LPKAPNEWS,
YOGYAKARTA – Di tengah pragmatisme gerakan, Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
meluncurkan Risalah Melayu Deli sebagai bentuk ikhtiar menjaga suluh perkaderan
agar tetap hidup dan relevan dengan kondisi zaman. Risalah ini disampaikan pada
simposium perkaderan tahun 2025 yang diadakan di Medan, Sumatera Utara.
Risalah
ini bukan hanya kumpulan kalimat retoris, namun hasil refleksi dan manifestasi
ideologi yang berupaya menjaga kaderisasi yang saat ini terjebak dalam
rutinitas seremonial.
“IMM
tidak dilahirkan untuk mengikuti arus dan nyaman dengan sistem yang telah
usang, tetapi menjadi aktor penggerak dan mengubah sistem. IMM tidak sedang
membentuk sekumpulan kader yang mahir dalam administrasi, tapi membentuk kader
progresif yang mampu bergerak mewujudkan tujuan IMM”. Sebut perwakilan DPD IMM
DIY.
Risalah
Melayu Deli setidaknya memiliki tiga pembahasan yang meliputi agenda ideologis
organisasi, poin-poin agenda kemajuan perkaderan dan manifesto perkaderan IMM.
Dalam pembahasan agenda ideologis organisasi, DPD IMM DIY menekankan bahwa
agenda ideologis organisasi bukan lagi dikelola dengan pendekatan administratif
yang linier, tetapi dengan menempatkan perkaderan sebagai jantung ideologis
perjuangan organisasi, sekaligus sebagai jalan pembebasan dari ketertindasan
struktural maupun kultural yang masih mengakar dalam realitas sosial kita.
Pembahasan
poin-poin agenda kemajuan, DPD IMM DIY menawarkan delapan poin perkaderan yang
menggembirakan, dimana seluruh kader IMM harus merasakan proses kaderisasi
sebagai ruang bertumbuh. Poin-poin agenda kemajuan meliputi; reformasi sistem
perkaderan berbasis, revitalisasi perkaderan, perkaderan berbasis disiplin
ilmu, meneguhkan gerakan dan inklusivitas, meneguhkan gender dan inklusivitas,
penguatan korps instruktur, pembentukan blueprint, evaluasi perkaderan berbasis
data dan mewujudkan ruang aman dalam perkaderan.
Dalam
pembahasan manifesto perkaderan IMM, DPD IMM DIY menegaskan bahwa IMM tidak
boleh kehilangan ruh dasarnya sebagai gerakan kader ideologis yang berpihak
pada keadilan, kemanusiaan, dan kemajuan. Maka, sistem kaderisasi harus
dilandaskan pada prinsip keberlanjutan, keberpihakan, dan keberanian moral
untuk berubah serta membawa perubahan.
Lebih
jauh DPD IMM DIY melalui risalah Melayu Deli mengatakan bahwa perkaderan harus
menjadi poros utama gerakan agar tidak terjebak pada pragmatisme gerakan dan
bayang-bayang kekuasaan. IMM hari ini harus terus merawat suluh sebagai kader
persyarikatan, umat dan bangsa. Karenanya sistem perkaderan ikatan harus
dibangun di atas fondasi yang progresif, membebaskan dan menyatu dengan denyut
kehidupan umat dan bangsa.
Simposium
perkaderan dengan tema “Bergerak Memajukan Indonesia” harus menjadi panggung
untuk mengevaluasi dan merevitalisasi arah perkaderan IMM. Risalah ini menjadi
pemantik diskusi dalam rangka membangun sistem perkaderan yang membebaskan dan
merawat ilmu-amaliah dan amal-ilmiah.
Editor, Angcel
Sumber, Infomu
