YOGYAKARTA, LPKAPNEWS,COM — Ajengan
Wawan menegaskan bahwa pelabelan “haji” sejatinya hanyalah tradisi yang
berkembang di masyarakat. Menurutnya, secara syariat Islam, tidak ada aturan
yang dilanggar sehingga sah-sah saja dilakukan. Namun, ia mengingatkan agar
jangan sampai meninggalkan aspek-aspek etika dalam Islam dalam menjalani
tradisi ini.
Setelah pulang dari tanah suci, jamaah haji
di Indonesia kerap mendapat gelar “haji” di depan nama mereka. Namun, menurut
Ajengan Wawan Gunawan Abdul Wahid, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP
Muhammadiyah, penyematan gelar ini sebenarnya merupakan tradisi yang tidak ada
pada zaman Rasulullah Saw.
“Rasulullah sekalipun tidak dipanggil haji.
Begitu pula dengan Siti ‘Aisyah tidak dipanggil hajjah. Setahu saya, tradisi
ini hanya terjadi di Asia Tenggara dan beberapa tempat di Afrika,” ujar Ajengan
Wawan dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (26/06).
Gelar tersebut bukanlah ukuran dari
keberhasilan ibadah haji seseorang. Ajengan Wawan menekankan bahwa aspek
terpenting setelah menunaikan ibadah haji bukanlah pada penyematan nama “haji”,
melainkan pada kemabruran ibadah haji tersebut. Kemabruran merupakan tanda
bahwa seseorang telah berhasil dan sukses menunaikan ibadah haji secara
sempurna dan mendapatkan ridha Allah. Ini yang seharusnya menjadi fokus utama
bagi setiap jamaah haji.
Menurut Ajengan Wawan, berdasarkan
keterangan dari Rasulullah Saw, ganjaran bagi yang meraih haji mabrur tidak
lain adalah surga. “Allah menjanjikan surga bagi mereka yang berhasil meraih
haji mabrur,” katanya.
Ajengan Wawan juga menjelaskan ciri
lahiriah dari seorang haji mabrur berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw, yaitu
“memberi makan dan menyebarkan salam” (اطعام الطعام وافشاء السلام). Dari hadis
ini, Rasulullah seolah mendefinisikan haji mabrur dengan dua hal utama: 1)
memberikan makan, dan 2) menebarkan perdamaian.
Memberi makan di sini tidak hanya berarti
memberikan makanan secara harfiah, tetapi juga melambangkan kepedulian dan
kedermawanan kepada sesama. Sementara itu, menyebarkan salam mencerminkan upaya
untuk menciptakan perdamaian dan keharmonisan di tengah masyarakat.
Ajengan Wawan berharap agar para jamaah
haji tidak hanya fokus pada gelar yang mereka peroleh setelah pulang dari tanah
suci, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai haji mabrur dalam kehidupan
sehari-hari. Haji bukan sekadar gelar, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang
harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari., (S,Mu.or.id).
