LPKAPNEWS.COM - Sebentar lagi kelompok oposisi akan pecah, usai sebagian bertemu dengan Presiden Prabowo di Kertanegara. Awalnya pertemuan itu diumumkan pelan-pelan oleh Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, kini diumumkan langsung oleh M. Said Didu, saat jadi pembicara dalam acara bertajuk, Merebut Kembali Kedaulatan Rakyat.
M. Said Didu mengklaim bahwa apa yang sedang
diperjuangkannya sama dengan apa yang sedang diperjuangkan Presiden Prabowo.
Bedanya ia dari luar, sementara Presiden Prabowo dari dalam. Ia merasakan
dorongan dari luar tak kalah pentingnya dibandingkan dari dalam. Kedaulatan
negara kita sudah lama tergadai. Katanya.
M. Said Didu juga menyadari bahwa yang menjual atau
menggadaikan kedaulatan Indonesia ini tak hanya pejabat, mantan pejabat,
aparat, mantan aparat, pengusaha hitam, oligarki, dan termasuk juga aktivis
LSM. Makanya saya katakan di atas bahwa sebentar lagi kelompok oposisi lain
yang berbeda kepentingan akan segera menyerangnya.
Jadi, tak hanya para pendukung dugaan ijazah palsu yang
berhasil dipecah, tapi juga oposisi pun akan berhasil dipecah. Oposisi yang
bukan untuk kebaikan, melainkan oposisi yang memang ingin bangsa ini selalu
lemah. Bahkan, M. Said Didu sudah siap disebut Terwok, Ternak Wowok, untuk
membedakan dengan Termul, Ternak Mulyono.
Mungkin benar juga kata Refly Harum, kalau Presiden masih
Jokowi saat ini, maka Roy Suryo Cs sudah lama selesai. Tapi karena Presidennya
Prabowo, maka kendati sudah berstatus tersangka, tapi Roy Suryo Cs tak kunjung
juga ditahan. Katanya, jaksa sudah keluarkan P19 terhadap berkas yang
sebelumnya dilimpahkan penyidik.
Saya termasuk yang berhati-hati dalam menilai, apalagi
bersikap dalam situasi seperti saat ini. Heroisme yang dikobarkan Jokowi di
Makassar, diantisipasi oleh pertemuan kelompok oposisi terbatas oleh Presiden
Prabowo di Kertanegara. Bahkan, Jokowi pun tak kunjung diumumkan sebagai Ketua
Dewan Pembina PSI, entah kenapa?
Termasuk, menilai situasi global pun, saya juga
berhati-hati. Kita memang tak secerdas ustaz Felix Siauw, yang menyerocos marah
karena Indonesia masuk Board of Peace. Banyak sekali yang ia sampaikan dan itu,
tidak ada yang salah. Tapi ia sendiri tahu bahwa Indonesia itu sangat lemah.
Dan bisa jadi, karena sangat lemah itulah Presiden
Prabowo mengambil langkah bergabung dengan Board of Peace. Sebab, tak ada juga
yang bisa dilakukan kalau Indonesia berada di luar. Istilah M. Said Didu,
Kedaulatan Kita sudah lama Terjual, dan Presiden Prabowo, seperti kata M. Said
Didu, berada di depan untuk mengembalikannya.
(Redaksi)
