LPKAPNEWS, COM - Bangkitlah wahai kader,
bangun, buka matamu, lihat sejarah. Bagaimana para pendahulu Muhammadiyah
menjadikan Muhammadiyah sebagai wadah berkarya untuk menyumbangan sepercik
pemikiran mereka untuk negara, bukan sebaliknya menjadikan Muhammadiyah alat
untuk mendapat perhatian dari negara. Bangkitlah, bawa pasukanmu bergerak
bersama untuk memperjuangkan cita-cita Muhammadiyah. Bukan malah merongrong
ideologi Muhammadiyah dengan berjuta-juta alasan.
Muhammadiyah sejak berdirinya telah
menyumbangkan begitu banyak prestasi. Hal ini memberikan sebuah motivasi kepada
seluruh lapisan masyarakat agar terus bergerak serta berfikiran maju tidak
terbelakang. Ahmad Dahlan telah banyak memberikan contoh kemana arah gerakan
dari Persyarikatan yang telah dibangunnya. Nampak pada saat awal-awal
perjuangan Muhammadiyah, yang menjadi salah satu amal usaha saat itu adalah PKO
(Penolong Kesengsaraan Oemoem) yang bergerak di bidang kesehatan, dan
dikhususkan untuk kaum dhuafa yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Berdirinya
PKO pada saat itu menunjukan langkah Muhammadiyah tidak untuk kepentingan
pribadi, dan itu juga yang seharusnya menjadi acuan dalam melangkah saat
bermuhammadiyah.
Tidak berhenti di situ, kemudian para
aktivis dan Kader Muhammadiyah kala itu melanjutkan langkah serta perjuangan
Muhammadiyah dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa batasan usia,
hobi dan gender. Akhirnya terbentuklah suatu Organisasi Otonom, bernama
‘Aisyiyah yang beranggota perempuan-perempuan terpelajar di sekitar Kauman.
Langkah ‘Aisyiah pun sama dari awal tidak pernah menunjukan adanya kepentingan
pribadi yang tergambar dalam setiap gerakannya. Diantara usaha ‘Aisyiyah pada
saat itu ialah senantiasa berusaha mengangkat derajat wanita yang kala itu
memang kaum wanita dipandang sebelah mata oleh kaum laki-laki. Nampaklah di
mata kita bahwa usaha yang dilakukan perempuan-perempuan terpelajar kala itu
tidak menunjukan adanya kepentingan pribadi di dalamnya.
Satu dekade setelahnya muncul satu lagi
Organisasi Otonom yang membawahi para pemuda, yaitu Pemuda Muhammadiyah. Sama
dengan Ortom sebelumnya, Pemuda Muhammadiyah membawahi para pemuda muslim yang
bergerak untuk bersama mencapai tujuan Muhammadiyah. Selanjutnya disusul dengan
berbagai Organisasi Otonom yang membawahi segala macam usia dan latar belakang,
dibuktikan dengan terbentuknya Nasyiatul ‘Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah
dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, semua bergerak di bidang serta ruang lingkupnya
masing-masing namun tetap dengan maksud menggapai tujuan Muhammadiyah.
Semua langkah yang dilakukan para pendahulu
Muhamadiyah tidak memiliki tujuan untuk kepentingan pribadi. Semuanya dilakukan
untuk kepentingan umat dan kemajuan Muhammadiyah. Maka sejatinya semua
Organisasi Otonom di bawah naungan Muhammadiyah bisa menjadi wadah bagi para
kadernya untuk berkarya, memajukan Muhammadiyah dan bersama menggapai cita-cita
serta tujuan Muhammadiyah.
Miris jika kita lihat Kader Muhammadiyah,
Kader Ortom yang tidak lagi sejalan dengan pendahulu Muhammadiyah. Yaitu mereka
yang acap kali menjadikan kepentingan pribadi mereka sebagai sebuah tujuan saat
berkecimpung di dalam Ortom, tidak ada satu pun karya yang mereka berikan saat
berada di dalam kepemimpinan. Keuntungan materialistis yang selalu menjadi
angan-angan. Mereka tidak ingat, siap jadi pimpinan baik di dalam Ortom maupun
di dalam Muhammadiyah itu artinya siap berkorban, siap kehilangan, siap berkeringat.
Lihat bagaimana A.R. Fachrudin saat menjadi
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bagaimana kesederhanaan beliau kala itu, bahkan
ada sebuah kisah dari seseorang yang bahkan tidak pernah menyangka kalau beliau
adalah orang besar. Bagaimana tidak, beliau yang kala itu seorang Ketua Umum
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang bahkan pernah diberikan tawaran oleh Presiden
Soeharto untuk menjadi Menteri Agama, namun ditolaknya dengan halus. Orang
besar ini kala itu pergi kemana pun hanya menunggangi motor yamaha butut. Bukankah
beliau orang besar? Harusnya dengan mudah beliau mengambil keuntungan dari
jabatannya, namun tidak dengan beliau. Begini lah segelintir contoh yang
diberikan oleh pendahulu Muhammadiyah. Kepentingan umum harus di atas
kepentingan pribadi saat bermuhammadiyah, siap tidak siap harus terima itu.
Bukan hanya di dalam Muhammadiyah namun di dalam seluruh Ortom yang ada di
Persyarikatan Muhammadiyah.
Kibarkan bendera Persyarikatan, jika ada
karya yang ditujukan untuk mencapai tujuan Muhammadiyah. Kibarkan bendera
Persyarikatan jika kita bergerak untuk menggapai tujuan Muhammadiyah. Miris
jika melihat Kader yang bergerak untuk kepentingan pribadinya, membawa bendera
besar sebuah Ortom dengan pasukan lengkap hanya untuk kepentingan pribadi,
bersorak keras atas nama Persyarikatan demi menaikan namanya, berjalan gagah
menggunakan almamater hanya untuk mencari suara.
Kapan kita belajar dari sejarah yang telah dicipta oleh para pendahulu Muhammadiyah? Setidaknya kalau belum bisa berkorban, kalau belum bisa memberi, jangan jadikan Muhammadiyah sebagai alat untuk menaikan nama di hadapan manusia, menjadikan Muhammadiyah sebagai alat untuk mengumpulkan suara.
Ingat dan jadikan pedoman perkataan Kyai
Ahmad Dahlan yang seharusnya seorang Kader hafal di luar kepala “Hidup
hidupilah Muhammadiyah, jangan cari hidup di Muhammadiyah”. Bukankah kalimat
ini sudah menjadi sebuah pengingat yang begitu jelas? Jangan cari hidup di
Muhammadiyah, karena bermuhammadiyah berarti berkorban, bermuhammadiyah berarti
berperan untuk memajukan cita-cita Muhammadiyah, kader tidak boleh lupa dengan
hal ini., (S,Mu.or.id).