Di antara banyak permasalahan penting di negeri ini, heran, karena malah podkas-podkes (podcast) yang disinggung serius, sampai harus ditegur di depan forum, karena kritik di dalamnya dianggap “yang paling tahu”
LPKAPNEWS.COM, YOKYAKARTA -Padahal podcast memang ruang bicara dengan banyak arah dan gaya, menjembatani berbagai pertukaran ide. 12 Januari 2026.
Model seperti ini, faktanya, digemari di negeri ini karena seringkali mewakili uneg-uneg orang banyak; membantu membangun building blocks berbagai pemikiran abstrak dalam benak masyarakat.
Podcast secara tidak langsung menjadi proyeksi dinamika dan fenomena sosial; yang seharusnya dijadikan potret lapangan bagi para pembuat dan pemangku kebijakan, agar keputusan yang diambil menjadi sebuah presisi pada jantung persoalan, dengan margin error sekecil-kecilnya.
Dalam hal ini podcast menjadi alat statistik kualitatif yang secara inheren akurat, jika didengarkan dengan seksama; terutama ketika statistik kuantitatif terlalu murah dan mudah untuk dimanipulasi; yang biasanya dalam bentuk indeks persentase keberhasilan kinerja.
Kalau kemudian podkas-podkes, yang bisa menjadi sumber kritisi murni justru malah dipersekusi, kita sama saja sedang menormalisasi kedunguan.
Apakah kemudian semua podkas-podkes itu sehat dan menyehatkan? Belum tentu juga. Tapi biarlah masyarakat yang menentukan sendiri asupan untuk otaknya sesuai selera; toh mana yang tidak enak, tidak sesuai selera, dan dianggap tidak sehat bagi dirinya, relatif akan dihindari sendiri-sendiri.
Tapi menjadikannya suatu bahasan penting di atas bencana ekologis, pejabat negara yang korupsi, pengesahan undang-undang, adalah gejala kuat dekadensi intelektual.
Sebelum terlalu jauh salah fokus dan kemrosotan ini, mari kembalikan pikiran kita pada permasalahan penting yang sedang terjadi di negeri ini. Berbagai alternatif solusi sedang dibutuhkan dengan sangat mendesak dan segera.
Naeasumber, Ridho Rahmadi
