Rajab Momentum Tobat, Syakban Masa Persiapan, Ramadan Puncak Perubahan

LPKAPNEWS.COM, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Fadhlurrahman, menekankan pentingnya mempersiapkan diri menjelang Ramadan.

Hal itu disampaikan dalam kajian Ahad pagi di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Ahad (14/12).

Dalam pemaparannya, Fadhlurrahman mengingatkan jamaah agar tidak menjadi Muslim yang “reaktif”, yakni hanya bersemangat beribadah pada momen-momen tertentu seperti Ramadan atau saat ada pengajian, namun kembali lalai di luar itu. Menurutnya, Islam justru mengajarkan sikap proaktif dan konsisten dalam keimanan.

“Islam tidak mengajarkan iman yang musiman. Di mana pun kita berada, identitas kita adalah Islam,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa iman bersifat fluktuatif. Dengan kata lain, iman dapat meningkat melalui ketaatan dan runtuh seketika karena kemaksiatan. Namun, setiap manusia memiliki peluang yang sama untuk kembali mendekat kepada Allah melalui tobat, karena pada hakikatnya setiap anak Adam pernah berbuat dosa.

Menghadapi datangnya bulan Rajab, Syakban, dan Ramadan, Fadhlurrahman menawarkan kerangka reflektif: Rajab sebagai bulan kesadaran dan tobat, Syakban sebagai bulan persiapan amal, dan Ramadan sebagai bulan pendidikan serta transformasi total.

Ia mengibaratkannya seperti proses pendidikan: Rajab adalah masa pendaftaran, Syakban masa orientasi, dan Ramadan ujian sekaligus wisuda rohani.

“Buah Ramadan sangat ditentukan oleh proses sebelumnya. Kalau Rajab dan Syakban disiapkan dengan baik, Ramadan akan lebih maksimal,” ujarnya.

Ia juga menguraikan keutamaan empat bulan haram, Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan lebih berhati-hati dari perbuatan dosa karena nilai pahala dan konsekuensinya dilipatgandakan.

Selain dalil Al-Qur’an dan hadis, Fadhlurrahman mengaitkan pentingnya pembiasaan ibadah dengan kajian psikologi modern. Ia menyebutkan bahwa dalam perspektif psychology of religion, praktik keagamaan yang dilakukan secara bertahap dan berulang terbukti lebih efektif membentuk perubahan perilaku dibandingkan praktik yang bersifat mendadak dan musiman.

Menjawab tantangan zaman yang kian kompleks dan tidak menentu, yang ia sebut sebagai era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), Fadhlurrahman menekankan pentingnya keteladanan dan pembiasaan nilai-nilai keislaman di tengah derasnya arus media dan budaya populer, terutama dalam pendidikan anak.

Ia juga mengulas konsep penyucian jiwa dalam tradisi Islam, mulai dari takhalli (mengosongkan diri dari penyakit hati seperti dengki dan iri), tahalli (mengisi diri dengan akhlak mulia), hingga tajalli (menjadikan kebaikan sebagai karakter yang menetap).

Salah satu kunci pentingnya, menurut ia, adalah kemampuan memaafkan dan membersihkan hati sebelum tidur, sebagaimana dicontohkan dalam kisah sahabat Anshar yang dijamin masuk surga.

MateriTerkait

Merawat Bumi dari Pasar: Ketika ‘Aisyiyah Menjadikan Belanja Bagian dari Ibadah

Para Sahabat Berdialog dengan Raja Ashamah Najasyi | Serial Sirah Nabawi 32

Gubernur Bengkulu Kunjungi PP Muhammadiyah, Bahas Penguatan Bank Bengkulu dan Pengembangan Perbankan Syariah

Memasuki bulan Syakban, Fadhlurrahman mengajak jamaah membiasakan puasa sunah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta melatih salat malam. Ia mencontohkan teladan Nabi Muhammad saw. dan Sayidah Aisyah ra. yang kerap melunasi utang puasa Ramadan di bulan Syakban.

Sementara itu, Ramadan dipaparkan sebagai puncak pembentukan nafsul mutmainnah, jiwa yang tenang dan siap kembali kepada Allah. Ia mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menjaga lisan, pandangan, dan perilaku dari hal-hal yang sia-sia dan tercela.

Menutup kajiannya, Fadhlurrahman mengajak jamaah menjadikan momentum Rajab sebagai awal tobat yang sungguh-sungguh, Syakban sebagai latihan kedisiplinan ibadah, dan Ramadan sebagai fase perubahan diri yang hakiki.

“Mudah-mudahan kita dipertemukan dengan Ramadan dalam kondisi iman yang lebih siap, hati yang lebih bersih, dan jiwa yang lebih tenang,” pungkasnya.

(Redaksi)