𝗣𝗲𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗛𝗮𝗷𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗲𝗿𝗴𝗮𝗻𝗷𝗮𝗹: 𝗖𝗵𝗶𝗸𝗶 𝗙𝗮𝘄𝘇𝗶 𝗗𝗶𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗕𝗲𝗿𝗷𝘂𝗮𝗻𝗴?

LPKAPNEWS.COM - Dunia perhajian kita di tahun 2026 ini nampaknya sedang mengadopsi naskah drama yang lebih pelik ketimbang urusan antrean air zam-zam. Bayangkan saja, Chiki Fawzi, yang kita tahu dedikasinya melampaui sekadar menjalankan tugas mendadak dicopot dari posisi petugas haji tanpa alasan yang terang benderang. Petinggi Kementerian Haji seolah sedang bermain tebak-tebakan logika; mereka melempar keputusan ke publik, lalu membiarkan kita semua tenggelam dalam spekulasi sementara mereka asyik bersembunyi di balik kalimat "evaluasi internal" yang rasanya lebih hambar daripada bubur katering yang telat datang.
Padahal, bicara soal haji adalah bicara soal "panggilan", sebuah konsep yang sering kali dikangkangi oleh birokrasi yang merasa punya kuasa setara panitia kiamat. Kita semua tahu kisah legendaris tentang seorang tukang sol sepatu yang gagal berangkat secara fisik namun namanya disebut paling mabrur oleh langit karena uang tabungannya ia berikan untuk tetangga yang kelaparan. Itu adalah panggilan yang murni, yang tidak butuh stempel basah dari pejabat yang kursinya masih bau pabrik. Ada juga kisah nenek pencari barang bekas yang menabung puluhan tahun, yang ketika tiba di tanah suci, ia tidak bertanya mana hotel bintang limanya, melainkan mana sajadahnya. Panggilan-panggilan ini bersifat vertikal, tidak bisa diganggu gugat oleh SK atau disposisi manusia yang sedang merasa penting.
Namun, di tangan kementerian, panggilan suci ini kadang dikemas dalam kotak-kotak birokrasi yang menyesakkan. Pencopotan Chiki Fawzi tanpa alasan jelas ini seperti menunjukkan bahwa di mata para petinggi, menjadi petugas haji itu lebih mirip kursi jabatan yang bisa digeser sesuka hati daripada sebuah amanah pengabdian. Jika seorang yang punya rekam jejak tulus saja bisa didepak tanpa transparansi, kita jadi bertanya-tanya: apakah "panggilan" yang mereka maksud adalah panggilan untuk melayani jamaah, atau sekadar panggilan untuk mengamankan kepentingan lingkaran sendiri? Jangan sampai nanti ada jamaah yang sudah susah payah menjual tanah demi memenuhi panggilan Tuhan, malah harus berurusan dengan sistem yang lebih peduli pada ego struktural ketimbang pelayanan emosional.
Lucunya, transparansi di lembaga ini seringkali segaib malaikat maut; datang tiba-tiba tanpa salam, membawa kabar duka bagi karir seseorang tanpa memberi waktu untuk bertanya "kenapa?". Kita merindukan masa di mana kebijakan publik tidak dibuat seolah-olah sedang berbisik-bisik di pojok kantin. Jika alasan pencopotan itu memang demi kebaikan jamaah, seharusnya ia bisa dipaparkan dengan gagah, bukan dengan gerakan tutup mulut yang membuat publik curiga ada udang di balik kain ihram. Pada akhirnya, Chiki mungkin tidak kehilangan panggilannya untuk berbuat baik, tapi kementerian jelas sedang kehilangan kepercayaan publik yang sudah tipis itu.
𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐢𝐥 𝐑𝐚𝐜𝐡𝐦𝐚𝐧
𝐃𝐢𝐫𝐞𝐤𝐭𝐮𝐫 𝐊𝐀𝐋𝐀𝐌 (𝐊𝐚𝐣𝐢𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐠𝐚𝐦𝐚 𝐌𝐨𝐝𝐞𝐫𝐧)