"Ternyata Warga Muhammadiyah Itu Lebih Dekat Dengan PDIP"

LPKAPNEWS.COM - Dalam dunia politik praktis, Muhammadiyah memilih istilah politik inklusif sebagai gerakan politiknya. Muhammadiyah secara keorganisasian tidak pernah menyatakan dukungannya kepada partai tertentu dan memberikan kebebasan kepada warganya untuk memilih partai dan pemimpin yang sesuai hati nurani mereka.

PAN dan Partai UMMAT dianggap dekat dengan Muhammadiyah karena Amin Rais atau sering disapa AR merupakan salah satu tokoh sentral Muhammadiyah yang diikuti oleh sebagian warga Muhammadiyah. Namun, klaim kedekatan itu masih banyak pertentangan dari warga Muhammadiyah. Hal itu terbukti dengan banyaknya kader Muhammadiyah memilih partai lain untuk terjun di dunia politik.

Namun berdasarkan hasil survey LSI Denny JA, 20,9 persen warga Muhammadiyah memilih PDI Perjuangan, disusul oleh PAN 17,5 persen dan PKS 10 persen. Karena itu, kedekatan Muhammadiyah dan PDI Perjuangan tidak bisa diragukan lagi. Walaupun masih ada warga Muhammadiyah yang tidak suka dengan PDI Perjuangan, sejarah dan hasil survey di atas menunjukkan bahwa Muhammadiyah dan PDI Perjuangan tidak bisa dipisahkan, tidak bisa dipecah-belah dengan isu-isu tertentu.

Jika berbicara Muhammadiyah dan PDI Perjuangan, nama yang pertama kali muncul yang menggambarkan kedua organisasi tersebut ialah Bung Karno. Tokoh yang dikenal sebagai bapak proklamator tersebut menjadi tokoh yang mendekatkan Muhammadiyah dan PDI Perjuangan. Tidak heran, jika agenda yang diadakan oleh PDI Perjuangan selalu mengundang Muhammadiyah atau sebaliknya.

Awal mula kedekatan Muhammadiyah dan Bung Karno terjadi saat KH Ahmad Dahlan berkunjung ke rumah Hos Cokroaminoto. Bung Karno yang memiliki pemikiran yang visioner terhadap dunia pendidikan dan sosial melihat kesamaan dengan gagasan KH Ahmad Dahlan. Bagi Bung Karno, KH Ahmad Dahlan merupakan sosok yang memiliki pemikiran yang visioner yang membawa nilai Islam yang lebih maju dalam segi pendidikan.

Bahkan cerita tersebut juga disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si

, pada acara pembukaan Muktamar ke-18 Pemuda Muhammadiyah di Balikpapan. Pada acara yang dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri tersebut, Haedar Nashir menceritakan bahwa ayah dan ibu dari Megawati, yaitu Bung Karno dan Fatmawati, merupakan tokoh Muhammadiyah.

Menurut Prof. Dr. Haedar Nashir, pada tahun 1938-1942 Bung Karno tercatat sebagai pimpinan Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah Bengkulu. Bahkan Bung Karno pernah menyampaikan bahwa makin lama makin cinta sama Muhammadiyah. Bung Karno juga menyesal ketika menjadi presiden, beliau tidak pernah ditarik iuran. Haedar juga menyampaikan, Bung Karno masuk Muhammadiyah karena sesuai dengan alam pikirannya yaitu Islam progresif, Islam berkemajuan.

Dan Ibu Fatmawati merupakan tokoh aktivis Nasyiatul Aisyiyah sejak di Bengkulu. Bung Karno pernah menyampaikan kepada pimpinan Aisyiyah tahun 1964 untuk aktif kembali ke Aisyiyah. Konon, ketika menjahit bendera merah putih untuk proklamasi kemerdekaan, Fatmawati menyanyikan lagu Nasyiahku.

Kedekatan itu terus berlanjut hingga saat ini. Hal itu terlihat dari keterlibatan tokoh Muhammadiyah di era kepresidenan yang pernah di pimpinan oleh Ir. Soekarno dan kader PDI Perjuangan. Pada era Ir. Soekarno, kader Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai anggota kabinet, yakni Moeljadi Djojomartono sebagai Menteri Sosial dan Syamsuddin Sutan Makmur Harahap sebagai Menteri Sosial dan Menteri Penerangan.

Pada kabinet Megawati, Malik Fajar merupakan tokoh Muhammadiyah yang dipercaya sebagai Menteri Pendidikan, sementara di era kabinet Jokowi, Muhadjir Effendy dipercaya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di periode pertama dan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Kemanusian dan Kebudayaan Indonesia pada periode kedua.

Sampai hari ini, warga Muhammadiyah tidak anti-PDI Perjuangan. Berbagai isu miring yang menyerang PDI Perjuangan tidak mempengaruhi sikap dan pilihan warga Muhammadiyah kepada PDI Perjuangan.

Hal itu terbukti dengan banyaknya warga Muhammadiyah yang memilih PDI Perjuangan. Bahkan PDI Perjuangan menjadi partai paling banyak dipilih oleh warga Muhammadiyah.

 (Tim Redaksi)