GAMNR Minta Narasi Perbedaan Pendapat Tidak Cederai Marwah Kota Tanjungpinang

LPKAPNEWS, TANJUNG PINANG - Menyikapi silang pendapat yang berkembang di ruang publik, termasuk pernyataan dua tokoh yang menyebut Tanjungpinang sebagai kota yang “lemah” dan mengibaratkannya seperti “kucing” dibanding “harimau”, Gerakan Anak Melayu Negeri Riau (GAMNR) merasa perlu menyampaikan pandangan sebagai bagian dari masyarakat sipil yang peduli terhadap Marwah Daerah, 28 Juli 2025.

GAMNR Tanjung Pinang menghargai kritik dan dinamika demokrasi yang sehat. Namun demikian, dalam menyampaikan kritik terhadap kondisi daerah, kami berharap seluruh pihak  termasuk para tokoh tetap mengedepankan cara penyampaian yang santun, berimbang, dan tidak melemahkan semangat kolektif membangun Kota Tanjung Pinang.

Kritik yang membangun tentu menjadi bagian dari proses perbaikan. Namun penggunaan analogi yang merendahkan, atau narasi yang berpotensi menstigmatisasi kota ini sebagai entitas yang tidak berdaya, berisiko membentuk citra negatif yang merugikan psikologis kolektif Masyarakat, terlebih generasi muda.

Sebagai organisasi masyarakat Melayu, GAMNR menilai bahwa Marwah kota ini tidak hanya ditentukan oleh kelembagaan Pemerintah, tetapi juga oleh tutur kata para pemuka dan tokohnya. Karena itu, kami menyerukan agar setiap kritik tetap dibingkai dalam semangat kasih sayang terhadap negeri, bukan cemooh yang mempermalukan.

Kami juga mendorong semua pihak untuk mengalihkan energi perdebatan menjadi kontribusi nyata: menyusun gagasan, menawarkan solusi, dan mendorong kerja kolaboratif lintas elemen.

Tanjung Pinang bukan kota lemah. Ia adalah kota dengan sejarah panjang, warisan peradaban, dan potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap. Yang dibutuhkan adalah sinergi, bukan saling menyalahkan.

Demikian pernyataan ini kami sampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap suasana kebatinan masyarakat Tanjung Pinang hari ini.

“Membandingkan Batam dan Tanjung Pinang memang perlu memperhitungkan skala populasi dan infrastruktur, tapi bukan berarti Tanjung Pinang tidak bisa berlari cepat dalam koridor yang sesuai kapasitasnya. Evaluasi pembangunan harus berbasis pada indikator rasional, bukan analogi satwa.”

Editor, Angcel

Sumber, Mardy