LPKAPNEWS, LEIDEIN — Anggota Majelis Tarjih dan
Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ayub, menyampaikan pandangan menarik soal
citra bajak laut dalam budaya populer.
Bagi mahasiswa doktoral di Leiden University, Belanda
ini, tokoh bajak laut dalam film dan komik bukan sekadar karakter fiksi. Ia
menilai, “Pembalikan peran-citra bajak laut dari penjahat sangar menjadi
pahlawan rakyat jelata, menurut saya adalah bentuk dekolonisasi yang berhasil.”
Pernyataan ini disampaikan Ayub dalam sebuah tulisan
reflektif pada Jumat (01/08) di akun sosial medianya. Ia mengaku menyukai ikon
bajak laut, bahkan kesukaan itu menurun ke anaknya karena sering diajak
menonton Pirates of the Caribbean dan berburu lego bertema pirate.
Namun ia menyadari, ada kesan problematik dalam kesukaan
ini. “Secara tidak langsung kita ngajarin anak-anak untuk mengidolakan para
perompak. Pencuri hak orang yang hidup seenaknya.”
Meski demikian, Ayub punya alasan pribadi. Baginya, bajak
laut adalah bentuk perlawanan terhadap sistem yang tampak rapi namun penuh
kezaliman. “Bajak laut adalah simbol perlawanan pada sistem yang menampilkan
wajah baik-baik tapi sangat eksploitatif dan jahat secara sistemik,” tulisnya.
Di dunia budaya pop, narasi itu sangat terang. Ia
menyebut tokoh seperti Captain Jack Sparrow yang melawan kekuasaan imperialis,
juga Luffy dalam One Piece yang menghadapi Pemerintahan Dunia.
“Simbolisme itu bahkan tidak subtil sama sekali. Sangat mencolok.”
Ayub lalu menarik benang sejarah. Ia mengaitkan citra
bajak laut dengan citra yang dibentuk kolonialisme terhadap orang-orang Melayu
dan Nusantara.
“Selain ‘pemalas’, salah satu citra pribumi yang juga
dibuat oleh para penjajah adalah bahwa mereka adalah para bajak laut!”
tulisnya. Ia merujuk pada riset The Making of the “Malay Pirate” in Early
Modern European Thought karya Stefan Eklöf Amirell.
Menurut Amirell, pada abad ke-16 dan 17, masyarakat Eropa
masih melihat orang-orang Melayu sebagai pelaut dan pedagang ulung. Namun citra
itu berubah seiring pergeseran kekuasaan.
“Dari abad ke-18, orang-orang Melayu dan Nusantara secara
umum mulai digambarkan sebagai orang-orang sadis yang cenderung jadi bajak
laut.”
Perubahan citra ini digunakan untuk membenarkan kekerasan
kolonial. Stigma bajak laut dilekatkan secara politis kepada pribumi Nusantara
agar kekuasaan imperial tampak sah dan diperlukan.
“Akhirnya, citra buruk para pelaut Nusantara ini kemudian
dijadikan senjata utama untuk melakukan serangan-serangan brutal dengan dalih
‘menertibkan bajak laut.’ Arsip sejarah menunjukan bagaimana desa-desa pesisir
diserang, orang-orang dibantai, termasuk perempuan dan anak-anak yang tentu
saja tidak pernah ikut merompak,” terang Ayub.
Ayub juga menyinggung peran ilmuwan dalam memperkuat
citra negatif tersebut. Ia menyebut Johann Friedrich Blumenbach (1781) yang
mengklasifikasikan orang Melayu sebagai salah satu “ras utama”, lalu
mengaitkannya dengan kecenderungan berbuat jahat.
Ia melanjutkan, narasi tentang bajak laut Nusantara juga
ditemukan dalam karya Multatuli, Max Havelaar, yang menurut Pramoedya
Ananta Toer sebagai buku penghancur kolonialisme.
“Multatuli menuliskan rasa frustasi dan jijiknya melihat
kemunafikan orang-orang Eropa yang menggambarkan perlawanan pribumi sebagai
serangan ‘zeeroof’ alias bajak laut.”
Menurut Ayub, publik Eropa saat itu lebih fokus pada
kriminalitas sporadis yang menimpa kapal-kapal dagang mereka. “Tapi seolah buta
pada kriminalitas sistematik yang ditimpakan kerajaan mereka atas orang-orang
pribumi.”
Menutup tulisannya, Ayub menyampaikan sindiran tajam. Ia
menyinggung para pejabat yang telah menyaksikan pengibaran bendera pusaka
setiap 17 Agustus, tapi tetap terlibat korupsi dan nepotisme. “Apa itu membuat
mereka lebih menghayati cita-cita para pendiri bangsa?”
Ia lalu menulis penutup yang menggugah. “Mulailah melihat
wajah nenek moyang kita dalam diri para ‘thieves and beggar’ yang melawan
sebagai ‘bajak laut’ lalu dihajar habis-habisan oleh penjajah. Lalu panjatkan
doa untuk arwah mereka.”
Editor, Angcel
Sumber, Muhammadiyah Or Id
