LPKAPNEWS.COM, PAPUA
DAN NTT - Tak hanya untuk sesama Muslim,
Muhammadiyah juga membuka diri selebar-lebarnya untuk non Muslim. Bahkan
mayoritas sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah di timur Indonesia adalah
umat Nasrani Papua dan NTT.
Alhasil, banyak
mahasiswa non Muslim yang berkuliah disana. Tak hanya di Kupang, di Ende NTT,
mayoritas siswa di SMA Muhammadiyah Ende adalah non Muslim. Bahkan, pihak
sekolah menyediakan guru mata pelajaran agama Katolik.
Hal yang sama juga
terjadi di SMP Muhammadiyah di Serui Teluk Cenderawasih Papua dan SMA
Muhammadiyah di Putussibau Kalimantan Barat.
Siswi non Muslim
pun tak diwajibkan untuk menggunakan jilbab, sebagaimana siswi-siswi sekolah
Islam pada umumnya. Muhammadiyah juga ada di Papua.
Di tanah
Cenderawasih, Muhammadiyah mempunyai empat Perguruan Tinggi, yaitu Universitas
Muhammadiyah Sorong di Kota Sorong, STKIP Muhammadiyah Sorong di Kabupaten
Sorong, Sekolah Tinggi Muhammadiyah Manokwari dan STIKOM Muhammadiyah di
Jayapura, serta beberapa sekolah TK-SMA dan panti asuhan yang tersebar di
wilayah Papua-Papua Barat.
Bahkan ketika
wisuda STIKOM Muhammadiyah mayoritas adalah mahasiswa nasrani setempat.
Frans Takanyuai, S.Th., dan Kris Kobogo
adalah dua guru beragama Nasrani yang menjadi bagian dari SMP-SMK Muhammadiyah
Yapen, Papua.
Frans menjadi Guru
Agama Nasrani di SMP Muhammadiyah Yapen sejak 2003, sementara Kris mulai
mengajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di SMK Muhammadiyah Yapen. Menurut
Frans, dari 125 siswa di SMP Muhammadiyah Yapen, sebagian besar Nasrani.
Hal sama
diungkapkan Kris, dia di SMK Muhammadiyah Yapen membina ratusan siswa, 90
persen di antaranya adalah siswa Nasrani.
Dia bersyukur dan
sangat berterima kasih kepada Pak Adhan (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah
Kabupaten Kepulauan Yapen Papua) karena telah diberi kesempatan kepada
anak-anak Yapen yang mayoritas umat Nasrani Papua untuk belajar di SMK
Muhammadiyah.
Begitulah
Muhammadiyah kehadirannya layaknya Matahari yang menyinari seluruh makhluk di
muka bumi tanpa memilih tanpa pamrih, Muhammadiyah tidak perlu mengklaim
sebagai Ormas yang pluralis, paling moderat, paling toleran dan sebagainya.
Tapi Muhammadiyah
memilih jalan lewat aksi nyata menunjukkan Islam sebagai agama rahmatan lil
‘alamin.
Sumber, kabarmuhammadiyah.com.
