LPKAPNEWS.BOM - Apakah Muhammadiyah hari ini masih bergerak sebagai gerakan ideologis yang mengusung misi pencerahan, atau perlahan bergeser menjadi organisasi besar yang sibuk mengelola aset dan kenyamanan? Pertanyaan ini terdengar provokatif, tetapi justru penting diajukan saat Muhammadiyah telah melampaui satu abad usia dan berdiri kokoh dengan ribuan amal usaha di seluruh penjuru negeri.
Ibnu Khaldun, sejarawan dan pemikir sosial Muslim abad ke-14, telah lama mengingatkan bahwa setiap sistem sosial—termasuk organisasi dan peradaban—memiliki siklus sejarah. Dalam Muqaddimah, ia menjelaskan bahwa sebuah kekuasaan atau gerakan umumnya bertahan maksimal empat generasi: generasi perintis, pembangun, penguasa, dan perusak. Teori ini bukan vonis kehancuran, melainkan peringatan dini agar sebuah gerakan mampu membaca tanda-tanda zaman dan melakukan koreksi diri.
Jika teori Ibnu Khaldun kita bentangkan ke dalam perjalanan Muhammadiyah, maka sesungguhnya kita sedang bercermin. Dan cermin sejarah itu menuntut kejujuran.
Ideologi sebagai Nafas Perjuangan
Muhammadiyah lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari kegelisahan. KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di tengah keterjajahan, kemiskinan umat, dan praktik keagamaan yang stagnan. Inilah fase yang oleh Ibnu Khaldun disebut generasi perintis—generasi yang ditempa oleh kesulitan, sehingga melahirkan solidaritas, militansi, dan keikhlasan.
Pada fase ini, kader Muhammadiyah hidup dalam spirit pengorbanan. Tidak ada orientasi jabatan, apalagi keuntungan materi. Sekolah, pengajian, dan pelayanan sosial dijalankan dengan kesadaran bahwa Islam harus hadir sebagai solusi nyata. Ideologi tidak diajarkan sebagai slogan, tetapi dihidupi sebagai jalan hidup.
Buya Syafii Maarif pernah menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah generasi awal justru terletak pada kesederhanaan dan keberanian moral. Mereka tidak bertanya apa yang didapat dari Muhammadiyah, tetapi apa yang harus diberikan untuk umat dan Muhammadiyah.
Apakah semangat itu masih hidup dalam kaderisasi kita hari ini, atau hanya menjadi cerita nostalgia yang kita ulang dalam pidato.
Kemajuan, Spesialisasi, dan Tantangan Ego
Fase berikutnya adalah generasi pembangun. Muhammadiyah mulai menemukan bentuk organisasinya. Majelis dan lembaga tumbuh. Amal usaha berkembang pesat. Pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemikiran keislaman dikelola secara sistematis dan modern.
Spesialisasi lahir sebagai keniscayaan. Ada ahli tarjih, pendidik, dokter, ekonom, dan penggerak sosial. Muhammadiyah tampil sebagai gerakan Islam modern yang rasional dan berkemajuan.
Namun Ibnu Khaldun mengingatkan, pada fase ini mulai tumbuh solidaritas subkelompok dan ego sektoral. Majelis berjalan dengan logika masing-masing. Keberhasilan membawa kemajuan, tetapi juga menyimpan benih fragmentasi.
Haedar Nashir berulang kali mengingatkan bahwa profesionalisme tanpa ideologi hanya akan melahirkan organisasi yang rapi secara struktural, tetapi rapuh secara ruhani.
Ketika Kenyamanan Mulai Menggoda
Ketika tujuan-tujuan besar mulai tercapai, Muhammadiyah memasuki fase generasi penguasa. Sekolah unggul berdiri di mana-mana. Rumah sakit Muhammadiyah menjadi rujukan. Pengaruh Muhammadiyah di tingkat nasional semakin diperhitungkan.
Namun di fase inilah orientasi mulai bergeser: dari semangat mencapai tujuan menjadi hasrat mempertahankan kenyamanan dan kekuasaan. Muncul jarak antara pimpinan dan akar rumput. Protokoler menebal. Koordinasi antar-majelis dan lembaga sering tidak sinkron. Program berjalan sendiri-sendiri, bahkan saling curiga.
AR Fachruddin, dengan kesederhanaannya yang legendaris, pernah berpesan, “Kalau pimpinan Muhammadiyah sudah sulit ditemui, itu tanda bahaya bagi persyarikatan.” Pesan ini terasa semakin relevan di tengah kecenderungan elitisasi organisasi.
Menjaga Jalur Perjuangan
Dalam teori Ibnu Khaldun, generasi perusak bukanlah generasi yang sengaja menghancurkan, melainkan generasi yang menikmati hasil perjuangan tanpa memahami tujuan awalnya. Mereka hidup dari sistem yang mapan, tetapi tercerabut dari nilai-nilai yang melahirkannya. Inilah fase paling berbahaya—karena kehancuran datang secara sunyi dari dalam.
Dalam konteks Muhammadiyah hari ini, gejala itu mulai terasa nyata, terutama di tubuh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM)—yang seharusnya menjadi penjaga masa depan persyarikatan.
Kita harus jujur mengakui: sebagian AMM hari ini tidak lagi menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan ideologis, melainkan sebagai kendaraan sosial dan politik. Organisasi dijadikan tangga meraih kekuasaan. Struktur dimasuki bukan untuk memperkuat dakwah, tetapi memperluas pengaruh pribadi. Muhammadiyah dipakai sebagai label, bukan nilai.
Fenomena ini bukan isapan jempol. Kita menyaksikan kader muda yang cepat berpindah orientasi: dari aktivis dakwah menjadi pemburu jabatan; dari pelayan umat menjadi broker kepentingan. Organisasi “dijual” dalam bentuk klaim representasi, lobi politik, dan kedekatan kekuasaan. Ideologi menipis, bahkan mengering.
Ironisnya, AMM adalah generasi paling kaya fasilitas sepanjang sejarah Muhammadiyah. Akses pendidikan terbuka, jaringan luas, teknologi di tangan. Namun kemudahan ini justru melahirkan jebakan baru: militansi melemah, keberanian berkorban menghilang, dan perjuangan direduksi menjadi karier.
Buya Syafii Maarif pernah mengingatkan dengan nada getir, “Muhammadiyah bisa besar secara institusi, tetapi kerdil secara ruhani.” Pernyataan ini terasa relevan ketika sebagian AMM lebih fasih bicara strategi kekuasaan daripada misi pencerahan.
Tantangan Kaderisasi
Dalam perspektif Ibnu Khaldun, kaderisasi adalah kunci untuk memutus siklus kehancuran. Muhammadiyah sejatinya memiliki sistem kaderisasi yang kuat—Baitul Arqam, Darul Arqam, sekolah kader, dan ortom-ortom yang hidup. Namun pertanyaannya: apakah kaderisasi itu masih melahirkan manusia ideologis, atau hanya manusia struktural?
Jika kader hanya disiapkan untuk mengisi jabatan, bukan memikul misi, maka Muhammadiyah sedang melangkah mantap menuju fase paling rapuh dalam siklus sejarahnya.
Haedar Nashir menegaskan bahwa kader Muhammadiyah harus memiliki kesadaran ideologis, kecakapan intelektual, dan kepekaan sosial. Tanpa itu, Muhammadiyah akan kehilangan peran profetiknya di tengah bangsa yang sedang mengalami krisis moral dan kemanusiaan.
Mengembalikan Api Perjuangan
Ibnu Khaldun tidak pernah mengatakan bahwa siklus sejarah tidak bisa diputus. Ia justru menegaskan bahwa kehancuran dapat dihindari jika generasi baru berani kembali pada nilai awal.
Muhammadiyah hari ini tidak kekurangan aset, tetapi membutuhkan keberanian ideologis. Tidak kekurangan kader, tetapi membutuhkan kader yang memahami untuk apa Muhammadiyah didirikan. AMM harus kembali ditempatkan sebagai penjaga nilai, bukan sekadar pewaris struktur.
Radikalisasi ideologi kaderisasi, keteladanan pimpinan, dan pemutusan tegas antara dakwah dan pragmatisme kekuasaan adalah agenda mendesak. Muhammadiyah tidak anti politik, tetapi menolak politik yang mengorbankan nilai.
KH. Ahmad Dahlan telah lama mengingatkan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Kalimat ini bukan slogan nostalgis, melainkan kompas moral agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan pencerahan.
Penutup
Muhammadiyah kini berada di persimpangan sejarah. Apakah ia akan berhenti sebagai pengelola warisan, atau kembali menyalakan api perjuangan.
Jawabannya bergantung pada keberanian seluruh pimpinan, anggota, simpatisan, dan terutama AMM untuk kembali ke ideologi. Sebab sejarah, sebagaimana diingatkan Ibnu Khaldun, tidak pernah menunggu mereka yang ragu untuk berubah. Dan Muhammadiyah hanya akan tetap hidup, bukan karena besarnya aset, tetapi karena nyalanya nilai.
Tulisan ini bukan seruan untuk saling menyalahkan, melainkan ajakan untuk bercermin bersama. Jika kita berani jujur pada diri sendiri, maka Muhammadiyah tidak sedang menuju senja, melainkan sedang bersiap memperbarui fajar. Wallahu a’lam bish shawab.
Narasumber, Amrizal, Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Dosen Unimed/ Mahasiswa S3 Pasca Sarjana UNY
