, mereka sedikit
membungkuk dan selalu tersenyum. Itu hal yang sangat bagus menurut saya,”
katanya.
Meski jauh dari keluarga, Anna tetap memelihara
semangatnya. Ia sadar bahwa perjalanannya di UMM adalah langkah besar untuk
mewujudkan mimpi. “Harapan saya, bisa beradaptasi dengan baik, belajar
sungguh-sungguh, dan kelak menjadi guru yang bukan hanya mengajar, tetapi juga
membimbing dengan hati,” ujarnya.
Anna adalah salah satu potret nyata bagaimana UMM bukan
sekadar institusi pendidikan, melainkan jembatan bagi mahasiswa internasional
untuk menjemput mimpi. Dari Madagaskar ke Malang, perjalanannya adalah kisah
tentang keberanian, persahabatan, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu
melampaui batas negara.
Sumber, Muhammadiyah Or Id
